DISCLAIMER : CERITA INI ADALAH FANFICT, HALU SEMATA, SO PLEASE NO OFFENSE BUAT SIAPAPUN YANG BACA, DIBAWA HAPPY AJA YA BEBS!
This story is slightly 21+, so be wise ya :)))
This is not my casual morning, biasanya gua cuma bikin sarapan buat gua sendiri, but now, I made it for two. Ga percuma emang jadi anak rantau, gua jadi dikit-dikit bisa create makanan sendiri. Andalan gua nih kalo pagi, smashed avocado and sunny side up.
"Baal, aku maunya scrambled, boleh?" Lia, yang gua larang bantuin masak, punya special request.
"Untuk tuan puteri, apapun boleh" jago juga gua ngegombal ya hahahaha
"Jangan terlalu mateng, pake butter yang banyak, aku bikin salad kali ya, menebus dosa pizza semalem" katanya sambil sekarang sibuk dengan isi kulkas.
"Makan salad tapi minta butter banyak di telurnya, ga jadi diet dong Ya namanya"
"Emang aku bilang kalo diet? Gendut ya aku Baal?" protes Lia yang lebih terdengar seperti menggumam, sibuk mengunyah apel.
"Siapa yang bilang gendut? Emang kalo gendut juga kenapa? Malah enak, empuk" gua nyengir sambil mengaduk-aduk scrambled egg di saucepan kuatir terlalu mateng.
"Jadinya aku gendut atau ga?" Lia mencubit pinggang gua dari samping
"Ga Lia, ga, aduh ampun cubitan kamu sakit ih, aku ga konsen loh masaknya, ampun"
"Kamu dihukum karena ngeledekin aku, bikinin salad sekalian, aku mau telpon Kak Irma dulu"
"Eh, kok manfaatin keadaan sih kamu, hahahaha. Tunggu Ya, aku bikinin deh, tapi semangatin dong, sun dulu" sumpah gua becanda ini, tapi tanpa gua duga, Lia beneran berbalik, mencium pipi gua sekilas, lalu ngeloyor ke meja kerja gua.
Gua jadi salting, hehehehe
"Nah gini kan semangat naik 180 derajat Ya, kamu minta masakin steak ikan paus juga aku sanggup"
"Baal, ga usah ngarang deh, udah masak yang bener, nyonya mau kerja dulu ya"
"Siap, nyonya" Lia bener-bener bikin gua happy pagi ini.
-----------------------------
Aku sedang menunggu telpon dari Kak Irma ketika bel pintu berdenting, Iqbaal ke mana? Masak dia hehehehe, aku udah berniat baik mau bantuin, eh dianya ga mau.
"Baal, ada tamu deh kayaknya" aku berteriak dari kursiku, siapa sih pagi-pagi begini.
"Ya, bisa tolongin ga? Cek dong siapa, kecuali kalo kamu mau toast-nya gosong, aku yang bukain pintu"
"Kamu ada janji sama seseorang? Atau ada yang biasa bertamu pagi-pagi begini?" aku bertanya menyelidik
"Ga ada Lia, makanya coba kamu liat dulu deh, aku kan sibuk" Iqbaal nyengir sambil memamerkan spatulanya.
Aku agak sebel sejujurnya, terbayang di kepalaku adalah temen Iqbaal yang dateng, kalo emang iya, sesi sarapan berdua bareng Iqbaal terancam gagal.
Aku bercermin sekilas sebelum mengintip dari door viewer, kayaknya sih cowok, bule, dia berdiri membelakangi pintu.
Cklekk ...
"Hi, good morning Miss Prescilla, I'm David from Adam The Flower Man, and here's your lovely bouquet. May I have your sign here?"
Orang yang berada di pintu apartemen itu ternyata seorang pria paruh baya, membawa sebuah buket bunga sebesar pelukan orang dewasa. Aku yang masih kaget dengan gagu menuliskan namaku di tanda terima yang dia ulurkan.
"Thank you, may you have a good day Miss, those flowers fit you so much"
"Thank you" hanya itu yang bisa kukatakan ke pria tadi sebelum dia berlalu, sementara aku masih berdiri mematung dengan buket di pelukan dan hati yang tidak kalah berbunga ketika teriakan Iqbaal menyadarkanku.
"Yaaaa lama amat, siapa sih? Sarapan yuk, udah beres nih"
Aku menutup pintu dengan wajah berseri, Iqbaal ternyata bisa romantis juga, langkah kakiku rasanya ringan sekali, dengan malu-malu aku mendekati Iqbaal yang berdiri memunggungiku, sibuk merapikan piring di meja makan.
"Ehm, Baal"
"Baal..." aku memanggilnya lagi karena dia tidak bergeming
"Sayang..." selesai mengucapkan kata ini, pipiku rasanya panas sekali, malu.
"Apa Ya? Kamu panggil apa aku barusan?"
"Hehehehe, thankyou ya bunganya, aku suka banget" kupeluk bunga itu lebih erat.
Iqbaal menatapku dengan muka bingung.
"Kamu dapet bunga dari siapa Ya?" tanganku mendadak berubah dingin demi mendengar kalimat ini.
"Loh ini bukan dari kamu Baal?" aku mulai panik, memandang Iqbaal dan bunga ini bergantian.
"Pengirimnya bilang ga dari siapa?"
"Ga bilang apa-apa"
"Kok kamu terima?"
"He said its is for Miss Prescilla, kan itu aku? Beneran bukan dari kamu Baal?" aku bergidik ngeri, memikirkan siapa yang iseng mengirimkan bunga untukku, padahal kan ga ada yang tau aku ada di apartemen Iqbaal.
"Iqbaaaaaaalll !!! Kamu ya, ngerjain aku lagi!" ternyata memang Iqbaal pengirimnya, padahal aku sudah mulai sakit kepala mikirin siapa yang jahilin aku. Dengan sigap Iqbaal menjauh dariku, sebelum sempat kucubit lagi dia.
"Hahahaha, tentu dari aku, Lia, glad you like it" pipiku bersemu lagi.
"Kamu ngapain sih kirim-kirim bunga begini, kirain kamu ga bisa romantis"
"Aku? Ngapain?"
"Iya"
"Aku lagi jawab challenge kamu"
"Challenge yang mana?"
"Saying I love you without using those three words" sekarang kayanya seluruh mukaku udah berubah warna jadi merah.
"Thankyou again, Sayang"
"Lagi dong Ya"
"Apanya yang lagi?" tanyaku
"Panggil sayang, hehehehe, enak"
"Apasih Baal, hahahaha"
"Udah yuk sarapan dulu, laper, butuh tenaga banyak buat hari ini"
"Mau ngapain emang Baal?"
"Ada lah, mau kan?"
"Mau apa?"
"Mau aja dulu Ya" aku tertawa lagi, Iqbaal emang ga pernah gagal bikin aku seneng.
"Iya deh mau"
"Beneran ya"
"Asal ga aneh-aneh" timpalku
"Bukannya kamu suka yang aneh Ya?" lagi, dia menggodaku
"Iqbaal! Udah! Hahahahaha"
Kami pun kemudian sarapan, dengan pemandangan buket bunga besar yang membuat pagiku ini rasanya cerah sekali, Iqbaal started it right.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.