20. Gio berulah lagi.

11 4 14
                                    

Hai aku update lagi, jangan lupa tinggalkan jejak anda berupa coment dan vote ya.




Selamat membaca~

Elsa sedang duduk termenung di balkon rumahnya, ia masih tak percaya atas apa yang di ucapkan Arion. Pemuda itu mengatakan bahwa ia tidak sanggup di jauhi olehnya.

Sesekali ia menghembuskan napasnya pelan, bayang-bayang Arion Yeng memeluknya tadi siang itu masih berkeliling di otaknya.

"Gue kenapa?" Tanyanya pada dirinya sendiri, sedikit ada rasa bersalah pada Arion. Tapi ia tidak tau pasti siapa yang benar dan siapa yang salah.

Elsa berjalan menuju ranjangnya, matanya tidak sengaja melihat Boneka beruang berwarna merah yang di belikan oleh Arion beberapa hari yang lalu.

Lalu gadis berpakaian kaus oblong berwarna putih dan celana jeans itu pergi menuruni tangga.

"Bi Elsa mau keluar dulu ya" bi santhi yang awalnya membereskan meja makan kini menoleh, "mau kemana?" Tanya wanita yang mengenakan daster itu.

"Mau jalan-jalan bentar" ucapnya lalu ia pergi meninggalkan bi santhi.

***

"Akhirnya Lo Dateng juga"

Dua orang cowok sama-sama bersurai hitam itu menatap nyalang. Taman yang seharusnya tempat untuk orang berbahagia, tidak bagi kedua orang itu.

"Mau apa lo?" Tanya Arion, cowok bersurai hitam itu menatap Gio dengan sangat tajam selayaknya parang.

Gio hanya tertawa meremehkan, "Lo lupa sama apa yang gue ucapin?" Lalu pemuda itu menatap manik coklat Arion.

"Gue gak ada hak buat nyakitin dia"

"Owh jadi Lo ngebantah gue?"

"Lo tau gak? lo itu kaya benalu, datang dan merugikan orang lain. Jadi mending Lo pergi jauh-jauh dan jangan pernah ganggu gue lagi!"

Gio mengeraskan rahangnya, ia menjadi jengkel dan ingin segera memberikan satu Bogeman di wajah Arion.

"Sebelum gue pergi, gue harus dapetin dia dulu" gio menaikkan satu alisnya dan kemudian ia tertawa kecil.

"Oh satu lagi, lo liat gak tanda merah di leher Elsa?"

Seketika rahang Arion mengeras dan tangannya mulai terkepal kuat-kuat.

Gio tertawa sebentar, "itu tanda kepemilikan gue"

"SIALAN!!" Umpat Arion.

Bugh!!


"Atas dasar apa Lo berani nyentuh dia hah?!"  Arion melayangkan satu Bogeman di rahang mulus Gio, sehingga pemuda bersurai hitam itu tersungkur jatuh karena kerasnya pukulan Arion.

"Lo udah keterlaluan jadi orang!"

Arion menduduki perut gio tangannya mencengkram erat kerah baju gio.

"Lo kenapa? Gak terima?" Gio semakin menjadi-jadi, Arion merasa jengkel dan muak.

Buagh!!

"Lo itu gak pantes buat dia" Arion melayangkan satu pukulan lagi di rahang kiri gio.

Dugh!

Buagh!

Arion semakin brutal, ia seperti orang kesurupan. Di sudut bibir gio mengeluarkan darah segar, tetapi pemuda yang telentang di bawah itu hanya tersenyum.

"Lo gak berpikir hah?"

"Berpikir apanya?" Ucap gio.

Bugh!!


Sekali lagi Arion melayangkan satu pukulan keras di wajah tampan gio. Kini pemuda itu sepertinya sedang mengatur napasnya.

Tetapi anehnya, gio tidak melawan sama sekali.

"Lo mau ngelindungin anak pembunuh?"

***

Bugh!

Elsa mendengar suara seseorang yang sedang dipukul, awalnya Elsa tidak peduli dan melangkah kakinya menuju sebuah kursi taman.

Tetapi suara itu semakin menjadi-jadi dan meresahkan. Elsa memutuskan untuk mencari sumber suara itu.

Betapa terkejutnya ia saat melihat gio yang terkapar lemas di bawah sana, sedangkan Arion masih memposisikan dirinya di atas perut gio.

"RIO! KAMU APA-APAAN SIH?!" 

Arion menolehkan kepalanya ia tidak percaya atas apa yang ia lihat saat ini. Seorang Elsa datang dan mendorong bahunya keras.

"Gue-"

"Cukup! Gue udah percaya sama Lo dan Lo berulah lagi? Gue bener-bener benci sama Lo!" Elsa Melontarkan kata-katanya, Arion hanya bisa menatap wajah cantik Elsa.

"Gue gak bermaksud buat-" ucapan Arion terpotong.

"Jangan pernah muncul di depan wajah gue lagi, ngerti Lo?" Elsa menunjuk wajah arion dengan telunjuknya.

Kemudian Elsa membantu gio berdiri, wajahnya kini semakin banyak luka-luka, Elsa menatap sendu kearah gio.

Lalu Elsa yang menuntun gio itu pergi meninggalkan Arion yang mematung di sana.

Jika saja ia tidak terlalu gegabah untuk memukul cowok sialan gio itu maka tidak akan terjadi seperti ini.

Tetapi ucapan terakhir gio masih menjadi pertanyaan di otaknya, kenapa gio mengatakan bahwa Elsa anak pembunuh. Jelas-jelas kedua orang tua Elsa meninggal.

"Sial" umpat Arion lalu pemuda itu meludah ke sembarang arah.

Ini sangat sulit di pecahan.

.
.
.
.
Bersambung....
.
.
.
.

Hai gais, segitu aja dulu ya besok-besok aku update lagi deh, btw ini sudah memasuki part konfliknya ya, wkwkwk.

Jangan lupa vote sama coment nya ya. Tinggalkan jejak❤️

See you next part ❤️


RAHASIA [ Selow Update ]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang