"Diam kau, bocah!" Steven menendang perut Defa sampai ia meringkuk, matanya menatap Illona yang sudah tak sadarkan diri di sebelah. Tangannya mengepal, rahangnya menjadi tegas dan bergetar.
Dengan sekuat tenaga yang ia punya, ia melayangkan tinju dari arah bawah dengan menyerang dagu Steven. Karena semua terjadi dengan cepat, Steven tidak merekam gerakan Defa, dan akhirnya terhuyung ke belakang.
"Angkat tangan!" teriak Eduard yang disusul dengan anak buahnya di belakang. Begtu juga dengan Levina yang ikut tiba. Ia melihat Illona, Larita, dan sekretaris Yus yang sudah tak sadarkan diri.
"Tante! Illona!" teriaknya menghampiri tubuh mereka. Beberapa anak polisi segera membawa tubuh mereka dan ke luar dari sana.
"Sudah cukup, Steven." Eduard menurunkan pistolnya dan berjalan menghampirinya.
Steven yang terduduk mengelap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya. Ia membuang mukanya dan tidak memperdulikan Eduard yang tengah mengawasinya. Matanya menangkap Levina yang berdiri di samping Eduard dengan tatapan yang benci.
Steven langsung menghampiri Levina dan mencekeknya. Dengan sigap, Eduard segera menendangnya dan menariknya menjauh dari Levina. Gadis itu terbatuk-batuk saat cekikannya terlepas.
Levina menghela napas. "Paman, asal kamu tahu aku sangat menyayangimu dan sudah mengangap kau seperti ayah keduaku. Aku sangat senang bisa mengenalimu juga Illona dan aku juga tahu kau itu adalah pria yang baik. Jika memang kesalahan orang tuaku yang membuatmu seperti ini, aku minta maaf. Tapi, kejahatan kamu sudah berlebihan. Jika ini yang kau inginkan ..." gadis itu mengambil pistol yang ada di tali pinggang Eduard dan menembak dirinya sendiri di perutnya.
Eduard melotot dan menangkap tubuh Levina yang melemas dan darah keluar dari tubuhnya secara perlahan. Steven juga kaget dengan tindakan Levina.
"P-pa m-man, a-ambillah USB ini," ujar Levina terbata-bata lalu menutup matanya.
Steven mengambilnya dan termenung masih tidak percaya dengan apa yang sedang terjadi di depannya.
"Amankan dia!" perintah Eduard pada anak buahnya. Mereka segera bergerak dan memasangkan borgol di tangan Steven lalu membawanya turun keluar dari gedung itu.
***
Clara menatap lorong rumah sakit dengan kosong, kini semua teman-temannya tengah berbaring di atas ranjang dan dipenuhi alat-alat medis. Rafael yang mengalami koma, Levina harus menjalani operasi untuk mengambil peluru yang masuk ke dalam tubuhnya. Bisa dibilang Levina cukup pintar untuk tidak menembak ke bagian organ vital. Bisa-bisa ia mati di tempat.
Sedangkan Illona juga Defa harus dirawat dan mengobati luka-luka kecil di tubuh mereka. Meski begitu, luka yang dialami Illona jauh lebih parah dibandingkan Defa dan harus kehilangan banyak darah.
Sekretaris Yus mati di tempat dan Larita juga dirawat di rumah sakit dan menjalani terapi psikologi. Setidaknya itulah yang diketahui oleh Clara saat ini.
"Ayah." Clara menyapa saat melihat ayahnya datang menghampirinya.
"Kau sudah makan?" tanyanya.
Clara menggeleng.
"Ayo, makan dulu."
Clara berjalan beriringan dengan ayahnya menuju kantin rumah sakit. Setelah menempati tempat yang kosong dan memesan makanan mereka.
"Ayah, apa ayah akan melakukannya?" tanya Clara.
"Iya, sudah saatnya Steven berhenti dan semua bukti sudah ada. Ayah sudah tidak bisa lagi menyimpan semua rahasianya. Tiga hari lagi, sidang untuknya akan dimulai. Aku tidak menyangka Illona bisa begitu pintar mengumpulkan semua bukti-buktinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dandelion
Misterio / Suspenso[Drama-Misteri] Levina Tiara Maghency, seorang gadis rupawan, putri seorang konglomerat harus kehilangan kedua orang tua nya pada sebuah kecelakaan yang menimpa keluarganya. Hal itu membuatnya harus mengganti identitas dan bersembunyi guna mencari t...
