"Tidak ada keluarga yang sempurna. Terkadang kami berdebat, berkelahi, bahkan satu waktu berhenti berbicara satu sama lain. Namun pada akhirnya, keluarga tetaplah keluarga, dimana cinta akan selalu ada."
Seulgi menangis, karena hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini, menangisi keadaan yang mempermainkannya hingga membuatnya hancur bagaikan vas yang di lempari dengan batu besar.
" Hiks... Rose-ya mianhea. "
Seulgi menggenggam tangan Rose dan tangan satunya lagi mengusap pipi Rose. Wajah Rose tampak begitu tenang dan damai dalam tidurnya tapi itu membuat Seulgi sangat kesakitan saat melihatnya.
" Apa kau begitu marah padaku Rose, sampai sampai kau menghukum ku dengan begitu berat. Hiks... kau tahu? rasa penyesalan ini sangat sakit untuk aku rasakan. "
Sebenarnya bukan Rose yang menghukum Seulgi tapi beginilah cara dunia menjalankan tugasnya. Awalnya kau akan dibuat baik baik saja namun secara perlahan dunia akan mulai membunuhmu dan mengajakmu untuk bercanda dengan berpura pura untuk terlihat baik baik saja di hadapannya.
Di luar sana, Jisoo terus terusan mengawasi Seulgi dari balik kaca besar yang menjadi penghalang kamar ICU dengan ruangan ICU yang sebenarnya. Jisoo menangis, merasa sedih dengan apa yang terjadi sekarang, membuatnya melupakan rasa kantuk yang sedari tadi menyerang.
Ini sudah pukul setengah empat subuh, siapa yang tidak akan mengantuk jika begadang hingga pukul segitu.
Soekjin yang melihat kekasihnya yang bersedih turut merasakan sedihnya. Kenapa Soekjin ada di sini? itu karena Jaehwan yang meminta untuk datang ke rumah sakit untuk mengawasi Seulgi dan Jisoo, juga menjaga Rose selama pria itu pergi.
Lalu kemana perginya Jaehwan? Pria itu sedang berada di kantor polisi, lagi!! Ini karena dirinya akan diminta keterangan sebagai saksi yang juga mengetahui insiden pembunuhan Yoona dan juga Jaehwan perlu mengetahui sesuatu yang telah di temukan oleh detektif yang terjun langsung ke TKP, yang tak lain detektif itu adalah kakak pertama dari Soekjin.
" Jisoo-ya sebaik aku mengantarmu pulang!! ajak Seulgi noona pulang, kalian butuh istirahat untuk menjaga Rose nantinya "
Jisoo menggelengkan kepalanya, pertanda ia tidak mau.
" Aku tidak ingin pulang Soekjin-ah, aku akan tetap di sini untuk mengawasi mereka!! "
Terserah saja.
Soekjin lelah untuk membujuk maka dari itu pria ini memutuskan untuk pergi, melihat kepergian Soekjin, Jisoo hanya melirik kepergian pria itu kemudian menghela nafas.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Apa yang harus Lisa lakukan sebenarnya, jika segala keperluannya sudah di atur di sini, namun hanya karena masalah, seorang gadis lucu menangisi keadaan yang tak pernah berpihak padanya.
Lisa tidak pernah menutup matanya agar menuju alam bawah sadarnya, tetapi Lisa justru menjaga kesadarannya agar ia tidak tertidur, Lisa hanya tak ingin Rose datang ke mimpinya dan membuatnya merasa bersalah. Padahal itu belum tentu terjadi.
Lisa mengambil handphone nya, melihat jam sudah menunjuk kan pukul lima pagi namun dirinya belum juga tidur, Lisa tampak berfikir sejenak. Bagaimana jika ia olahraga saja, mungkin dengan melakukan lari subuh begini dapat membuatnya mendapatkan pikiran jernihnya.
Dengan segera Lisa beranjak dari tempatnya, pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka nya dan mengosk gigi nya. Setelah itu barulah ia mengganti piyama yang digunakannya dengan pakaian sport biasa yang sering ia gunakan jika ingin berolahraga.
Saatnya pergi, Lisa tak lupa mengambil handphone dan earphone miliknya sebelum pergi karena kedua benda itu akan menjadi temannya saat berlari nanti.
" Let's go Lisa!! "
Lisa berlari hingga menuju taman dengan mendengarkan musik dari earphone nya. Disaat yang bersamaan Lisa teringat akan Rose saat mereka masih tinggal di Melbourne, kembarannya itu sangat suka melakukan lagi subuh.
ternyata rasanya menyenangkan, ada banyak ketenangan dan rasanya sejuk. Lisa tersenyum tipis, berfikir jika ia akan berjalan jalan setelah lari suhunya di tangan nanti hingga menjelang pagi.
Pagi menjelang, semua orang yang ingin berolahraga di taman ataupun sekedar berjalan jalan sudah mulai berdatangan, disaat yang bersamaan Lisa juga sudah merasa lelah karena terus berlari dan berjalan tadi. Maka dari itu Lisa memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum pulang.
" Hey Lisa. " Seseorang menyapa.
Spontan Lisa langsung mempengaruhi dan mendapati Bangchan. Tanpa berkata apapun Lisa langsung menggeser tubuhnya dan mempersiapkan Bangchan untuk duduk disebelah di sebelahnya.
" Lama tak bertemu, bagaimana kabar mu "
Lisa terkekeh. " Kita jarang bertemu tapi kau selalu mengirim pesan padaku untuk menanyakan kabar? Sekarang apa kau ingin menanyakan hal yang sama padahal tahu aku akan menjawab apa"
Bangchan mengusap tengkuk lehernya yang tidak gatal "Yah... aku hanya ingin sekedar basa basi denganmu"
Lisa terkekeh.
"ngomong-ngomong kau akan lanjutkan study mu dimana?"tanya Bangchan
Lisa tampak berfikir, ia tidak pernah memikirkan hal ini.
"memangnya kau akan melanjutkan study mu dimana?"
Bangchan langsung menatap wajah Lisa, tersenyum lebar pada gadis itu, menandakan lelaki itu bahagia, Lisa bertanya-tanya kenapa lelaki itu tersenyum dan menatapnya seperti itu.
"Lisa-ya gomawo"
Lisa menyerngit bingung "kenapa kau berterima kasih padaku"
"kau tahu, berkatmu aku diterima di universitas internasional Seoul dan ayahku tidak jadi mengirim aku kembali ke Berlin. Semuanya berkat dirimu"
Lihat betapa beruntungnya lelaki itu sedangkan Lisa sedang menangisi keadaan.
Lisa tersenyum tipis "Ini semua bukan berkat diriku, tapi kaulah yang mendorong dirimu untuk bangkit, makanya kamu mendapat hasilnya sekarang"
Bangchan tersenyum lagi, ah dia benar-benar jatuh hati pada gadis berponi itu.