Setelah menemani Jungkook makan siang ia berencana membawa kekasihnya ini ke kantornya sekalian mengenalkannya ke para karyawannya.
Gedung pencakar langit yang bertuliskan 'Jeon Group' sangat tercekat jelas di lantai paling atas. Lisa mendongak melihat betapa tingginya bangunan yang dibangun oleh kekasihnya itu. Inilah yang dinamakan perjuangan tidak akan mengkhianati hasil.
"Ayo, ngapain bengong." Jungkook mengusap wajah Lisa.
Lisa menoleh dan mendelik melihat perlakuan Jungkook terhadapnya. "Santai dong, sombong banget." Lisa berjalan duluan meninggalkannya Jungkook yang terkekeh geli melihat tingkahnya.
"Yaiyalah kan perusahaan aku." Jungkook menyamakan langkahnya dengan Lisa.
Lisa hanya diam tidak merespon ucapan Jungkook padanya.
Sepanjang perjalanan Lisa selalu mendapat sapaan begitu pun Jungkook yang baru kembali setelah makan siang. Mereka menaiki lift yang berwarna Silver itu.
"Selamat datang, Nona Jeon." Jungkook berjalan duluan dan membuka pintu ruangannya seakan-akan menyambut tamu spesialnya.
Sekretaris yang bernama Umji itu hanya bengong seketika, selain menjadi penggemar dari Lalisa Manoban ternyata ia sudah menikah dengan atasannya tapi mengapa marganya sangat berbeda di publik, itulah yang dipikiran Umji saya itu.
"Depyonim, k-kalian sudah menikah?" Tanya Umji bingung sekaligus wajah yang berbinar.
Lisa menoleh kepalanya.
"Engg-" Belum sempat Lisa menyelesaikan ucapannya Jungkook sudah lebih dulu menyela nya.
"Iya, dong. Kan sayang." Jungkook merangkul Lisa yang lebih pendek darinya.
Tatapan Lisa mendelik melihat Jungkook. "Silahkan menghalu." Lisa melihat kearah Umji dan tersenyum setelah mendapat balasan senyuman dari Umji ia langsung masuk ke ruangan Jungkook.
"Sayang!!" Jungkook memelas dan menyusul Lisa masuk.
Setelah keduanya masuk Umji tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi atasannya itu selama ia bekerja disini ia belum pernah melihat wajah memelas dari atasannya karena biasanya pemuda Jeon selalu menunjukkan wajah dingin dan tatapan tajamnya.
"Astaga, bisa ngelucu juga." Umji tertawa dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
🐾
"Diem." Lisa mendudukkan dirinya di sofa dan menutup matanya karena malas mendengar nada memelas Jungkook daripada nanti ia gemas sendiri melihat wajah menggemaskannya lebih baik ia menutup matanya.
Jungkook hanya memanyunkan bibirnya lucu dan duduk di bangku kerjanya dengan Lisa yang berada di depannya, padahal tadi ia ingin bermanja-manja dengan Lisa seharian ini tapi Lisa benar-benar menyebalkan. Jungkook mengetuk-ngetuk jarinya di meja seolah berpikir pertanyaan apa yang cocok untuk ia lontarkan untuk Lisa. "Ah iya." Jungkook berdiri dari duduknya dan menghampiri Lisa.
"Selama ini kemana aja? Kenapa hilang kabar? Kenapa ga pernah ngabarin aku? Terus, kamu kapan sampe disini terus lagi kenapa ga ngabarin aku kalo udah sampe di Korea? Barang-barang kamu dimana?" Layaknya tabrakan beruntun Jungkook bertanya dengan sekaligus banyaknya yang berhasil membuat Lisa cengo.
Lisa kesal dan akhirnya menoyor kepala Jungkook pelan. "Kalo nanya tuh satu-satu bego."
"Aku pinter ya." Ujar Jungkook yang tidak terima dikatakan bodoh oleh Lisa.
"Iya pinter ngebunuh orang."
"Eits jangan salah aku ga ngebunuh orang lagi ya gausah nuduh-nuduh."
"Iyain" Sahut Lisa malas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Psyhcopath (End) ✓
RandomJungkook adalah seorang Psikopat yang menyukai Lalisa Manoban yang terkenal polos namun sedikit bar-bar. Jungkook menyukai Lisa disaat pandangan pertama dan disaat Jungkook dan teman-temannya jadi murid baru di kelasnya. Apakah Lisa menyukai Jung...
