a picnic lunch #2

5.3K 359 52
                                        


Aku dan Iqbaal sudah sampai di lokasi yang dimaksud Kak Mentari, sepanjang jalan tadi aku benar-benar berusaha merapikan perasaanku yang deg-degan banget diajak go public gini sama Iqbaal. Well, not a real go public juga sih, since ga banyak juga yang kenal atau tau betapa complicatednya hubungan kami kemarin-kemarin, tapi aku yakin Kak Mentari ngerti banget soal ini, and that makes me nervous.

Iqbaal emang anaknya cair dan supel, dari jauh aja dia udah diteriakin, Iqbaal cuma melambaikan tangan sambil memamerkan deretan giginya yang rapi sebagai jawaban.

"Ga akan lama, Sayang, janji deh" bisiknya sekilas sebelum kami berdua ikut duduk melingkari sebuah meja kayu penuh makanan.

"Halo Kamen, sorry ya lama, tadi ada beberapa kerjaan yang harus aku beresin dulu, oh iya, kenalin, ini Sasha, Vanesha Prescilla, akun IG nya @vaneshaass, suka makan sate padang, ga takut sama kadal, jago masak indomi" what an introduction from Iqbaal, yang dilakukannya sambil pasang muka jenaka.

Semua orang tertawa mendengarnya, tawa yang tulus, nervousku agak mereda, Iqbaal memberikan kode kepadaku untuk berkenalan lebih lanjut dengan mereka.

Kusalami teman-teman Iqbaal satu per satu, ada 7 orang termasuk kami. Kutebak semua lebih tua dari aku dan Iqbaal, kecuali seorang anak laki-laki yang sibuk bermain rubik sedari tadi, mungkin umurnya sama dengan Kairo.

"Pantesan ya datengnya lama, Dilan lagi pacaran ternyata sama Milea" Kak Mentari menggoda kami sambil menyerahkan dua buah piring berisi daging dan sosis yang masih panas, iya, mereka lagi barbeque-an siang bolong begini di taman.

"Ya kan mumpung udah di sini Kak, ga ada yang gangguin"

"Sasha kuliah di Melbourne juga? Sama Iqbaal di Monash? Jurusan apa?"

"Ga Kak, di Unimelb kok, Fine Arts, hehehehe"

"Wow, I see. Keren tuh, dari kapan di Clayton Sha? Tadi pagi banget ya?"

Aku kaget ditanya begitu, langsung kulirik Iqbaal yang sedang sibuk mengunyah potongan sosis, dia mengerti dan langsung menjawabnya dengan ringan.

"Dari kemarin Kak, aku yang culik" katanya sambil nyengir. Aku cuma bisa salah tingkah.

Kak Mentari dan beberapa orang lain tertawa tergelak.

"Asik dong ya semaleman ujan ada yang nemenin"

"Lumayan Kak, jadi ada yang masak, hemat ga pesen Ubereats" padahal faktanya semalem juga kami makan pizza pesenan, hahahahaha

"Sasha malu tuh Dek, hahahaha tambah cantik ya kalo mukanya gitu, gue yang cewe aja gemes"

"Sama Kak, aku juga gemes, makanya aku mau simpen aja dia nanti di lemari"

"Iqbaaal !!!" aku melotot kepadanya.

Teman-teman Iqbaal memang menyenangkan, kami ngobrol tentang banyak hal, bahkan Kak Mentari yang memang hobi fotografi sempat meminta izin untuk memotretku beberapa kali, yang tentu aku iyakan.

Kami sedang membahas rencana piknik lanjutan ke Victoria Library minggu depan ketika aku merasa ada yang menarik bajuku. Ternyata El, satu-satunya anak kecil di meja ini, dia mengulurkan rubiknya kepadaku.

"Can you help me?" aku tertegun, aku ga biasa main rubik, bikin pusing, tapi demi melihat wajah El yang lucu, kuiyakan permintaannya. Beberapa menit kami sibuk berdua, El bilang dia sangat menyukai cookie monster, gemas sekali. Sementara Iqbaal sedang mengobrol serius dengan Kak Mentari. Aku pura-pura ga merhatiin, meskipun sebenernya aku sedang berusaha mencuri dengar sedari tadi.

Melbourne ApartmentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang