[ BISA SAMBIL MENDENGARKAN MULMED DI ATAS ]
|HAPPY × READING|
🌟
✨✨
"Pendarahan di kepala yang pasien alami akibat benturan keras mengakibatkan robeknya pembuluh darah arteri yang mengalir ke otak. Akibatnya pasien harus segera di operasi karena terdapat beberapa batu kecil yang masuk ke dalam kepalanya."
"Bukan hanya itu, namun juga ginjalnya yang mengalami kebocoran karena tertancap benda tajam itu membuat pasien harus dirujuk ke rumah sakit yang berada di Thailand. Hanya di sana yang tersedia alat operasi untuk ginjal nya. Jika Bapak bersedia, kami akan siapkan surat rujukan tersebut"
Pandhu tersenyum getir ketika mengingat ucapan dokter kemarin. Ia merasa gagal menjadi seorang Ayah. Jujur saja ia tak sanggup melihat putra semata wayangnya di kebumikan saat ini. Ia memukul dadanya kuat-kuat, rasanya ini seperti tidak nyata.
Kaki Pandhu rasanya sudah tidak kuat lagi menahan beban tubuhnya. Namun ia harus tetap berdiri untuk menguatkan sang istri yang menangis di pelukannya.
Jenazah Cakra sampai di Jakarta satu jam yang lalu. Saat ini pemakaman telah usai dilakukan, perlahan semua orang yang yang menghadiri acara pemakaman Cakra mulai pergi satu per satu.
Kini hanya tersisa kedua orang tua Cakra, keempat sahabatnya, Zara, Bianca, dan juga Vani.
Dewi mengelus nisan yang masih sangat baru itu dengan derai air mata yang tak berhenti. "Mama nggak nyangka kamu ninggalin Mama secepat ini Nak. Sekarang, siapa yang bakal temenin Mama di rumah kalo Papa kamu lagi kerja? Mama sendirian sayang. Udah gak ada lagi orang yang selalu Mama ajak cerita, gak ada lagi orang yang selalu gangguin Mama pas lagi masak, gak ada lagi orang yang selalu minta di temenin buat main panah lagi, dan pasti gak bakalan ada lagi laporan dari guru tentang kelakuan kamu di sekolah yang sering bolos" Dewi memeluk nisan itu seolah-olah itu adalah Cakra.
"Gak akan ada lagi anak yang selalu buat keributan di rumah. Mama kangen Cakra, Mama gak mau kamu pergi sayang, Mama sayang banget sama Cakra. Kenapa kamu ninggalin Mama? Mama kesepian gak ada kamu di rumah, kamu satu-satunya harta yang gak bisa ditukar oleh apapun di dunia ini. Mama—" Dewi tak melanjutkan kalimatnya. Wanita itu terjatuh hingga tak sadarkan diri karena terlalu lelah. Pandhu yang berada di sampingnya segera mengangkat tubuh istrinya kemudian membawanya ke luar Dewi dari pemakaman.
Kini giliran keempat teman Cakra, mereka berjongkok di depan makam Cakra dengan saling merangkul satu sama lain. Mereka mati-matian menahan air matanya agar tidak jatuh, namun pertahanan mereka runtuh. Mereka tidak bisa untuk tidak mengeluarkan air matanya karena kehilangan sosok yang selalu memberikan mereka jalan saat mereka salah arah.
Bayangan tentang mereka dulu yang selalu melakukan kegilaan secara bersama-sama, membolos bersama, bermain hingga tak tahu waktu, susah senang bersama, dan masih banyak lagi hal yang yang pernah mereka lakukan bersama. Mereka sudah seperti keluarga.
"Gue masih gak nyangka lo pergi secepat ini ninggalin kita semua Cak. Padahal baru kemarin kita kumpul-kumpul, sekarang lo udah pergi, pergi selama-lamanya. Lihat Cak, gue nangis, apa lo gak mau ejek gue?" Ucap Eric dengan tersenyum pedih.
Bayu menepuk bahu Eric untuk menenangkan cowok itu. "Gue juga gak bisa jaga amanat terakhir lo Cak. Susah bagi gue untuk tegar Cak. Gue minta maaf sama lo. Semoga lo tenang di sana ya? Kita gak akan lupain lo Cak"
Fino memegang nisan di sampingnya. "Makasih Cak. Tanpa lo, mungkin sampai sekarang gue masih berpikir seperti anak kecil yang selalu ribut masalah uang. Gue juga minta maaf sama lo kalo gue pernah buat salah sama lo"
KAMU SEDANG MEMBACA
C A K R A [SELESAI]✓
Novela Juvenil• REVISI • [ MEMBACA CERITA INI HARUS PUNYA STOK SABAR BERLEBIH ] Garis Cakra Dananjaya. Berawal ketika ia dan keempat sahabatnya dikeluarkan dari sekolah. Kemudian berpindah di sekolah baru berkat koneksi dari orang tuanya. Tanpa ia sangka, ia jatu...
![C A K R A [SELESAI]✓](https://img.wattpad.com/cover/191959038-64-k257398.jpg)