Dungeon tingkat D lebih sulit dari Dungeon tingkat E yang sering Ash selesaikan. Awalnya dia berniat menantang Dungeon tingkat D hanya dengan anggota timnya. Namun ia tak ingin membesar-besarkan kekuatannya sendiri dan memilih bergabung dengan Party lain.
Dungeon Mel-IV dihuni oleh monster Giant Rats yang membentuk sarang di seluruh penjuru Gua. Sebagai monster yang hidupnya berkoloni, Giant Rats lebih mengandalkan jumlah daripada kekuatannya.
Baru setengah jam berada di Dungeon membuat Party mereka harus menghadapi lebih dari 100 Giant Rats. Ash merasa tidak masalah karena menurutnya jumlah anggota mereka cukup untuk mengalahkan Giant Rats itu.
Giant Rats menyerang menggunakan cakarnya yang panjang dan tajam. Sesekali monster itu juga mencoba menggigit dengan gigi besarnya yang keras. Ash yakin gigi Giant Rats dapat menghancurkan tengkorak manusia dalam sekali gigit.
Ash bertarung di barisan depan bersama dengan Sky dan penyerang jarak dekat lainnya. Mereka didukung oleh Pierre yang menyerang monster itu dengan hujan panahnya. Para pengguna sihir juga tak mau kalah dan terus menyerang dengan berbagai mantra yang dimilikinya. Begitu kelompok Giant Rats telah dikalahkan, mereka lanjut menjelajahi Dungeon sambil mencari kelompok Giant Rats selanjutnya.
"Niel, bukankah kau berdiri terlalu jauh di belakang?" Ash menoleh pada Niel yang berjalan terpisah hampir sepuluh meter jauhnya dengan anggota tim lainnya.
"A-aku disini menjaga penyembuh kita tetap aman."
"Kau tak perlu sejauh itu." Yulie, Cleric yang dimaksud hanya bisa terkekeh.
"Kak Niel, jangan bilang Kakak takut pada monster itu?" tanya Sky yang tepat sasaran membuat Niel memelototinya.
"Ah, benar. Aku lupa Niel itu takut pada tikus," ucap Ash seolah baru sadar.
"Aku tidak takut! Aku hanya punya fobia pada tikus!"
"Bukankah itu sama saja?"
"Tidak! Aku sebenarnya tidak takut. Tapi fobiaku yang membuat aku tak bisa dekat-dekat dengan makhluk itu. Apa kalian tidak berpikir kalau cakar dan giginya itu sangat mengerikan?" Niel melontarkan berbagai omong kosong berusaha membela dirinya. Tetapi rekan setimnya yang mendengar itu justru tertawa lucu.
"Ya ya ya. Kalau begitu berjalanlah di dekat kami. Kau terlalu jauh."
"Tapi aku nyaman di sini."
"Mendekat atau kau mau kulempar dengan salah satu monster yang nanti kita temui?"
"Baik, baik! Jangan lakukan itu." Niel menghela napas pasrah dan berjalan disebelah Yulie. Ia baru ingat kalau sahabatnya itu sangat mengerikan. Niel tahu Ash tidak berbohong saat mengatakan itu. Jika Niel mengingkarinya makan Ash benar-benar akan membawa monster itu ke hadapannya.
"Andaikan kita bisa membentuk tim dengan seorang Pahlawan. Pasti tidak akan sulit menyerang Dungeon ini." Richa sang Summoner menyeletuk di tengah perjalanan mereka.
"Mengajak seorang Pahlawan tidak semudah itu. Mereka tidak akan sembarangan mau bergabung dengan party kecil seperti kita. Partynya Gio saja perlu membayar uang sewa yang besar hanya untuk mengajak seorang Pahlawan berlevel di bawah 20 untuk berburu bersama. Para pahlawan hanya terlalu sombong," ucap Pierre sang Archer. Ia kenal beberapa petualang yang pernah bekerja dengan para Pahlawan. Menurutnya Pahlawan hanya menggunakan gelar mereka, sedangkan kemampuan mereka masih jauh dari Petualang rata-rata.
"Aku mendengar rumor kalau para pahlawan sebenarnya sangat kuat, tetapi kekuatan mereka di reset ke level 1 sehingga mereka harus leveling lagi saat tiba di Argatroz. Menurutku bisa mencapai level 20 dalam waktu secepat itu adalah sebuah prestasi. Petualang seperti kita tidak akan mampu melakukannya. Walau saat ini para Pahlawan masih lemah, cepat atau lambat mereka pasti akan menyusul kita. Itu bukan hal yang buruk untuk menjalin hubungan baik dengan Pahlawan selagi mereka masih dilevel rendah." Ucapan Yulie cukup masuk akal. Bahkan Alfreed sebenarnya juga mempertimbangkan untuk mencari Pahlawan. Namun karena waktu mereka tidak banyak dan mereka kekurangan uang, dia memilih mengesampingkan niatnya itu.
"Aku ingin bertemu para pahlawan dan menantang mereka berduel." Gusgus si ahli beladiri sangat bersemangat setiap membicarakan para Pahlawan. Tujuannya adalah mengalahkan Pahlawan terkuat dengan beladiri yang diwariskan oleh ayahnya. Dia kerap dijuluki Si Petarung Gila.
