06. Perihal Kucing

6.3K 684 14
                                        

Jangan lupa buat ninggalin vote sama komen nya ya manteman °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa buat ninggalin vote sama komen nya ya manteman °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°

🌙🌙🌙

Sambil menenteng sebungkus seblak ditangan kanannya, Afkar mulai membuka pintu rumah perlahan. Gelap, tumben sekali, bukan kah Afika sangat takut dengan gelap?

Langkahnya berjalan menuju saklar dengan niat untuk menyalakan lampu ruangan tersebut.

Ctikk!

Tak ada siapa-siapa. Kepalanya pun mendongak ke atas, memperhatikan ke arah pintu kamar yang tertutup rapat, perasaan Afkar seketika menjadi tak karuan.

Ia pun menaruh tas jinjing dan plastik seblak tersebut diatas meja, lalu bergegas berlari kecil menaiki satu-persatu anak tangga menuju lantai dua.

Brakk!!

Tanpa mengetuk, Afkar pun berniat untuk mendobrak pintu tersebut. Namun, tubuhnya sontak terhuyung ke depan hampir terjatuh karena rupanya, pintu tersebut tidak dikunci oleh sang istri.

"Gak dikunci, ngapain gue dob.. Rak, astaghfirullahal'adzim.. Ini kok? Ya Allah kenapa berantakan banget, sih!? Afika!! Lo dimana!?" suaranya terdengar menggema di seluruh ruangan.

Bagaimana tidak terkejut, jika Afkar yang baru saja pulang tiba-tiba dikejutkan oleh keadaan kamar yang sangat berserakan.

Selimut teracak dilantai, serpihan-serpihan kaca dari vas bunga yang pecah, bantal ada dimana-mana hingga tersangkut di belakang TV yang menggantung di dinding, serta gorden yang terbuka lebar. Namun nyang jadi pertanyaan baginya, dimana gadis bernama Afika itu berada?

Afkar pun kembali berteriak memanggil-manggil sang istri. Satu kali, gadis itu masih tidak menampakkan batang hidungnya, panggilan yang kedua, masih sama. Hingga yang ketiga,

"Fik, jangan main-main loh, Fik! Lo dimana!?"

Dugg!

"Aduh!"

Atensi Afkar sontak berbalik menatap meja yang ada dibelakangnya, kemudian ia berjongkok memastikan siapa yang ada disana. Rupanya, itu adalah seseorang yang sedaritadi ia cari keberadaannya.

Afika mengusap kepalanya pelan sambil meringis kecil. Setelah itu, ia pun mendongak menatap Afkar yang berekspresi datar. Sepertinya sebentar lagi pria itu akan marah besar, Afika hanya bisa pasrah dengan menelan saliva nya kasar.

"Keluar, cepet." Tutur Afkar dingin.

Gadis itu menurut, perlahan ia keluar dari bawah meja lalu berdiri disamping Afkar sambil menunduk dan memainkan jari-jemarinya.

"Kenapa kamar bisa berantakan kayak gini? Terus, lo ngapain coba ngumpet disitu?" pria itu bertanya sembari memasukkan kedua tangannya disaku celana.

"Gue takut."

Pasutri Bobrok [ END✔ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang