Aku masih sibuk membalas beberapa pesan whatsapp ketika Iqbaal mengulurkan handuk ke arahku.
"Mandi sana Ya, trus ikut aku yuk"
Aku yang sejujurnya masih berusaha mengatur kepingan kewarasanku, dari segarnya pemandangan Iqbaal habis mandi, dan pikiran-pikiran nyeleneh lain selepas adegan Iqbaal kelupaan bawa handuk tadi, bingung mendengar ajakannya.
"Ikut ke mana? Kamu mau pergi pake sarung gitu?"
"Jadi makmumku, magrib nih" Iqbaal menjawab sambil nyengir.
"Oh, kirain kemana hehehe. Iya deh, aku mandi, tapi awas dulu, ngadep sana, aku mau ambil baju. Kamu balik badan dong" perintahku.
"Ambil apa? Liat dong, Ya" Iqbaal malah melongokkan kepalanya, kepo sama isi tasku.
"Iqbaal! Ih jangan ngintip! Balik badan ga?" aku mengancamnya.
"Hahahaha, iya deh iya, nih aku balik badan ya" dia akhirnya menurut, meskipun senyuman usil masih tersungging di bibirnya.
Secepat mungkin aku mengambil toiletries bag dan baju ganti dari dalam tasku.
"Udah nih, sini anduknya"
Iqbaal memutar badan kembali menghadapku, kuraih handuk dari tangannya.
"Eits, awas, jangan kena tangan Ya, nanti wudhuku batal"
Mendengar kalimat itu, jiwa isengku muncul, kuambil handuk itu hati-hati tanpa menyentuh tangan Iqbaal, tapi lantas dengan gemas kucubit hidung mancungnya lalu bergegas lari ke kamar mandi sambil tertawa.
"Lia !!! Kamu ya!"
"Wleeeeeee, kena juga kan kamu hahahahaha" aku menjulurkan lidah sebelum menutup dan mengunci pintu kamar mandi.
Rasanya aneh ya, baru kali ini aku numpang mandi di kamar cowok, aroma maskulin Iqbaal masih tercium di sini. Damn, he is hot.
Buru-buru aku mandi sambil bersenandung kecil, berharap bisa lebih santai memikirkan malam yang menjelang, sedangkan hujan masih enggan berhenti nampaknya.
Sejenak aku mematut diri di depan cermin seusai mengenakan piyamaku. Ini bukan pertama kalinya Iqbaal bakal liat after-shower face ku, 3 tahun yang lalu semasa syuting Dilan 90, mungkin ini adalah hal yang biasa buat Iqbaal setiap pagi. Tapi kali ini beda. Final touch, aku memulaskan lipgloss tipis, merapikan sudut-sudut piyama yang agak kusut, lalu menarik napas dalam sebelum memantapkan diri keluar dari kamar mandi.
"Udah wudhu, Ya?"
"Udah kok, sholat sekarang?" dadaku berdesir melihat Iqbaal, the most wanted Indonesian man is now sitting in front of me, pake kaos oblong dan sarung, not in those fancy Givenchy nor Gucci, I bet girls would kill to be me right now.
"Pizza for dinner?" tanya Iqbaal.
"Sure, a delivery? The rain won't stop, I guess"
"Semoga ada ubereats yang berbaik hati menyelamatkan pasangan kelaparan ini ya hahahaha"
Iqbaal bangkit dari duduknya, menggelar 2 sajadah berdampingan dan memanggilku mendekat.
"Yuk, Ya"
Leherku tercekat, ada rasa haru yang kutahan. Udah lama banget sejak terakhir kali Iqbaal jadi imam sholatku. Dan begitulah, aku mengikuti setiap gerakannya, menjadi makmum yang baik, mendengarkan dan menyimak tartil bacaan suratnya yang syahdu, masyaallah.
Iqbaal menutup sholatnya dengan doa yang aku amin-kan, entah apa, lalu dia menoleh. Aku sudah bersiap meraih tangannya, yang malah dia tarik menjauh.
"Ga boleh salim?"
Iqbaal nyengir. "Nanti aja Sayang, sekalian nunggu Isya', dari kecil kalo lagi di rumah Bunda selalu biasain aku ngaji diantara magrib dan Isya'"
"Hah, apa?"
"Ngaji, Lia"
"Bukan, kamu tadi mangil aku apa Baal?"
"Sayang.." dia menjawab sambil tersipu malu.
Mukaku merah padam, kayaknya udah mirip sama kepiting rebus, malu tapi seneng.
"Kamu tunggu aku ngaji, trus kita sholat Isya' sekalian, abis itu tinggal nungguin pizza dateng, makan deh, gimana?"
"Okay, kapan lagi dengerin Iqbaal Dhiafakhri Ramadhan ngaji live" candaku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melbourne Apartment
Fiksyen PeminatDISCLAIMER : CERITA INI ADALAH FANFICT, HALU SEMATA, SO PLEASE NO OFFENSE BUAT SIAPAPUN YANG BACA, DIBAWA HAPPY AJA YA BEBS! This story is slightly 21+, so be wise ya :)))
