Karet penghapus itu berkali-kali telah digunakan hari ini. Dari yang tadinya berwarna putih hingga sekarang tampak menghitam akibat terlalu banyak gesekan yang terjadi di lembaran-lembaran kertas. Bersama dengan kerasnya kerja karet penghapus itu, Kina juga bekerja keras menahan segala emosi di dalam dada yang tertumpahkan pada genangan air mata yang selalu berhasil ia usap sebelum keluar dari muaranya.
Bahkan soal matematika yang biasanya selalu berhasil mengalihkan pikirannya saat kalut pun seakan menyerah untuk menghibur Kina. Karena rasanya, sakit yang ia rasakan terlalu kuat dan asing hingga dia harus berkali-kali bertanya pada dirinya sendiri.
Ia tak pernah mengira perkataan Hayom padanya tadi malam akan begitu kuat mempengaruhinya. Terasa menusuk dan mencabik di dalam dada. Bahkan Kina sudah tak peduli pada gossip yang masih beredar perihal dirinya yang dianggap menjalani profesi sebagai sugar baby. Tak seperti kemarin, hari ini anak-anak tak malu-malu saat menatapnya penuh benci dan jijik. Mereka juga terang-terangan membicarakan dan mencemooh di depan dirinya.
Tapi, Kina benar-benar tidak peduli. Beberapa rencana yang sudah ia susun untuk mengatasi gossip dan membela diri nyatanya tak ia laksanakan. Karena saat ini ada rasa sakit lain yang ia rasakan. Mungkin terlalu klise dan drama, tapi dari semua rasa sakit yang ia rasakan, rasanya tak pernah sesakit ini sebelumnya.
Dari sekian banyak orang, Kina selalu mempercayai Hayom, mengandalkan cowok itu karena ia menganggap Hayom sebagai salah satu orang yang paling dekat dengannya. Tapi kenyataan itulah yang membuat Kina makin sedih karena nyatanya Hayom tak lebih sama seperti orang lain. Hayom bahkan menganggapnya sebagai cewek murahan. Padahal seharusnya Hayomlah yang paling tahu kalau gossip yang beredar itu tidak benar. Tapi kenapa? Kenapa Hayom justru bertingkah demikian, membanting harga diri dan perasaannya sampai ujung yang terdalam?
Kina kembali mengusap air matanya yang hendak terjatuh. Matanya menatap buku tapi pikirannya jelas melayang entah kemana. Ia menghela nafas, meletakkan pensil di samping buku dan menatap papan tulis dengan wajah nanar.
Ratusan kali Kina telah berkompromi dengan pikirannya sendiri dan memaksa yakin kalau Hayom hanya salah ucap dan tak bermaksud untuk menyinggungnya. Tapi hingga hari ini, tak ada klarifikasi yang ia tunggu terjadi. Ia tak sanggup. Tak sanggup membayangkan kalau salah satu asumsinya mungkin benar. Kebalikan dari apa yang diyakininya. Kalau Hayom benar-benar memaknai apa yang dia katakan.
Apa dirinya sebegitu rendah di mata Hayom? Meskipun ia mungkin akan baik-baik saja dikatakan rendah oleh orang lain, tapi apakah dirinya memang seburuk itu bagi Hayom?
Kina meringis lirih. Ya, bagaimana dirinya tidak murahan. Jelas saja ia murahan, ia bahkan melakukan hubungan intim dengan Hayom tanpa ada rasa cinta. Hubungan yang mereka mulai dari rasa impulsive meski dibayang-bayangi oleh status halal.
Pantas saja Hayom mengatakannya kalau dirinya juga tak pernah menolak saat disentuh olehnya dan bahkan dia menginginkan hubungan hati dengan orang lain pada saat yang sama. Lihat, semurahan apa dirinya sekarang?
Kina tertawa kecil sambil mengusap air matanya. Tentu saja, jadi selama ini perlakuan baik Hayom dan keluarganya mungkin hanya topeng belaka. Siasat sempurna untuk menyelamatkan anak emas mereka, bahkan Hayom mendapatkan bonus teman tidur yang bisa ia gunakan tanpa rasa khawatir dan bisa dibuang kapan saja mereka mau.
Stupid. Geram Kina pada dirinya sendiri.
"Neng, kelasnya mau dikunci."
"Oh iya pak," Kina buru-buru mengusap wajahnya sambil merapikan buku-buku ke dalam ransel.
Ini sudah dua jam dari bel pelajaran terakhir. Sengaja ia pulang lebih lama karena ia menghindari banyak orang di sekolah. Ia tak mau menjadi pusat perhatian dan mendapatkan tatapan menghakimi pada apa yang sebenarnya tak ia lakukan. Apalagi mata-mata para anak laki-laki yang seperti hendak menerkamnya membuatnya bergidik ngeri.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIAGE WITH BENEFIT
Roman d'amourFollow dulu ya... Jangan lupa comment dan vote-nya... Setting anak SMA tapi kayanya kurang cocok dibaca anak seumuran anak SMA ke bawah. Akibat main kebut-kebutan di jalan raya, Hayom menabrak seseorang hingga nyawa orang itu tak terselamatkan. Kar...
