Aku berulang kali menanyai Kak Ryan, apakah makeup-ku sudah beneran sempurna, yang berkali-kali juga dijawab Kak Ryan dengan keyakinan penuh, my makeup is perfect.
Berusaha mengurangi nervous, aku sejak semenit lalu mondar-mandir (jangan dibayangin jalanku cepet ya, ini pake kain, jadi pelan jalannya hahahaha) di depan cermin sambil tarik lepas nafas panjang, jujur ini aku degdeg-an super, after years, baru kali ini aku akan kembali sepanggung dengan Iqbaal, yang meskipun di belakang layar adalah pacarku, tapi kan nanti di muka umum ga boleh ketauan.
Sementara Iqbaal terlihat jauh lebih tenang daripada aku, dia duduk santai sambil membaca sebuah buku, Haruki Murakami, bacaan yang terlalu berat untuk saat genting seperti ini. Tapi aku tau, dia tidak benar-benar membaca, beberapa kali aku melirik dengan sudut mataku, dia ketauan lagi ngeliatin aku yg kelimpungan ini.
Iqbaal akhirnya menutup bukunya,
"Sayang, calm down, all is well, we gonna make it, come" katanya memanggilku mendekat.
Aku menurut, dan kini aku ada di depan Iqbaal yang masih duduk, ganteng banget dia, beneran berasa mau dinikahin deh aku, hehehehe
Iqbaal menggenggam tanganku,
"Look, we gonna make it. Kenapa? Karena nanti di atas catwalk, ya udah kita natural aja, kan emang pacaran, baru kalo orang tanya, disangkal, gitu, simple kan? Bukannya dari dulu kita emang udah kayak pacaran?"
Lagi, aku menarik nafas panjang,
"Kamu ga nervous, Yang?"
"Ehmmmm ehmmmmmm" Kak Ryan berdehem, aduhhh bodohnya aku, keceplosan manggil Iqbaal pake Yang.
"Ihhhh Kak Ryan jangan diledekin donggg, Sasha lagi grogi berat nih"
"Eittss awas, jangan gigit bikir Sha, awaaasss jangan dirusak lipstiknya" Kak Ryan hafal kebiasaanku, suka gigitin bibir.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan kami terbuka, Kak Irma yang masuk.
"Kalian udah siap? Bentar lagi kita ke backstage ya. Sesuai gladi tadi pagi, Iqbaal duluan, baru Sasha ya."
"Ibu mana Kak?" tanya Iqbaal.
"Di depan sama Bunda Rieke dan Mama Ida, urus seat beliau berdua sekalian nemenin, makanya brief kamu dititipin ke Kakak ini Baal, toh kalian couple ini"
"Soal interview gimana Kak? Jujur Sa agak kuatir sama media" kataku.
"Media udah di brief sih, buat nanyain soal expo aja, tapi who knows kan" Kak Irma memandangku dan Iqbaal bergantian sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Oke, jadi gini, soal interview, foto kalian yang tempo hari, jadi highlight banget di expo ini. Sempet ngecek ga komen-komennya di IG? Ribuan, hahahaha, insight-nya bagus banget. Jadi, udah pasti kalian berdua bakal dapet lebih banyak spotlight dibandingkan couple lain. Interview ada 2 sesi, pertama doorstop nanti setelah turun stage, lalu yang kedua setelah acara selesai, menggantikan presscon yang biasanya di awal. Kakak dan Bu Dinda sepakat ga akan ngasih key apapun untuk do and don'ts ketika interview nanti, you both do you, hanya saja satu pesen kami : jaga semuanya, inget perjalanan masih panjang di entertainment"
Penjelasan Kak Irma selesai tepat ketika pintu diketuk, salah satu runner expo, menginfokan kalau kami harus bersiap. Tanganku rasanya semakin dingin.
"Mau dipeluk dulu?" Iqbaal berkata sambil bangkit dari kursinya.
Tanpa aba-aba, Kak Irma, Kak Jimmy, dan Kak Ryan spontan memandang ke arah kami, aku langsung malu.

KAMU SEDANG MEMBACA
Melbourne Apartment
FanfictionDISCLAIMER : CERITA INI ADALAH FANFICT, HALU SEMATA, SO PLEASE NO OFFENSE BUAT SIAPAPUN YANG BACA, DIBAWA HAPPY AJA YA BEBS! This story is slightly 21+, so be wise ya :)))