a linner

1.8K 235 47
                                        


"Sasha mau lagi ikannya?"

"Udah Bunda, cukup kok"

"Dek, mau lagi?" aku suka cara Bunda, nawarin aku dulu, baru anaknya yang gemes-gemes ngeselin ini, haha, yang ujungnya ditolak juga sama Iqbaal dengan alasan udah kebanyakan lauk, tapi malah Mama yang nyautin.

"Makan yang banyak Baal, di Melbourne ga ada loh yang begini kalo udah balik nanti"

"Hahahaha, ada kok Ma, kan Sasha bisa masakin"

"Emang bisa, Sha?" Mama menatapku serius. Iqbaal nih, cari gara-gara.

"Belajar lah Ma, kan sering kumpul ramean sama temen-temen dari Indonesia juga di apartemen Iqbaal, banyak yang jago masak" kataku ngeles, ­temen yang mana Sha? Kan berduaan doang sama Iqbaal, batinku, hahahaha.

Kami melanjutkan makan sambil ngobrol di restoran Sunda ga jauh dari venue show  tadi. Bu Dinda dan Kak Irma juga ikut, tapi ga banyak nimbrung di obrolan ibu-anak ini, mereka berdua sibuk makan sembari nyari flight yang aman buatku dan Iqbaal kayaknya.

Iqbaal memang banyak ga terduganya, tadi dia sukses bikin Bu Dinda pucet ketika bilang mau balik bareng aku. Bukan Iqbaal namanya kalo ga keras kepala, meskipun Bu Dinda udah ngingetin, dia bilang he'll take the risk, aku? Makmum aja, ngikut apa kata dia.

"Ayah bilang lagi di deket sini juga Dek, apa Bunda ajak gabung aja ya? Mama Ida ga keberatan kan?" Bunda bertanya kepada kami setelah membaca pesan di HPnya, yang tentu dari Ayah Herry.

"Ajak aja Bun, udah lama banget juga saya ga ketemu Ayahnya Iqbaal, terakhir di promo Dilan 91 kayaknya ya? Aduh berapa tahun lalu tuh"

"Oke deh, Bunda pesen menu tambahan kalo gitu, ga terlalu jauh katanya, paling 10 menit sampe"

Gleg.

Aku yang gemeteran sekarang, sama kayak Mama, aku juga udah lama ga ketemu Ayahnya Iqbaal. Perutku mendadak kenyang. Kuletakkan sendokku dan menenggak habis es kelapa muda yang tadinya sisa setengah gelas.

"Kenapa, Yang? Kepedesan?" Iqbaal dengan polosnya menanyaiku, tangannya belepotan sambel, keringat mengucur dari sisi keningnya, fix, dia yang kepedesan.

"Hah? Ga kok, kenyang, nih buncit" kataku sambil menunjuk perut.

"Jangan bahas-bahas buncit ah, tar dikira kita udah ngapa-ngapain, padahal kan belom, aku baru rencanain" bisiknya.

Kucubit paha Iqbaal di bawah meja, kepedesan tapi masih bisa mikir jorok, dasar.

Ga lama, Ayah Herry datang bergabung, beliau memeluk Bunda, menyalami Mama, Bu Dinda dan Kak Irma, menyapa putra kesayangannya, dan aku, Ayah merangkul kami berdua di sisi kanan kirinya, hatiku hangat.

"Ah, maaf ya jadi berjeda makannya, ayo lanjut, lanjut, gimana tadi shownya Sasha? Lancar?" alih-alih menanyai Iqbaal, Ayah justru bertanya padaku.

"Alhamdulillah, lancar Ayah, eh, Om" otakku mendadak beku, aku lupa harus bagaimana menyapa Ayah Iqbaal. The very last time we met was years ago, did I call him Ayah? Or Om? Aduh kok aku bisa lupa banget sih.

"Hahahaha, Ayah aja, Sha, lebih enak didenger, iya kan Dek?" Ayah tertawa sambil menepuk punggung anaknya, membuat dia terbatuk.

"Uhukkk, iya, iya suka-suka Ayah deh gimana ya"

Beliau kembali tertawa renyah, aku sangat menyukai sosok Ayah Iqbaal, bikin kangen sama almarhum Papa.

"Jadi Mama Ida, kapan anaknya boleh dilamar buat jadi mantu di rumah saya?" Ayah beralih menggoda Mama sekarang.

Melbourne ApartmentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang