cafuné

6K 296 14
                                    


Me and Lia were in the middle of endorphin waves when Rinrin is calling. Damn, ngeselin juga ini anak kadang-kadang, dengan malas gua angkat teleponnya, beranjak dari Lia yang sekarang sibuk merapikan piyamanya yang kusut.

Meskipun kesel, gua ga bisa nyembunyiin ke Rinrin betapa happy-nya gua. Apalagi ketika Lia nimbrung ke video call gua tanpa sungkan, dan dia tidak tersinggung dengan celotehan Rinrin yang triggering. Demi menyelamatkan tengsinnya gua didepan Lia, gua minta dia bikinin cokelat panas, sebelum Rinrin mengoceh lebih jauh.

"Anjir lo Bay, udah tinggal bareng aja sama Sasha, hahahahaha. Gue tanya sekali lagi nih, are you guys in the middle of something a moment ago? Hahahahaha"

"Rin, udah deh, resek lo ya"

"Hahahahaha asli gue ngakak mulu Bay, yakin lo kuat nahan diri liat Sasha pake piyama gitu? Play safe ya, pake pengaman, duh lepas perjaka nih hahahahaha"

"Setan lo ya Rin, hahahahaha. Udah fokus, I only have a couple of minutes"

"Udah ga sabar ya?" belom capek juga minion ini ngeledek gua.

"Rin, gua ngambek nih ya"

"Hahahahaha sorry sorry, but honestly Bay, I'm happy for you, ga perlu mikirin mulut orang lagi, bisa barengan bebas sama Sasha"

"Indeed, thank you by the way. So, gimana draft terakhir yang gua kirim tadi sore?"

Gua ngobrol sama Rinrin soal album, Lia sudah berpindah dari dapur ke ranjang, setelah sebelumnya naruh secangkir cokelat di meja depan gua.

Dari belakang, gua liat dia sibuk memilih-milih film di Netflix, kayaknya ga ada yang menarik buat Lia. Ended up Lia matiin TV dan lebih prefer muter musik lewat speaker ruangan, menyusun beberapa bantal jadi satu, bersandar di situ, lalu sibuk dengan HPnya.

Obrolan gua dan Rinrin jadi lumayan panjang, gua sempet minta maaf ke Lia sembari ngambil laptop dari meja kerja di samping dia.

"Maaf ya Sayang, ga bisa ditunda soalnya, deadlines. Sorry..." kata gua sambil mengecup keningnya.

"It's okay Baal, aku main game kok ini" Lia tersenyum tulus sambil menunjukkan layar HPnya ke gua.

"Thankyou Baby"

"Bay, woy! Gue denger dari sini anjir, udah baby-baby an aja lo! Hahahahaha"  Rinrin, berteriak dari dimensi lain.

"Iya Nyet, tunggu kenapa sih, usil aja lo" 

--------------------

Aku menguap beberapa kali, mengusir kantuk yang mulai datang. Almost an hour passed sebelum akhirnya Iqbaal menyelesaikan conference call-nya dengan Rinrin dan Kak Sani yang bergabung sekitar setengah jam lalu. Aku masih berada di tempat yang sama, bersandar pada bantal, menyembunyikan kakiku di bawah selimut sambil scrolling Instagram dan menikmati musik yang mengalun dari speaker.

"Sorry ya Ya, aku kira ga akan selama ini" Iqbaal minta maaf lagi, dia menyusulku, masuk ke dalam selimut.

"Bantalnya ketinggian, Sayang, jadi ga bisa rebahan, bentar deh aku rapiin" tanpa disuruh, aku bangun. Iqbaal menurunkan bantal yang tadinya kususun, menjajarkannya, lalu memberikan kode padaku untuk kembali berbaring di sampingnya.

Alih-alih melakukan apa yang Iqbaal minta, aku lebih memilih menjatuhkan kepalaku di dadanya.

"It is such a blessing to be this close to your heart, Baal, literally" dapat kurasakan detakan jantung Iqbaal dari jarak sedekat ini.

Melbourne ApartmentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang