24. Bukan Tandingannya

5.3K 609 42
                                        

Jangan lupa buat ninggalin votement nya ya manteman^^

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jangan lupa buat ninggalin votement nya ya manteman^^

Jangan jadi silent readers loh ya (●′ω'●)

🌙🌙🌙

Suasana langit siang ini nampak cerah, matahari condong memanasi bumi diatas sana. Seperti biasa, seusai sholat zuhur Afkar mengadakan meeting bersama karyawannya nya.

Pria itu pun kembali setelah selesai, berjalan menuju ruangannya. Namun, seketika langkahnya terhenti tatkala mendegar sebuah panggilan dilorong itu.

Perlahan badannya berbalik, memperlihatkan seorang Karin yang berjalan menghampirinya dengan senyuman ramah.

Afkar tak peduli, ia pun kembali berbalik dan melangkah memasuki ruangan bernuansa putih tersebut.

Krieet..

"Permisi, Pak." Sapa Karin yang berdiri di belakangnya.

Langkah Afkar seketika berhenti, ia berbalik menatap Karin dan bertanya terpaksa, "ada apa?"

Matanya yang menunduk seketika tercengang pada sebuah kotak makan berwarna ungu ditangan gadis itu.

"Maaf, Pak. Jadi saya bikin kue, udah saya bagiin ke karyawan lain dan ini khusus buat Bapak," Karin berujar.

Afkar pun mengambil kotak yang diberikan Karin tersebut lalu berucap terima kasih dengan wajahnya yang datar.

Setelah itu, bergegas Afkar kembali melangkah ke tempat duduknya. Sementara Karin? Setelah ia keluar dari ruangan itu, ia sontak menjerit kecil karena merasa bahagia makanannya sudah diterima dengan senang hati.

Ia pun akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi kembali ke bawah dan fokus pada pekerjaannya.

***

"Bagusan yang mana, Fik? Dress satu, dua atau yang tiga?" tanya Annisa pada Afika yang tengah duduk di depannya.

Gadis dengan satu kaki yang ditekuk itu menatap sang teman sambil memakan cemilan. Ia merasa kebingungan karena ketiga gaun pengantin itu terlihat sangat bagus.

"Bingung gue, Nis. Zen, menurut lo bagusan yang mana?" Afika malah melempar pertanyaan tadi kepada Zen yang duduk di seberangnya.

Pria berhoodie putih itu menatap Annisa yang berpaling menghadapnya dengan senyuman manis.

"Gue.. Pilih dress nomer 2 aja lah." Ucap Zen.

"Tapi kalo urusan mekar sih gue milih yang satu," Afika menimpali.

"Bener, Fik. Dekorasinya juga nuansa putih kan?"

Pasutri Bobrok [ END✔ ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang