Hujan di luar masih bersisa rintik-rintik, untung saja ada ubereats yang mau nganterin pizza pesenan kami.
"Mama tau kan Ya, kamu di sini?" Iqbaal bertanya dengan mulut penuh pizza.
"Oh iya, tadi Mama bilang Bunda kamu yang kasih tau, aku hampir lupa tadi Mama minta ditelepon lagi, kamu ga keberatan kan ngomong sama Mama?"
"Ga kok, sini biar aku yang ngijinin ya, telepon pake HP aku aja deh" Iqbaal bersiap men-dial nomor Mama pake HPnya yang langsung kuhentikan.
"Tunggu, kamu mau bilang aku nginep di sini Baal?"
"Enaknya gimana?" dia malah bertanya balik.
"Nggg, ya udah telepon dulu aja deh, kita liat nanti, tapi kamu jangan impromptu aneh-aneh ya" aku mengultimatum Iqbaal.
"Hahahaha, tenang dong Ya, aku dial ya ini nomor Mama"
Nada tunggu terdengar, aku deg-degan banget, Iqbaal menyalakan mode loudspeaker dan meletakkan HPnya di meja.
"Assalamualaikum, Ma, apa kabar?"
"Waalaikumsalam, duh anak Mama akhirnya telepon juga, Mama baik, Iqbaal apa kabar? Sasha di situ ya Nak?"
Aku ga salah denger kan? Anak Mama, Mama manggil Iqbaal begitu?
"Iya Ma, Lia di sini nih, kami lagi makan, Mama di mana?"
"Mama lagi di rumah Jevin, titip Sasha selama di Melbourne ya Nak, kalian hati-hati. Mana Sasha?"
"Iya Ma, Sasha denger kok, salam buat Epi sama Kak Nini, Nochi juga"
"Ya udah, kalian jaga diri ya. Nochi udah narik-narik Mama nih minta gendong, I love you"
Belum sempat aku dan Iqbaal menjawab, Mama sudah menutup teleponnya,
"Mama emang pengertian ya Ya, untung ga nanyain kamu pulang apa ga, jadi aku ga harus bohong juga hahahaha"
"Thanks to Nochi" kataku.
Aku dan Iqbaal kembali sibuk dengan pizza, makan sambil sesekali bercanda, mengabaikan TV yang sedari tadi menyala ditimpali suara hujan yang belum juga berhenti.
"Ya, kamu bisa main gitar kan?"
"Bisa sih, tapi ga sejago kamu"
"Sing for me, please?"
"Nyanyiin kamu?"
"Iya, any song, apapun" katanya sambil menyerahkan gitar kepadaku.
Sejenak aku berpikir, sebelum akhirnya mulai memetik senar gitar dan menyanyikan lagu untuk Iqbaal.
Will you count me in?
I've been awake for a while now
You've got me feelin' like a child now
'Cause every time I see your bubbly face
I get the tingles in a silly place
It starts in my toes, and I crinkle my nose
Where ever it goes I always know
That you make me smile, please, stay for a while now
Just take your time wherever you go
The rain is fallin' on my window pane
But we are hidin' in a safer place
Under covers stayin' dry and warm
You give me feelings that I adore
It starts in my toes, make me crinkle my nose
Wherever it goes I always know
That you make me smile, please, stay for a while now
Just take your time wherever you go
But what am I gonna say?
When you make me feel this way
I just, mmm
Colbie Calliat – Bubbly
Laguku terhenti karena Iqbaal mencium bibirku, a demanding kiss, untungnya ada gitar yang membatasi kami, jika tidak, Iqbaal pasti bisa merasakan tubuhku yang bergetar.
"Urusan akhirat udah selesai kan Ya tadi, sekarang aku mau nyelesaiin urusan dunia sama kamu" bisik Iqbaal tanpa melepaskan ciumannya. Dipindahkannya gitar yang menghalangi kami, kini dia nyaris berada diatasku, kubalas ciuman Iqbaal dengan lembut sembari sesekali mengelus kepalanya, satu dua menit berlalu dengan lambat ketika kemudian sebuah panggilan video masuk ke HP Iqbaal.
Rinrin is calling ....
Iqbaal moved from my lips dan dengan sungkan menjawab teleponnya sambil menggerutu.
"Ganggu aja nih Rinrin"
Kutanggapi dengan tawa sambil membenahi piyamaku.
"Lama amat Bay angkatnya? Abis ngapain Lo? Kusut amat itu rambut, wait, bekas lipstik siapa itu anjir belepotan bibir lo..."
"Sialan lo ya Nyet, kenapa Rin?" Iqbaal menjawab sambil salah tingkah, merapikan rambutnya yang berantakan.
"Eh siapa tu cewek di belakang lo? Dasar ya, ngakunya sayang ke Sasha, udah ngebucin bertaun-taun, eh baru juga balik Melbourne udah bawa-bawa cewek lo. Gue aduin ya ke Sasha ntar, liat aja lo" Rinrin merepet.
"Rin, kalo lo cuma mau ceramah mending tutup deh teleponnya, sibuk nih gua"
Aku merasa terpanggil, sebelum Rinrin mikir macem-macem, aku mendekat ke Iqbaal dan nimbrung ke video call itu.
"Hai, Rin, apa kabar?" Iqbaal kaget melihat apa yang aku lakukan.
"Woooooooy wooooooyy wooooyyy, gila gila gila, wah, kaget gue. Ga bisa nih, ga bisaaaaaa, hahahahah gilaaa, tinggal bareng kalian ya? Are you guys in the middle of something? Hahahahaha, Bay, mana liat, pake celana ga lo sekarang? Hahahaha" Rinrin tertawa lepas di ujung sana.
Iqbaal memutar kamera, menunjukkan celana pendek yang dipakainya.
"Pake lah gila, hahahaha. But seriously, kenapa Rin?"
"Hahahahaha, ntar deh, gue ga bisa berenti ketawa. Anjir, happy banget lo pasti sekarang ya. Itu Sasha kenapa pake piyama? Nginep ya? Hahahahaha"
Sekarang aku yang salah tingkah.
"Ya, hot chocolate enak nih kayaknya, boleh bikinin? Aku beresin urusan sama Rinrin sebentar ya"
"Sure, take it your time. Rin, aku ke dapur dulu ya, bye" kataku sambil melambaikan tangan ke Rinrin, kemudian berlalu ke dapur.
"Sha, ati-ati, yang hot bukan cuman cokelat, Ibay juga hahahaha"
"Untung lo di Jakarta ya Rin, kalo deketan sini, udah gua penyet lo"
Dari dapur aku masih bisa menangkap apa yang mereka sedang bicarakan, beberapa ledekan Rinrin dan svmmerdose's new album of course.
KAMU SEDANG MEMBACA
Melbourne Apartment
FanfictionDISCLAIMER : CERITA INI ADALAH FANFICT, HALU SEMATA, SO PLEASE NO OFFENSE BUAT SIAPAPUN YANG BACA, DIBAWA HAPPY AJA YA BEBS! This story is slightly 21+, so be wise ya :)))
