menjadi wanita seutuhnya

6.4K 307 11
                                        


Aku mulai ga yakin sama diriku sendiri, perasaan macam apa ini. Masa iya aku kecewa? Kecewa karena ga jadi nginep di sini? Ga mungkin lah. Semoga saja Iqbaal ga sadar sama apa yang aku rasain.

Aku menyisir rambutku, sedikit touch-up, lalu mengambil mantelku di depan pintu sementara Iqbaal sibuk menelepon.

"Oh, gitu ya Kak? Oke deh, gapapa kok....... Iya, tenang. Bunda bilang ga Kak aku minjem mobil buat apa? Oh, ga sih, tanya aja, hehehehe. Iya Kak, besok deh ya. Benerannn, serius, I still can get the public transport. Sure, bye"

Aku mematung di depan Iqbaal yang garuk-garuk kepala.

"Yuk Baal, aku udah siap"

"Ya, Kak Mentari ada urusan mendadak, jadi ga bisa pake mobil nih. Is public transport okay? Tapi kita mesti jalan dulu lumayan jauh kayak tadi, gapapa ya?"

Oh, ternyata Kak Mentari ga bisa pinjemin mobil, okay public transport with Iqbaal won't go bad, I bet.

Baru saja Iqbaal selesai memakai topi andalannya dan kami beranjak ke pintu, mendadak mendung yang sedari pagi menggantung berubah menjadi hujan lebat. Aku dan Iqbaal bersamaan memandang ke jendela besar di belakang kami, lalu tertawa berbarengan.

"Hahahahaha"

Entah mengapa, aku menangkap rona lega di wajah Iqbaal.

"So, it is raining now, Ya"

"Yes, it is, Sir. Heavily."

"Hahahaha, then, a sleepover, Miss?"

"It doesn't seem like I have another option, aku belom siap masuk angin sendirian, baru juga seminggu di Melby" kataku sambil mengangkat bahu, berusaha santai, padahal aku sedang menjaga nada bicaraku supaya ga kedengeran sumringah.

Iqbaal menggantung kembali jaketnya dan mantelku, sementara aku meletakkan tasku dan mengambil segelas air dingin.

"I need some water to calm myself" batinku.

"Ya?"

Aku berbalik, dan terkejut mendapati Iqbaal sudah berdiri di belakangku. Iqbaal menatapku dengan matanya yang ehm mematikan. Dia mengambil gelas yang kupegang dan meletakkannya di samping tanpa melepaskan pandangannya dariku.

"Kenapa Baal?" jujur aku panas dingin ditatap begitu.

"Jadi kamu nginep di sini kan?"

"I-iya, kan emang ga bisa pulang, kenapa Baal?" aku mengulang pertanyaanku sambil sedikit beringsut mundur, sialnya aku sudah mepet dengan dinding, I can't escape him.

"Aku udah mau ini dari lama banget Ya." Iqbaal makin mendekatiku, aku mulai kuatir dia bisa mendengar detak jantungku dari jarak seintens ini.

"Kenapa Baal?" lidahku kelu, pertanyaan yang sama lagi, kenapa, yang mungkin sebenarnya aku udah tau jawabannya.

"Aku mau bikin kamu ngerasain jadi wanita seutuhnya, Ya"

Aku menelan ludah, tatapan mata Iqbaal berubah sendu. I lost words, aku cuma bisa menggenggam sisi bajuku dengan gelisah tanpa bergerak sama sekali. Hujan di luar masih deras, dan apartemen Iqbaal berAC, tapi kenapa aku ngerasa gerah banget.

"Kalau aja kamu tau, Ya, seberapa pengennya aku ngelakuin ini" Iqbaal melanjutkan kalimatnya dengan nafas tertahan. Perlahan tapi pasti, Iqbaal melepaskan kaosnya dan melemparkannya ke lantai. Dia makin mendekat, kali ini merapat ke samping leherku.

Aku kehabisan napas, I can clearly see Iqbaal's sexy chest that always look tempting for me, and smell his seductive perfume, I think I'm gonna die of suffocating.

Dengan halus, Iqbaal berbisik ke telingaku,

"Aku mau bikin kamu jadi wanita seutuhnya, Ya, jadi tolong kamu beresin piring bekas kita makan siang tadi, aku mau mandi trus magriban"

Aku membeku sejenak, berusaha mencerna kalimat Iqbaal, dan sekian detik kemudian aku mendorong Iqbaal dan mengumpatnya dengan kesal,

"Iqbaaallll !!!!!! Apasih kamu dasar ya, bandel, tengil!" aku memukuli lengannya dengan gemas. Astaga, cowok ini nyaris bikin aku mati berdiri.

"Ya, ampun Ya, hahahahahaha kok malah marah sih, tadi kan ga marah, aku mau kamu jadi wanita seutuhnya Ya, beres-beres, hahahaha. Ampun Ya, ampun, emang kamu kira aku mau ngapain? Hahahaha ampuun Ya!" Iqbaal memohon ampun tapi sama sekali tidak menghindar dari pukulanku yang lumayan kenceng. Tawanya belum juga berhenti. Aku yang capek.

Kuambil kaosnya dari lantai dan kulemparkan ke mukanya.

"Nih, sana mandi, aku mau cuci piring!" aku malu sekaligus gemes banget sama dia.

"Hayoooo, kamu mikir aneh-aneh ya Ya? Hahahaha"

"Ih apasih, ga dong, enak aja. Udah sana mandi buruan!"

"Hahahahahaha" Iqbaal pun berlalu ke kamar mandi setelah sebelumnya mencuri cium pipiku, yang kubalas dengan cubitan di pinggangnya.

Oh my, he made me madly in love with him. Sepertinya, aku bisa buka peternakan kupu-kupu sepulang dari sini.

Melbourne ApartmentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang