"Welcome to the real messy crib, Miss Prescilla" kalimat yang keluar dari bibir Iqbaal setelah dia berhasil membuka pintu apartemennya dengan tangan yang penuh hasil buruan kilat di supermarket tadi. Pertama kalinya aku memasuki ruangan pribadi Iqbaal, bukan kamar Dilan.
Aku menjatuhkan diri di sofa sambil memandang sekeliling sementara Iqbaal sibuk memasukkan belanjaan kami ke kulkas. Tempat ini nyaman sekali. Dapur kecil yang manis dengan meja makan minimalis, sofa, tempat tidur menghadap ke jendela besar, dan meja kerja yang penuh tumpukan buku.
"If only you are wondering. Ini semua settingan Bunda dan Ibu, aku ngikut dan terima jadi aja, yang penting bisa buat tidur hahaha" aku cuma tersenyum.
Iqbaal berjalan ke arahku, membawa 2 cangkir yang masih mengepul.
"Minum, Ya, anget nih. Sini mantel kamu biar aku gantung di depan" aku menurut, melepas mantelku, menyerahkannya pada Iqbaal lalu menyesap coklat hangat perlahan sambil terus menatap sekeliling.
Mataku terhenti pada jajaran foto polaroid di atas meja kerja Iqbaal, meski dari jauh, aku sangat mengenalinya, fotoku, foto kita, Aku berdiri dan berjalan mendekati meja itu.
Memandangi foto-foto yang terpasang rapi itu membuat dadaku hangat, entah karena coklat yang barusan atau karena perasaan aneh yang menelisik.
Aku nyaris berteriak kaget ketika tiba-tiba Iqbaal melingkarkan tangannya memelukku dari belakang.
"I miss you, Ya, seriously, and you haven't answer me yet, kayaknya kamu ga kangen aku ya? I said it twice within less than an hour"
Spontan aku membalikkan badan, lalu memeluknya erat, menahan sekuat tenaga air mata yang sudah mengambang nyaris jatuh. Perasaanku campur aduk.
"I miss you more than I know I could be, Baal. Sometimes it hurts me"
"Hey, no more tears, okay? Look, we are here now"
Aku mendongakkan kepala tanpa menjauh darinya, mencari kejujuran di mata Iqbaal, and I found it. And then he kissed me, on my forehead, hatiku hangat.
"Eh, kok kamu cium aku sih!" teriakku padanya, pura-pura kesal dan melonggarkan pelukanku.
Iqbaal kaget, melepaskan bibirnya dari keningku dan terlihat bingung.
"Ya, sorry, I don't mean it, it just happened" lucu sekali mukanya, aku menahan tawa.
Gemas sekali aku pada Iqbaal, si polos yang keras kepala, secepat kilat aku mencuri cium bibirnya lalu setengah berlari kembali menuju sofa dan berbaring menelungkup menghindari pandangan Iqbaal.
Reaksi Iqbaal gimana? Kaget lah pasti hahahaha, tapi ga lama dia langsung sadar dan mengejarku ke sofa, berusaha menarikku balik badan menghadapnya. Kami ketawa-tawa sampai akhirnya aku menyerah dan duduk di sampingnya. Menyandarkan kepalaku di bahunya sambil kembali meminum coklat hangat dari cangkirku.
"Jadi mau diwakilin apa langsung?" Iqbaal mereka adegan Dilan 91 di sampingku, dengan tangannya yang seolah sedang bicara.
Sontak aku menoleh ke arahnya, sungguh aku tidak bisa menahan senyumku. Kuletakkan cangkirku kembali di meja,
"Langsung aja" jawabku malu-malu sambil ikut mengangkat tanganku mendekat ke tangan Iqbaal.
Then it happens, sama persis seperti take adegan ruang tamu 2 tahun lalu, tatapan mata Iqbaal yang dalam, harum rempah parfum favoritnya yang menenangkan, juga sentuhan tangannya yang membuat tubuhku bergetar. Perlahan Iqbaal mendekat, menarik daguku ke arahnya, lantas aku sepertinya sudah entah ada di langit mana ketika bibirnya yang lembut mengecup bibirku perlahan, lalu bergerak makin dalam, hangat. I can stay here for a long time, Baal, or maybe, forever, I swear it.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melbourne Apartment
FanfictionDISCLAIMER : CERITA INI ADALAH FANFICT, HALU SEMATA, SO PLEASE NO OFFENSE BUAT SIAPAPUN YANG BACA, DIBAWA HAPPY AJA YA BEBS! This story is slightly 21+, so be wise ya :)))
