Bab 12 : Sakit

3.7K 174 29
                                        

HAPPY READING
——————————

"Saya tidak memaafkan."

"Gapapa Om. Saya memang tidak sepantasnya menerima maaf dari Om. Tapi saya mohon, tolong maafin Vani, karna dia gak salah."

Dewa menatap Cakra lama. "Sejak kapan kamu berteman dengan anak saya?"

"Baru tiga hari, Om"

"Tiga hari?!" Tanya Dewa tak percaya.

"Iya. Karena saya murid baru"

Tatapan menilai langsung Cakra dapatkan. Dewa menatapnya dari ujung kaki hingga kepalanya. "Kenapa kamu berteman dengan anak saya? Apa kamu tidak tahu kelakuan anak saya di sekolah?"

"Saya tahu, Om. Saya tahu seperti apa kelakuan Vani di sekolah."

"Lalu, kenapa kamu mau berteman dengan anak saya?"

Nggak mungkin juga kan, kalo gue bilang gue naksir anaknya.

Cakra bedehem pelan. "Karena Vani adalah orang jujur. Ya meskipun saya tahu dia selalu bertindak tidak baik, tapi saya yakin semua yang Vani lakukan atas dasar dari kejujurannya, dia marah, kecewa, gak suka, dan segalanya selalu bisa dia ungkapin. Cuma caranya aja yang salah. Bisa dibilang, Vani terlalu jujur kalau urusan mengungkapkan."

Dewa menatap Cakra dengan pandangan yang sulit diartikan. "Kamu baru mengenal anak saya tiga hari. Kesimpulan yang kamu ambil itu hanya omong kosong belaka. Jika tidak ada keperluan lagi, silahkan pergi."

Shit! Malah diusir.

Tak ingin mencari masalah dan berujung menjadi keributan, Cakra segera berpamitan dan bergegas pergi. Masalah kalung, mungkin bisa ia berikan besok di sekolah.

***

Perjalanan Pandawa Geng menuju kelas tidak pernah sepi. Mereka selalu dihibur dengan perdebatan si kembar yang ribut tentang masalah uang saku.

Setiap hari mereka selalu berdebat tentang banyaknya uang yang mereka terima. Tak ada yang ingin mengalah seorang pun. Jika sudah seperti itu, Cakra adalah orang yang selalu turun tangan menengahi keduanya.

"Heh Jamal! Mama kasih saku berapa sama lo. Pasti lebih kan?" tuduh Fino pada Sadewa.

"Jangan mulai deh." Sadewa menanggapinya dengan malas.

"Tuh kan! Mama tuh emang pilih kasih! Gue aja yang suka bantuin gak pernah dikasih lebih." Gerutunya.

"Perkara uang saku doang elah!" Cibir Sadewa jengah.

"Ya nggak bisa gitu lah. Ini nggak adil namanya!" Protes Fino.

"Lo mempermasalahkan adil? Lo pikir gue gak tau kalo bokap juga sering kasih saku lebih buat lo, sementara gue enggak!" Sadewa mulai tersulut.

Fino terkejut Sadewa mengetahui papanya sering memberinya uang lebih.

"Nah lho. Ketahuan sekarang Fin" kompor Bayu.

C A K R A [SELESAI]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang