Party Ash sampai di sebuah penginapan yang tidak terlalu besar tapi kondisinya cukup terawat. Di sana juga terdapat tempat parkir untuk kereta ataupun kuda milik pengunjung. Ash rasa keamanannya lebih baik daripada penginapan lain di kota ini. Penginapan itu dimiliki oleh seorang wanita muda yang terlihat hanya beberapa tahun lebih tua dari Ash.
"Selamat datang," ucap wanita itu begitu melihat ada pengunjung di penginapannya.
"Kami ingin menginap semalam. Berapa biayanya?"
"Kamar standar untuk satu orang seharga 500 Con permalam."
Ash sudah menduga harga sewa kamar disini sangat tinggi bahkan hampir dua kali lipat harga normal.
"Berapa harga sewa kamar untuk 2 orang?"
"Permalamnya 750 Con."
"Kami ingin satu kamar untuk 2 orang," ucap Ash. Dari pada membuang-buang uang dengan menyewa tiga kamar, akan lebih hemat menyewa 1 kamar besar untuk tiga orang. Lagipula mereka hanya akan menginap semalam.
"Baiklah." Wanita itu lalu mengambil sebuah kunci kamar. "Maaf, karena harga sewa disini terlalu mahal. Aku terpaksa melakukannya untuk menutupi besarnya pajak yang ditarik walikota. Sejujurnya keuntungan yang ku dapat tidak lebih dari 100 Con."
Ash dapat memakluminya. Jika masyarakat tetap memakai harga normal, mereka tidak akan mendapat untung sama sekali karena semua keuntungan mereka harus dibayarkan sebagai pajak untuk walikota. Parahnya lagi pajak itu tidak digunakan untuk mensejahterakan warganya.
"Sudah berapa lama situasi ini terjadi?" tanya Niel.
"Sudah 5 tahun sejak Walikota Gridy menjabat. Dari dulu kota ini memang miskin akibat serangan bangsa iblis, namun warganya masih bisa hidup dengan layak. Tetapi sejak Walikota yang lama wafat dan digantikan oleh keponakannya, situasi menjadi separah ini."
Suara wanita itu menyiratkan kepedihan yang mendalam. Sosoknya yang sederhana terlihat lelah dengan kehidupan yang begitu sulit dijalaninya. Mungkin jika bukan karena Walikota serakah itu, kehidupannya akan jauh lebih baik.
"Aku turut sedih mendengarnya." Hanya itu yang bisa Niel katakan saat ini.
"Tuan petualang yang hebat, maukah kalian menolong kami? Tolong singkirkan Walikota Gridy agar kota ini kembali tentram."
[Pemberitahuan]
Anda telah memicu sebuah Quest!
[Quest]
Mona adalah anak dari pemilik penginapan di Kota Didio. Bertahun-tahun ia menggantikan pekerjaan Ayahnya yang tengah sakit agar terus bertahan hidup. Mona adalah satu dari sekian banyak rakyat yang merasakan penderitaan dibawah pimpinan Walikota Gridy yang serakah.
Tugas : Singkirkan Walikota Gridy agar kesejahteraan rakyat di kota Didio kembali
Tingkat Kesulitan : C
Reward : Fame +1.000, Poin Kontribusi Didio +5.000, Exp +1.700
[Terima] atau [Tolak]
--
"Sebuah Quest?"
Ini pertama kalinya Ash mendapatkan Quest. Ia pikir di Argatroz hanya ada Misi bagi para Petualang. Dirinya tak menyangka ada hal semacam Quest seperti di dalam Game.
"Ash, bagaimana ini?" Niel bertanya pada Ash. Sejujurnya ia sangat ingin membantu agar masyarakat di Kota ini dapat kembali hidup dengan layak.
"Kami minta maaf. Kami hanya menetap disini selama semalam karena ada hal penting yang harus kami lakukan di ibu kota. Kami mungkin tak punya cukup waktu untuk menyelesaikan permintaanmu."
[Quest]
Anda menolak Quest?
Quest yang sudah ditolak mungkin tidak akan bisa diambil kembali. Pertimbangkan sekali lagi apa anda akan menerima atau menolak Quest.
"Aku tahu, para petualang seperti kalian terlalu sibuk untuk menolong masalah kami. Aku sudah sering melihat berbagai tipe pelualang yang datang kesini. Tapi kalian terasa berbeda. Untuk itu aku memberanikan diri meminta tolong. Maafkan aku karena telah menganggu waktu kalian." Wanita itu sedikit membungkukkan badannya.
"Aku minta maaf." Ash mengambil kunci di meja lalu langsung menuju ke kamarnya.
Niel yang melihat itu sedikit serba salah. Ia sangat tidak enak menolak permintaan tulus dari wanita itu. Apalagi ini adalah Quest tingkat C yang hadiahnya lumayan tinggi. Tapi dia juga tidak bisa sembarangan mengambil Quest tanpa persetujuan Ash.