"Memangnya berapa waktu yang normalnya diperlukan oleh seseorang untuk naik level?" tanya Ash penasaran. Dia kira kecepatan levelingnya hanya rata-rata. Tetapi berdasarkan percakapan tadi, sepertinya petualang memiliki kesulitan untuk naik level.
"Biasa kami memerlukan tiga sampai lima hari untuk naik level. Itupun jika kami melakukannya tanpa beristirahat. Kami bersyukur jika bisa naik level seminggu sekali. Semakin tinggi level kami, semakin sulit untuk naik level. Kau sendiri sudah berapa lama menjadi petualang?"
"Aku baru setahun ini. Sepertinya perkembanganku cukup lambat dibanding petualang normal." Ash mengusap tengkuknya pura-pura malu. Walaupun rekan setimnya tidak terlalu bisa memperhatikan itu karena separuh wajahnya tertutup tudung.
"Tak apa, aku dulu perlu satu setengah tahun untuk mencapai level 20. Kau masih lebih cepat dariku." Gusgus menepuk bahu Ash dengan penuh semangat. Ash hanya bisa mengelus bekas pukulan itu yang terasa panas.
"Ash, menurutmu apakah lebih baik kami bekerja sama dengan Pahlawan?" tanya Richa. Ia tak terima jika Pahlawan yang ia kagumi itu benar-benar petarung yang buruk.
"Kurasa itu tidak masalah. Tapi kalian juga harus berhati-hati jika ingin bekerja sama dengan Pahlawan. Aku rasa tidak semua Pahlawan itu kuat dan baik hati. Pasti ada beberapa yang sama buruknya dengan penjahat. Party kita saat ini juga tidak buruk." Ash berkata apa adanya walaupun ia menutupi kenyataan kalau dirinya merupakan seorang Pahlawan.
"Itu benar. Aku pernah bertemu seorang pahlawan yang sangat gila harta dan kejam! Dia akan melakukan apapun demi menjadi kaya," sambung Niel. Ia segera menutup mulutnya begitu merasakan tatapan tajam dari suatu arah.
"Aku sepertinya tidak asing dengan orang itu," guman Sky berpikir keras. Nyatanya orang yang dimaksud Niel adalah Ash. Tentu saja Sky akan merasa tidak asing.
Setelah mengalahkan tiga kelompok Giant Rats lagi dalam waktu sejam, Party mereka sampai di pintu ruang Boss Monster. Pintu itu dijaga oleh dua Giant Rats yang ukuranya lebih besar dari yang sebelumnya mereka lawan. Selain itu Giant Rats itu berdiri dengan kaki belakang mereka sedang kaki depannya memegang senjata.
Monster itu adalah penjaga pintu masuk ruangan Boss. Asalkan mereka tidak mencoba masuk, mereka tidak akan diserang. Namun untuk menyelesaikan Dungeon, tentu saja mereka harus masuk ke ruangan itu. Dengan kata lain mereka harus mengalahkan dua penjaga itu terlebih dahulu.
"Ini aneh. Kenapa ada penjaga di Dungeon tingkat D?"
Ash menatap bingung pada Alfreed. Ini memang pertama kalinya ia melihat ada Mini Boss Monster yang menjaga pintu masuk ruangan Boss. Biasanya Mini Boss akan berada di ruangan Boss dan berjaga di sekitarnya. Tapi Ash tidak menemukan bahwa hal ini ternyata aneh.
"Biasanya hanya Dungeon tingkat B yang memiliki penjaga di pintu masuk. Bagaimana ini? Apakah kita lebih baik kembali?" tanya Richa.
Alfreed sekali lagi memeriksa informasi seputar Dungeon yang mereka masuki. Dungeon Mel-IV memang Dungeon tingkat D. Harusnya Dewan Petualang tidak mungkin melakukan kesalahan seperti ini karena mereka menggunakan alat yang akurat.
Dari pandangan Ash, tidak mungkin Dewan Petualang salah menilai Dungeon ini. Monster yang mereka lawan sejauh ini tidak terlalu kuat. Tidak mungkin monster selemah itu akan berada di Dungeon yang tingkatnya lebih tinggi dari D. Para penjaga itu menjaga pintu dan tidak mengijinkan siapapun masuk. Seolah-olah ada hal yang harus mereka lindungi.
'Apa Boss Monster sedang terluka?' pikir Ash. Bisa saja sebelumnya ada Party lain yang hampir mengalahkan Boss tetapi memilih mundur sehingga Boss monster butuh waktu untuk pemulihan.
"Sepertinya kita akan mencoba terlebih dahulu. Jika situasinya memburuk, kita akan mundur."
Seluruh anggota Party tidak masalah dengan keputusan Alfreed. Mereka lalu mendekati kedua penjaga yang berdiri di depan pintu.
[Giant Rats Guard]
Level : 32 (Chieftain Rank)
HP : 230.000
-To be Continued-
KAMU SEDANG MEMBACA
The Land : Another World
FantasíaThe Land : Another World [Season 1 END - Hiatus] Bumi, tahun 2081. Tepat 50 tahun lalu dunia digemparkan dengan kabar jatuhnya 13 meteor ke bumi. Meteor itu jatuh di 13 tempat yang berbeda dan menimbulkan kerusakan yang cukup besar. Namun setelah it...
