"Jangan pernah sekali-kali bercanda dengan hati, karena ketika telah disakiti, jangan harap untuk bisa kembali."
•••
Vani mengernyitkan dahinya ketika dua nomor asing menelponnya. Mungkin orang iseng, pikirnya. Jadi Vani mengabaikannya. Tak sampai di situ, dua nomor itu juga mengiriminya banyak sekali pesan.
+628xxxx
Hay!
P
P
Ini aku yang tadi.
Yang di mini market.
Kenapa gak di angkat?
Kamu sibuk ya?
Hay! Nama aku Reni.
Begitu isi pesannya. Lain dengan nomor yang lainnya.
+628xxxx
Nama kamu siapa?
Ini aku yang di mini market tadi
Hai
Vani nampak bingung dengan pesan-pesan ini. Padahal di mini market tadi, ia tak mengobrol dengan siapapun. Apakah ini ulah Cakra? Sepertinya dua nomor ini ingin menghubungi Cakra, namun cowok itu malah memberi nomornya. Kurang ajar!
Buru-buru Vani menelpon Cakra untuk mempertanyakannya, namun nomornya tak aktif membuat Vani langsung menaruh ponselnya di atas nakas.
Vani merebahkan tubuhnya di atas kasur. Cewek itu menatap lekat langit-langit kamarnya.
Jantungnya kembali berdebar mengingat kebersamaan yang baru saja ia dan Cakra lakukan. Vani memegang dadanya. "Gue gak mungkin jatuh cinta kan?"
***
Pukul 04.16 Cakra terbangun dari tidurnya. Cowok itu memegangi kepalanya yang terasa berat saat mencoba berdiri. Cakra duduk di tempatnya sembari menatap teman-temannya yang masih terkapar di atas ranjangnya.
Dirasa tubuhnya cukup kuat, Cakra mulai berdiri perlahan. Cowok itu langsung berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan mengembalikan kesadarannya yang masih dalam pengaruh alkohol semalam.
Tiga puluh menit berjalan,cowok itu kini telah selesai dengan ritualnya. Ia menghampiri teman-temannya untuk mengusilinya.
"Bangun woi! Sekolah!"
"BANGUN! BANGUN!!" Cakra menyibak gorden kamarnya, meskipun masih agak gelap, ia tetap membukanya.
Udara sejuk langsung menerpa kulitnya membuat mereka saling berebutan selimut untuk menghangatkan tubuh.
"Bangun woi!!"
Cakra kesal karena teman-temannya hanya merubah posisinya saja. Cakra mendekat pada Eric, cowok itu menendang-nendang kecil kaki Eric.
"Bangun, mau sekolah kagak lu?"
Eric memegang kepalanya yang terasa pening. Cowok itu perlahan bangun dan menatap sekitar. "Sialan! Masih gelap gini anjir! Ngapain lo bangunin gue?!" Eric kesal lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur kembali.
"Ya emang." Cakra terkekeh pelan. "Gue cabut dulu."
Cakra keluar dari kamarnya seraya membawa hoodie hitamnya di tangan kirinya menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
Sampai di dapur Cakra langsung menuang air putih ke dalam gelasnya kemudian menenggaknya hingga tandas. Cowok itu menarik kursi untuk dirinya. Ia merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
C A K R A [SELESAI]✓
Fiksi Remaja• REVISI • [ MEMBACA CERITA INI HARUS PUNYA STOK SABAR BERLEBIH ] Garis Cakra Dananjaya. Berawal ketika ia dan keempat sahabatnya dikeluarkan dari sekolah. Kemudian berpindah di sekolah baru berkat koneksi dari orang tuanya. Tanpa ia sangka, ia jatu...
![C A K R A [SELESAI]✓](https://img.wattpad.com/cover/191959038-64-k257398.jpg)