"Aku akan berbicara pada temanku sekali lagi."
Niel segera menyusul Ash diikuti oleh Sky yang mengekor dibelakangnya. Di dalam kamar, Ash terlihat baru saja berganti pakaian yang lebih santai dan bersiap untuk beristirahat.
"Ash, kau mulai bersikap dingin lagi."
"Apa maksudmu." Ash berkata tanpa sekalipun melihat Niel. Dia sibuk sendiri entah apa yang dikerjakannya.
"Kenapa kita tidak menerima Quest itu? Apa kau tak lihat hadiahnya? Aku sangat tidak suka jika mulai bersikap seperti ini."
Ash menghentikan aktivitasnya. Melihat itu Niel merasa tak enak, takut telah menyinggung perasaan Ash.
"Aku sudah bilang kita tidak punya waktu. Jangan sampai fokusmu teralihkan oleh masalah orang lain. Aku tidak ingin apa yang kita persiapkan jadi berantakan."
Niel benci ini. Dirinya sangat ahli dalam bernegosiasi dan sering menjadi negosiator di perusahaan Ayahnya. Dia juga sering mengikuti kompetisi debat dengan berbagai tema bahasan. Tapi jika itu Ash, dia tidak bisa membantahnya. Dia tidak mengerti apa yang salah dengan dirinya.
"Kau tahu, kau menjadi semakin egois sejak mengenal wanita itu. Dia yang mengajarkanmu untuk memikirkan dirimu terlebih dahulu. Dan karena alasan itu juga dia meninggalkanmu. Karena dia lebih memikirkan dirinya sendiri."
Niel mencoba tetap tenang. Walaupun dalam hati ia ketar-ketir sendiri mengetahui kemungkinan Ash akan meninju wajahnya. Tapi ia harus tetap bicara agar Ash sadar dan kembali pada dirinya yang dulu.
"Kenapa kau membawa 'dia' dalam percakapan ini?" Ash membalikkan badan dan kini menghadap Niel sepenuhnya.
"Aku hanya berkata yang sebenarnya. Dulu kau hanya ingin hidup bahagia. Tapi saat bersamanya, kau ingin menjadi seorang dokter agar pantas berada disisinya. Dan saat dia meninggalkanmu karena kau tak memenuhi harapannya, kau ingin menjadi kaya raya lalu mencari pacar seorang dokter. Itu semua agar kau bisa membuktikan dirimu kan? Kau menganggap dirinya sebagai tujuan hidupmu."
"Wanita itu selalu berdalih dibalik kata 'untuk kebaikan dirimu', namun semua pada akhirnya adalah 'untuk kebaikannya'. Aku masih ingat sekali saat dia memintamu menjauhiku dengan alasan aku membawa pengaruh buruk untukmu. Itu dilakukannya hanya karena ingin perhatianmu sepenuhnya untuk dirinya."
"Yang lebih mengesalkan lagi adalah kau menuruti semuanya. Menyedihkan sekali persahabatan kita yang sudah bertahun-tahun terjalin harus merenggang hanya karena seorang wanita."
Ash masih mendengarkan perkataan yang mengalir dari mulut Niel. Kata-kata itu keluar begitu lancar seolah-olah telah lama terpendam. Ash tak tahu selama ini Niel merasa seperti itu.
"Lim Hansung, dengarkan aku. Semua orang punya kesulitannya sendiri. Kita juga tidak dalam kondisi yang baik. Jangan terlalu naif dengan berpikir kau dapat menolong siapa saja yang kekurangan. Kita bukan pahlawan."
Niel sedikit terkejut Ash tidak benar-benar menonjoknya. Tapi itu justru membuatnya sedikit sedih. Lebih baik Ash meninjunya dengan keras lalu kembali ke dirinya yang dulu.
"Aku tahu kau berhak atas dirimu sendiri. Kau juga sudah banyak mengalami kesulitan dalam hidupmu dan kau berhak bahagia. Tapi 'hidup untuk dirimu sendiri' bukanlah ketika kau mementingkan dirimu, melainkan saat kau mengikuti kata hatimu. Dengan begitu kau bisa menemukan apa sebenarnya kau inginkan. Tujuan hidupmu."
"Aku harap kau memikirkannya sekali lagi dan ikuti apa yang kata hatimu inginkan. Aku akan mengambil Quest itu."
-To be continued-
KAMU SEDANG MEMBACA
The Land : Another World
FantasyThe Land : Another World [Season 1 END - Hiatus] Bumi, tahun 2081. Tepat 50 tahun lalu dunia digemparkan dengan kabar jatuhnya 13 meteor ke bumi. Meteor itu jatuh di 13 tempat yang berbeda dan menimbulkan kerusakan yang cukup besar. Namun setelah it...
