Chapter Thirty Four

1.7K 211 4
                                        

" Kau sudah menyiapkan semuanya kan? "

" Tentu saja, semua sudah beres dan hanya menunggu waktu pernikahan tiba "

" Hahahhahhaha lakukan itu dengan baik Suho-ya "

Paginya, sekitar pukul sembilan pagi, Seulgi sudah berada di rumah sakit untuk menemui Jimin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Paginya, sekitar pukul sembilan pagi, Seulgi sudah berada di rumah sakit untuk menemui Jimin. Jimin sendiri begitu terkejut saat Seulgi menelponnya dan mengatakan jika ia sudah berada di rumah sakit untuk menemuinya.

Seulgi menuntut penjelasan.

Jimin menghela nafas dan ia siap siap saja untuk menjelaskan semuanya tapi bagaimana dengan Rose nanti, bukankah gadis itu tidak ingin kejadian yang kini sudah berlalu sembilan tahun itu diketahui oleh para saudaranya terlebih lagi jika Seulgi dan Lisa.

Jimin menelpon Jaehwan untuk memberitahukan hal ini pada Rose dan Jaehwan bilang, Rose tidak perlu tahu, sudah saatnya untuk mengungkap kebenaran dan di saat yang bersamaan Jaehwan berada di kantor polisi untuk mengurusi masalah ini sebentar sebelum akhirnya kembali ke perusahaan.

Itu benar, sudah saatnya kebenaran terungkap.

" Kau yakin? " Tanya Jimin memastikan, dirinya masih tidak yakin. Karena ia tahu ini akan menyakiti perasaan Rose.

" Beritahu saja tapi jangan semuanya nya, sekalian saja kau bilang pada Seulgi untuk segera meminta maaf pada Rose karena sikapnya kemarin, ah iya tolong sampaikan padanya juga jika Rose sudah semakin tidak sehat "

Jimin menghela nafas " Arrasoe aku akan memberitahu ini nanti padanya, aku harap dia mau membujuk Rose untuk melakukan cuci darah. "

" Apa tidak ada cara lain selain itu, maksudku proses penyembuhan Rose " Tanya Jaehwan di seberang sana.

" Tentu saja ada, kita perlu satu ginjal yang sehat dan cocok dengan Rose untuk melakukan translasi "

Di seberang saja Jaehwan menyertakkan giginya, merasa sangat putus asa tentang kesehatan Rose yang setiap hari semakin menurun.

" Oh ya sekalian tolong buat dia minum obatnya "

" Sudah ku pastikan, kau tenang saja "

" Ya sudah kalau begitu, aku tutup dulu, Seulgi sudah berada di depan ruanganku "

Sambungan terputus secara sepihak karena Jimin langsung memutuskan sambungan telponnya saat Seulgi membuka pintu ruangannya.

" Maaf menganggu mu Jim, apa kau sibuk "

Jimin meletakkan handphonenya sembari tersenyum ramah pada Seulgi, Jimin hanya mencoba bersikap biasa saja agar tidak terlihat nervous dihadapan Seulgi.

" Tidak, jadwal pemeriksaan pasien sudah kulakukan tadi, jadi aku tidak sibuk sekarang. "

Seulgi mengangguk lalu berjalan menuju kursi yang tersedia di hadapan meja Jimin dan duduk di sana, jujur rasanya sedikit canggung karena Seulgi masih teringat akan kejadian saat Jimin tidak sengaja mengatakan penyakit yang di derita Rose tanpa menyadari kehadirannya.

CousinsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang