"Baal, udah mateng loh, makan yuk!" aku mengelap satu dua tetesan keringat yang mengalir di pelipisku. Lumayan juga nih masakan, aku udah cicipin sih enak, semoga Iqbaal suka deh.
"Baaaaaaall...?" aku memanggilnya lagi karena dia tidak menyahutku. Akhirnya aku melongok ke samping, dan menemukan dia sedang duduk tahiyat akhir, sholat dzuhur. Kayaknya aku terlalu sibuk pada perindomian ini sampai tidak menyadari Iqbaal lalu lalang ambil wudhu di belakangku.
"Masyaallah, beneran jadikan dia imamku ya Allah, anak bandel tengil yang soleh ini," tanpa sadar aku berbisik dalam hati.
Setelah menyelesaikan salamnya, Iqbaal memandangku.
"Sini salim" katanya sambil nyengir dan mengayunkan tangannya memanggilku.
Aku balas dengan ketawa, "Ga mau ah, kecuali abis salim kamu kasih uang" kataku.
Iqbaal melipat sajadahnya lalu mendekat ke meja makan. Dua mangkuk penuh indomi berkepul, dua gelas susu panas, dan buah yang sudah aku potong-potong rapi terhidang cantik.
"Yuk makan, kalo dingin ga enak, cocok sama cuacanya mendung gini."
Iqbaal menarik kursi di sampingku, setelah duduk dia menatapku serius.
"Ya, kamu ga kasih obat tidur kan makanannya?"
"Hah? Apa? Obat tidur?" aku bingung
"Iya, obat tidur. Siapa tau kamu udah rencanain kan, biar aku ngantuk trus kamu bebas ngapa-ngapain aku." Iqbaal menyilangkan kedua tangannya menutupi dada sambil bergidik seolah ngeri.
Aku mencubit pinggangnya gemas.
"Enak aja, ada juga aku yang kuatir tau!"
Iqbaal yang tadinya tertawa-tawa berubah diam mendengar kalimatku.
"Kamu kuatir aku ngapa-ngapain kamu Ya?" dia bertanya sambil mendekatkan wajahnya. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang sekali.
"Ya, serius?"
"Ya ga lah Baal, lagian kamu mau ngapain emangnya? Ga mungkin ngapa-ngapain juga kan?" jawabku sok tenang.
"Kalo emang aku mau gimana dong?" Iqbaal makin mendekat, jarak kami hanya bersisa beberapa millimeter aja kayaknya. Mukaku rasanya panas banget. Refleks aku menutup mata dengan sedikit panik, bisa kurasakan hembusan nafas Iqbaal menyapu pipiku.
Tiba-tiba tawanya meledak.
"Hahahahahaha, Ya, muka kamu lucu banget!"
"Iqbaaalll !!!!!" aku membuka mata dan mendengus kesal lalu kembali menghujaninya dengan cubitan.
"Ampun Ya, ampuuunnn, udah, udah aku bisa mati kelaparan nih kalo ga buruan makan, ampuuuunnn hahahahaha"
Perhatian kami kini tercurah ke meja makan, Iqbaal bilang indominya enak, mirip bikinan abang-abang mi tektek yang jarang cuci tangan katanya, hahahaha
Bahagia sekali aku melihat Iqbaal makan dengan lahap. Apakah ini gambaran masa depan kami? Semoga ya.
Sesi makan dengan candaan-candaan kecil itu tidak akan berakhir kalau saja Iqbaal tidak mengingatkanku untuk segera sholat dzuhur.
"Keburu abis waktunya, Ya. Biar aja ini piring diberesin nanti. Kamu sholat dulu, bawa mukena kan?"
"Bawa kok"
"Okay, kamu sholat, aku mau beresin kerjaan aku dulu ya. Abis sholat kamu santai aja. You can use my comfy bed, rebahan dulu, capek pasti kamu"
Iqbaal is Iqbaal, ga suka diganggu kalo lagi serius sama apa yang dia kerjain. Jadi aku menurut saja apa katanya.
Selesai sholat, aku menuju ke ranjang yang berada tepat di belakang Iqbaal. Bukannya tiduran, aku cuma duduk di tepian sambil mengintip apa yang sedang Iqbaal kerjakan dari balik punggungnya. Merasa diawasi, Iqbaal menoleh.
"Do you mind?" dia bertanya sambil menunjuk layar macbooknya dengan dagu. Song arrangement, I guess.
"Ga kok, kamu lanjutin aja kerjaannya, aku mau mau baca ini juga" jawabku sambil menunjukkan buku di tanganku, Lisa Congdon.
"Sure then, tiduran aja Ya, santai, jangan kaku begitu. Aku ga ngiler kok di kasur hahahaha"
"Iya deh, capek juga duduk di pinggiran gini, hahahaha"
Beberapa menit berlalu, sepertinya aku cuma sanggup menyelesaikan empat halaman buku yang tadinya semangat banget kubaca. Tempat tidur Iqbaal yang nyaman dan sisa-sisa samar wangi parfumnya yang sangat kukenal membuaiku. Aku ketiduran, ga tau berapa lama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melbourne Apartment
FanfictionDISCLAIMER : CERITA INI ADALAH FANFICT, HALU SEMATA, SO PLEASE NO OFFENSE BUAT SIAPAPUN YANG BACA, DIBAWA HAPPY AJA YA BEBS! This story is slightly 21+, so be wise ya :)))
