Entah angin apa yang membuat Jungkook terbangun lebih dulu dari Lisa pagi ini. Ia terbangun sudah lebih 10 menit dan ia masih setia memandangi wajah Lisa yang sangat tenang dan damai saat ia tidur. Pikirannya kembali mengingat pembahasan mereka semalam sebelum mereka tertidur.
Jungkook mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Lisa dan mengelusnya dengan pelan agar Lisa tidak terbangun dengan elusan darinya. "Aku mau izinin kamu pergi tapi aku juga ga bisa jauh dari kamu." Ujar Jungkook dengan nada lirihnya.
Jungkook mendekat lalu memeluk Lisa dan masih menatap wajah Lisa yang tengah tertidur dengan tenang. "Selama ini aku udah egois karna ngatur kamu ini-itu, sekarang bisa ga aku egois lagi buat nahan kamu disini?" Mata Jungkook mulai berkaca-kaca lagi dan berakhir dengan tetesan air matanya yang sudah keluar dari pelupuk matanya.
"Aku ga bisa bayangin gimana hari-hari aku tanpa kamu disini, aku udah biasa di peluk sama kamu sebelum tidur, aku udah biasa kalo aku bangun tidur trus liat kamu disamping aku. Aku udah biasa semuanya yang berkaitan tentang kamu, aku masih kaget denger kamu mau pergi kuliah di London, ini berita yang bener-bener bikin aku kaget dan tiba-tiba banget." Jungkook memeluk Lisa dengan erat dan mata yang sudah sembab akibat menangis dan sesenggukan.
"Aku takut kamu bakal ketemu sama cowo yang lebih sempurna dari aku, Sa. Aku takut itu."
Pergerakan kecil dari Lisa terlihat, ia merasakan sebuah tangan kekar yang sudah biasa memeluknya ketika ia bangun tidur namun yang menjadi fokus Lisa sekarang ia merasakan lehernya sedikit basah karena biasanya ia hanya akan merasakan lehernya deru nafas hangat dari Jungkook ketika tidur tapi mengapa sekarang berbeda. Ah, ternyata Jungkook sedang menangis.
"Kenapa?" Tanya Lisa dan sedikit memiringkan tubuhnya agar bisa membalas pelukan Jungkook yang masih belum terlepas.
Jungkook menggelengkan kepalanya pelan dan memeluk Lisa lebih erat takut gadisnya akan pergi jauh darinya dan sialnya itu akan terjadi diwaktu dekat ini.
"Mikirin yang semalam, hem?" Tebak Lisa.
Jungkook diam tidak menjawab.
"Hei, dengerin aku-" Lisa memegang kedua sisi pipi Jungkook agar melihat kearahnya dan menghapus sisa air matanya bahkan matanya memerah karena menangis. "Disana aku kuliah, aku ga bakal lupain kamu disini, aku juga ga bakal cari pacar lagi disana."
"Kuliah emang lama dan kita kuliah beda Negara. Tapi aku juga ga bakal cari cowo disana karna aku tau apa yang kamu takutin. Kamu takut aku nyari yang lebih sempurna dari kamu, 'kan?"
Jungkook mengangguk.
Lisa tersenyum sebentar dan melanjutkan kata-katanya. "Kamu udah sempurna kok, ngapain lagi aku nyari cowo disana, hm?" Lisa mencubit pelan hidung mancungnya dan kembali menatap Jungkook yang masih enggan membuka suaranya.
"Tapi..."
"Ga ada yang perlu di khawatirin, kamu jaga diri baik-baik disini dan aku bakal jaga diri aku baik-baik disana. Selain ga bisa ngebantah perintah Papa, aku juga mau ngejer cita-cita aku. Kamu Taukan cita-cita aku apa?"
Jungkook lagi-lagi menganggukkan kepalanya. Karena tempo hari mereka membahas cita-cita mereka dan Lisa menginginkan menjadi model yang terkenal, yang disayangi banyak orang dan mendapat support dari para penggemarnya ketika berhasil menjadi model nanti dan Jungkook yang ingin menjadi seorang CEO terkenal lewat jerih payahnya sendiri.
"Nah, itu. Jadi ga usah khawatir lagi, ya." Lisa mengelus rambut Jungkook dengan pelan dan semakin merapatkan tubuhnya agar bisa memeluk Jungkook lebih leluasa.
"Tapi aku masih kaget kamu pergi kuliah disana aku mikirnya kenapa harus tiba-tiba banget gitu."
"Aku juga kaget kok, Mama juga ngomongnya kayak santai banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
Psyhcopath (End) ✓
RandomJungkook adalah seorang Psikopat yang menyukai Lalisa Manoban yang terkenal polos namun sedikit bar-bar. Jungkook menyukai Lisa disaat pandangan pertama dan disaat Jungkook dan teman-temannya jadi murid baru di kelasnya. Apakah Lisa menyukai Jung...
