2 centimeters

5.6K 370 56
                                        


"Kenapa Baal?" sedari tadi kulihat Iqbaal nyetir sambil cengar-cengir.

"Hmmm? Oh, eh, gapapa, kenapa sih Ya?"

"Dari tadi kamu senyum-senyum sendiri"

"Aku? Bukannya kamu?" pipiku memanas.

"Masa aku senyum-senyum? Ga ih, kamu tuh"

"Hahahaha, iya kamu dari tadi kayak kesengsem tau ga. Seneng banget punya pacar cakep ya?" Iqbaal mencubit pipiku.

"Kok nyubit sih, awas ih, nanti makeup aku rusak" kataku berkelakar

"Maunya sih nyium Ya, bukan nyubit, tapi kamunya kejauhan, sama ini sih seatbelt ganggu" Iqbaal mencondongkan badannya benar-benar berusaha menciumku, aku tertawa.

"Genit ya kamu"

"Biarin, kan genit sama pacar sendiri, boleh dong" aku tidak menjawab, kuelus kepala Iqbaal lembut.

"Udah mau sampe nih Ya, kamu bawa baju berapa?"

"Lupa deh tadi, asal masukin aja, tapi cukup kok. Ini mobilnya gimana? Kita ke balikin dulu?"

"Kak Mentari lagi balik ke Jakarta, 2 mingguan katanya, jadi mobil aku yang bawa deh"

"Ooh, bagus deh, jadi kita bisa jalan-jalan lagi besok"

"As you wish, Princess"

Iqbaal membelokkan mobilnya masuk ke basement apartemen, memarkirnya dengan aman, lantas mengambil barang bawaan kami di seat belakang, lalu membukakan pintu untukku dan memintaku keluar.

"Kamu bisa bawanya?" aku memandang Iqbaal yang lumayan kerepotan dengan koper dan ransel kecilku, juga ­gym-bag yang tadi dibawanya.

"Bisa kok, enteng ini."

"Sini jasnya dilepas aja, biar aku bawain" aku berusaha menawarkan bantuan.

"Jangan disini dong Ya, nanti aja dikamar, masa mau di parkiran." Iqbaal mengerling nakal.

"Apasih Baal, aku kan mau bantuin" aku pura-pura tidak mengerti maksudnya, padahal kalimat Iqbaal tadi membuat darahku berdesir.

"Bantuin buka baju?"

"Iqbaal!" aku mencubit pinggangnya.

"Hahahahaha, udah, bisa kok, lagian kamu pake heels gitu, yuk"

Aku menyerah dan mengekor Iqbaal menuju ke apartemennya.

-------------------------------------

"Kamu mau aku bikinin minum, teh gitu?" aku bertanya ke Iqbaal sambil meneguk segelas besar air putih yang langsung kuambil begitu masuk ke apartemen.

"Air putih aja Ya, segelas gede kayak kamu tuh" Iqbaal duduk kepayahan di sofa, kasian capek dia.

Aku kembali mengisi gelasku sampai penuh, dan menyerahkannya ke Iqbaal.

"Nih, abisin" dan bener aja, isi gelas itu tandas.

"Kembung deh aku abis ini, minum air segalon"

"Hahahaha, aku juga dong berarti"

Aku kini sibuk melepas heels yang ga seberapa tinggi, tapi lumayan bikin pegel, disusul Iqbaal yang ikut membuka sepatunya.

"Capek Ya?" Iqbaal bertanya padaku sambil meraih remote TV.

"Lumayan, pengen mandi, bentar lagi deh, mau bersihin makeup dulu"

"Kok malah senderan?" Iqbaal beralih dari Stranger Things yang muncul di layar besar di depan kami, dan memandangku.

"Bentar, nafas dulu"

"Emang dari tadi kamu ga nafas Ya? Hahahaha"

"Hampir kehabisan nafas sih" aku menjawab asal sambil kembali memperhatikan bracelet yang melekat di tangan kananku, cantik banget.

"You have such a good taste, Baal" kataku kemudian.

"Bukan aku yang milih"

"Bukan kamu?"

"Iya"

"Terus siapa? Kak Mentari?"

"Bukan"

"Siapa dong?"

"Rahasia"

"Kamu gitu deh"

"Sun dulu nanti dikasih tau" Iqbaal menyodorkan pipi kanannya.

"Ga mau"

"Kok ga mau, aku maksa nih" sekaran dia memutar badan menghadapku.

Aku cuma membalasnya dengan menjulurkan lidah.

"Wleeeee"

"Ya, serius nih, sun dulu" nada bicaranya berubah jadi merajuk, mendadak tanganku jadi dingin.

Aku panik. Padahal ini bukan pertama kalinya. Iqbaal masih tetap berada di posisi awalnya, melepas kancing tuxedo untuk membuat duduknya lebih nyaman, dan menunggu aku bereaksi. Sementara aku mematung seperti kena hipnotis.

"Aku harus gimana nih" batinku

"Come"  Iqbaal berkata halus, sambil menganggukkan kepalanya mengundangku mendekat, lantas ia menutup matanya.

"Come, Ya, I want you" bisik Iqbaal masih dengan mata terpejam.

Aku menarik nafas dalam, dan akhirnya memberanikan diri mendekat kepadanya. Iqbaal's face figure is just perfect, dari jarak kurang dari 2 sentimeter aku berhenti, mengamati lekuk wajahnya, hidung mancung yang menggemaskan, rahangnya yang kokoh, dan bibirnya yang adalah candu untukku.

AC yang berhembus dari belakang Iqbaal berbaik hati membawakan aroma rempah dari balik leher Iqbaal mampir ke hidungku, yang kemudian seperti memancingku untuk semakin mendekat padanya dan menghapus 2 sentimeter yang tersisa.

Aku membasahi bibirku, kedua tanganku yang dingin meraih sisi wajah Iqbaal, kumiringkan kepala dan kupejamkan mataku.

Then there it is, my lips touched his. Bisa kurasakan tubuh Iqbaal menegang saat bibirku menyentuhnya. Iqbaal menarik pinggangku merapat, dan memagutku dengan hangat. Nafas kami beradu.

"Ini ciuman pertama kita, Ya" bisiknya tanpa melepaskan pagutan dari bibirku. Aku tidak menjawabnya, dan terus hanyut dalam badai endorphin yang menerpa otakku saat ini.

Kulepaskan bibirku dari Iqbaal ketika kurasakan tangannya menyentuh bahuku.

"Makasih ya, Ya" katanya, kening dan hidung kami bersentuhan, dan mata kami saling pandang.

"Makasih karena udah mau nemenin aku"

"Jangan bikin aku nangis, aku seneng kok akhirnya kita bisa bareng gini" kataku menahan airmata yang sudah menumpuk di pelupuk.

Iqbaal tersenyum,

"Makasih juga udah dicium, bibir kamu manis" katanya, aku tersipu, malu banget dan menjauh darinya.

"Eh, kok kamu buka baju?" mataku membulat melihat Iqbaal yang sudah melepas tuxedo, dan membuka kancing kemejanya.

"Mau mandi, sayang, panas banget, nanti ya kita lanjutin" Iqbaal berdiri dan mengecup kepalaku sekilas, lalu beneran melangkah ke kamar mandi. Meninggalkan aku di sofa yang udah terlanjur mikir kemana-mana.

"Sha, dasar ya kamu" aku mengomeli diri sendiri sambil tersenyum, dan menyentuh bibirku yang masih basah.

"Iqbaal was here, Mr. Goodkisser was here and I was drowning" Rinrin emang bener Baal, you are hot, damn hot.

Melbourne ApartmentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang