"Tidak ada keluarga yang sempurna. Terkadang kami berdebat, berkelahi, bahkan satu waktu berhenti berbicara satu sama lain. Namun pada akhirnya, keluarga tetaplah keluarga, dimana cinta akan selalu ada."
Seulgi menatap tubuh Rose yang sedang terbaring lemah di atas kasur, wajah gadis itu terlihat damai dan jujur, Seulgi tidak pernah melihat wajah adiknya yang satu ini se damai yang ia lihat sekarang.
Helaan nafas terdengar, sudah hampir tiga puluh menit ia seperti ini, hanya berada di kamar Rose dan mengamati wajah adiknya itu.
" Eunggg " Rose meringkuk di atas kasurnya dan perlahan membuka matanya
" Kau bangun, bagaimana perasaan mu "
Rose menoleh, ia sedikit terkejut melihat keberadaan eonninya, tapi tak butuh waktu lama hingga ia menetralkan rasa terkejutnya itu. Rose memijat pelipisnya, rasa pusing melandanya saat ini, dan Rose tahu itu tapi ia masih berusaha mengingat apa yang terjadi dengannya semalam.
Hahh___ Rose menghela nafas lelah, ia ingat sekarang, jika kemarin, ia lari dari kejaran bodyguard appanya yang memaksa ia kekantor untuk bertemu dengan klien gila yang ingin membelinya. " Pria brengsek!! " Rose mengumpat, ini pasti ulah appanya.
Pintu terbuka dan Wendy datang dengan membawa nampan berisi mangkok bubur dan segelas air hangat untuk Rose. Seulgi menoleh dan menatap Wendy, begitupun dengan Rose, tetapi Rose menatap Wendy lebih datar.
" Kenapa kalian ada di sini "
" Yak!! seharusnya kau bersyukur ada Wendy disini, dia yang menemukanmu pingsan di pinggir taman, jika tidak ada dia, mungkin kau sudah hilang entah kemana "
" Yah, aku tahu itu "
Rose memalingkan wajahnya, ia tidak ingin matanya yang memanas dilihat Wendy dan Seulgi. Ia tidak ingin terlihat lemah, walaupun kenyataannya ia tahu, ia sangat lemah.
" Bisakah kalian pergi dari kamarku, aku ingin istirahat sekarang "
Wendy memutar bola matanya jengah, ia meletakkan nampan yang ia bawa di atas nakas lalu pergi, disusul Seulgi di belakangnya dan sekarang tinggal Rose lah sendiri di dalam kamar.
Rose memejamkan matanya, bayang bayang kejadian tadi siang benar benar membuatnya ingin lenyap saja dan menghilang dari bumi, kepalanya sakit saat ia semakin memikirkan dirinya dan bolehkah ia mati saja untuk mengakhiri ini. Ia benar benar lelah.
Rose menangis, ia menyumpal mulut dengan selimut dan berteriak sekencangnya. Ia benar benar lelah dan boleh kah ia meminta seseorang untuk datang padanya ketika di saat seperti ini jika dunia tidak membiarkannya mati. Boleh kah ia mendapatkannya
" Eomma aku lelah "
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi ini, Rose menatap pantulan dirinya di cermin, tersenyum miris saat melihat matanya sedikit bengkak karena menangis tadi malam. Tangan Rose meraih alat make up nya dan menghiasi wajahnya agar tidak terlihat sesuatu yang mencurigakan pada wajahnya.
Merasa puas, Rose segera mengambil tas sekolahnya dan keluar dari kamar, ia harus sarapan pagi ini karena mengingat ia tidak memasukkan apapun ke perutnya.