Setelah kelompok Rigel pergi untuk melakukan serangan, para prajurit yang bertahan memutuskan untuk tetap tinggal sampai kondisi prajurit lainya membaik.
Namun, beberapa prajurit merasa terpikirkan oleh ajakan dari Rigel untuk bergabung dengan pasukannya.
Pada Sore harinya, didalam Goa. Conny dan Fredy dan segelintir prajurit lainya berkumpul untuk berbicara.
Seorang prajurit bertanya.
"Apa sebaiknya kita pindah ketempat lain?""Iya melihat posisi kita sekarang, Pasukan Wyvern Republik pasti akan menyerang mereka.
"Lalu apa yang harus kita. Lakukan sekarang."
Pertanyaan dari seorang prajurit itu lantas membuat seisi Goa menjadi kebingungan. Orang-orang berpikir bagaimana mereka akan bergerak selanjutnya.
Disisi lain Conny berpikir dan mengutarakan pendapatnya. "dengan keeadaan kita sekarang, kita bisa pergi ke barat dan bertemu pasukan lainnya disana, tapi.... "
"Kalau anda Ragu lebih baik Menyerang saja, seperti yang dilakukan Rigel," Ucap Fredy.
Conny terdiam sambil berusaha memecahkan masalah yang ada, sedangkan Fredy yang melihatnya berusaha memberi saran kepada Conny.
"Menurut saya, lebih baik kita menyerang pasukan Republik."
Conny membalas."Apa kamu ingin seseorang terbunuh lagi."
"Tapi kalau begini terus....."
pandangam Conny beralih kearah seorang prajurit. "Tolong katakan pada semua orang kalau besok kita akan bergerak menuju wilayah barat."
"Siap, saya akan sampaikan," ucap prajurit itu dan pergi meninggalkan mereka.
"Jadi itu keputusan anda,"
"Iya, Kopral Fredy," ucapnya dengan wajah yang penuh dengan perhitungan.
***
Pada malam hari, suasana hutan sangat gelap. Aku dan kelompokku berdiam dibawah pepohonan yang tinggi. Kelompokku saat ini sedang mengawasi pergerakan dari pasukan Republik.
Pasukan Republik yang sebelumnya kami serang sudah bergabung dengan pasukan lainya dan saat ini mereka tengah berkemah.
Walaupun aku mengetahui tempat mereka berkemah, Aku masih belum tahu jumlah pasti pasukannya. Untuk itu aku mengirim Penginta untuk mengetahui jumlah pasti mereka.
"Tuan muda, pengintai sudah tiba," kata Sebastian
Dibelakangnya terdapa lima orang yang diselimuti dedaunan sebagai penyamaran datang kehadapanku. Mereka memberi hormat kepadaku, aku membalasnya.
Salah satu dari mereka berbicara. "Saya sudah memastikan Tuan muda, Pleton yang kita serang bergabung dengan pasukan yang membantu mereka sebelumnya."
Aku bertanya."uhuk!... uhuk!... berapa jumlahnya?".
"Tuan muda."
Pengintai lainya memanggilku lalu aku menoleh kearahnya.
"Kenapa?"
"Sebelumnya ada pasukan lainya yang kami lihat dari arah barat daya."
"Bagitu!, lalu?."
"Mereka bergabung dengan pleton yang kita serang."
"Jadi begitu... ,apa ada pasukan lainya disekitar meraka."
"Kami belum melihatnya sejauh ini," kata pengintai kedua.
Pengintai pertama melanjutkan perkataannya. "Tuan muda, jika diinjinkan kami ingin melakukan pengintaian kembali."
Aku mengangguk serius. "Silahkan, tapi jika keadaan mendesa mundurlah uhuk!!... uhuk!... ."

KAMU SEDANG MEMBACA
The Story of Mr.Rigel
FantasyBercerita tentang seorang karyawan sebuah perusahaan yang menjalankan tugasnya untuk pergi mengambil uang di Bank bersama rekanya. Namun, nasib buruk menimpanya, nyawa dari karyawan itu harus berakhir ditangan seorang perampok yang menghadang perjal...