06. Minimarket

26 8 27
                                    

Typo bertebaran dimana-mana.
Hai aku update lagi, wkwkwk. Gimana kabarnya hari ini? Sehat kan?



Selamat membaca~

Pria paruh baya itu terus saja berjalan cepat, tanpa memperhatikan banyaknya orang yang berlalu lalang di sana.

Pandangannya lurus ke depan, kakinya terus berjalan cepat. Pikirannya berkecamuk sekelebat bayangan masa lalu penuh di pikirannya.

Dion menghentikan langkahnya di depan mobilnya, ia segera memasuki mobil itu. Beberapa detik kemudian mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.

Di lain sisi. Bagas menatap kepergian dion, Sahabat lamanya.

Bagas merasa bersalah, waktu yang kurang tepat untuk membicarakan tentang itu. Bagas berharap waktu akan menjawab semuanya.

Bagas yang ingin mengejar Dion tetapi sudah terlambat. Sebenarnya ini sebuah kesempatan untuk bertemu dengan Sahabat lamanya itu. Sahabat yang telah lama menghilang darinya.

Bagas berbalik dan berjalan gontai, ia menyusuri sebuah taman yang menjadikan saksi bisu persahabatannya bersama Marvin, Dion, dan yoga.

Bagas menarik napas dalam-dalam guna dirinya agar tidak menangis. Bagas yang masih mengenakan pakaian ala perkantoran itu berjalan gontai, dan perlahan tubuhnya menghilang dan tertutup oleh banyaknya orang berlalu lalang di taman itu.

***

"Pak mamat!"

"Iya non ada apa?" Tanya tukang kebunnya.

"Tolongin Elsa, ada kecoa di bawah sana" pak mamat sedikit syok karena Elsa berada di atas meja makan. Dan pak mamat menepuk jidatnya.

"Aduh non, pak mamat kira ada apa" pak mamat mulai berjalan mendekati meja makan tersebut. Di bawah meja makan tersebut ada satu ekor kecoa.

Pak mamat mengambil sapu ijuk, dan dengan kelincahan pak mamat kecoa itu berhasil di musnahkan.

"Pak mamat kecoa nya udah mati?" Tanya elsa sembari mendongakkan kepalanya kebawah meja makan.

"Udah non, aman terkendali" pak mamat berjalan menuju pintu keluar, ia menentang kecoa tersebut.

Elsa mulai turun perlahan dari meja makan tersebut. Dan Elsa mendudukkan dirinya di sebuah kursi. Ia menatap kearah dapur, terlihat bi Santhi sedang mempersiapkan makan malamnya.

Elsa memilih untuk pergi keluar rumahnya, ia menatap keadaan luar rumahnya dalam keadaan bersih. Melihat pak mamat, Elsa jadi teringat papanya, papanya yang super aktif dan menyukai tumbuhan.

Elsa hanya mendesah pelan dan memalingkan wajah ke sembarang arah.

Ternyata sudah pukul tujuh, entah kenapa matahari enggan untuk tenggelam dan masih memancarkan sinarnya.

Elsa berbalik dan masuk kedalam rumahnya.

***

Pria paruh baya itu memasuki rumahnya dengan tatapan memburu. Air mukanya terlihat buruk.

Dion melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya, anak-anaknya mungkin saja berada di kamar miliknya masih-masing.

RAHASIA [ Selow Update ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang