Fang kembali meloloskan asap-asap pekat dari mulut dan hidungnya bersamaan tepat setelah ia menghisap kretek lintingan yang ia racik sendiri. Aroma rempah yang khas memenuhi ruang, rasa yang tak akan bisa dia dapatkan dari rokok pabrikan mana pun. Resep yang ia peroleh dari kakek buyutnya dulu saat masa remaja. Jangan berfikir kalau Fang menggunakan bahan-bahan haram dan terlarang. No, meskipun dirinya memiliki label sebagai salah satu pengedar jenius di Ibu kota tapi Fang sama sekali tak pernah menyentuh barang yang membuatnya kaya itu.
Coaches don't play. Seorang pengedar tidak akan ikut mengonsumsi barang yang dijual karena mereka tahu persis apa resikonya. Ada alasan kuat kenapa barang itu diharamkan dan dilarang keras. Efek Bahagia sementara dan menimbulkan kesengsaraan sesudahnya tidak hanya akan membuatnya miskin tapi juga membuatnya hilang arah. Dan Fang, dia tahu betul apa saja mekanisme dan konsekuensinya. Dia lebih senang melihat orang lain menderita untuk membuatnya kaya.
Membuat orang menderita? Hell yeah, memang itu tujuan narkoba. Kalau ada yang bilang narkoba akan membuat Bahagia dan keluar dari masalah, itu hanya siasat dari pengedar supaya dagangannya laku. Padahal, efek jangka panjangnya tak setimpal dengan kesenangan sesaat yang mereka dapatkan.
Well, tapi itu sama sekali bukan urusan Fang. Ia tak peduli pada pemakainya, yang penting bisnisnya lancar. Then the rest, that's not his business.
Netra Fang masih tertuju pada objek yang sama. Pada gadis muda mengenaskan yang terpaksa harus ia ikat di kursi. Tubuhnya lunglai dengan kepala mendongak, serta bibirnya menggumam sembarang kata yang tak ia pahami. Well setidaknya Fang tahu kalau gadis itu tengah bersenang-senang. Seperti yang ia katakan sebelumnya, dia akan memberikan kenikmatan lain yang tak pernah gadis itu rasakan sebelumnya.
Sudut bibir Fang terangkat. Semua anak buahnya sudah pergi dari ruangan pribadinya ini. Menyisakan Fang dan Kina dalam jarak yang berjauhan. Fang akan membiarkan Kina di sini. Lagi pula, ternyata Fang cukup menikmati pemandangan ini. Wajah cantik yang pasrah, meskipun terdapat beberapa luka justru membuatnya lebih seksi. Kemeja seragam yang terbuka semua kancingnya tersibak tak beraturan memperlihatkan bagian kaus dalam dan sedikit bra yang menonjol. Sementara rok abu-abunya, telah menggulung ke atas yang menampilkan paha mulus Kina terekspose dengan jelas.
Fang tak merasa kasihan sedikit pun. Meski ia tahu kalau mungkin gadis itu sebenarnya tidak tahu apa-apa. Tapi, siapa yang peduli. Meskipun dia tidak tahu menahu tetap saja dia salah karena dia telah memutuskan untuk menjadi salah seorang yang dekat dengan Hayom.
Fang terkekeh setelah mengeluarkan lagi asap kretek. Bocah itu. Bocah yang dia rekrut ke geng motornya saat SMP. Tipikal ABG yang sempurna untuk direkrut. Punya uang banyak dan sok. Cukup beri dia beberapa doktrin dan dia akan membeli seluruh narkoba yang ditawarkan tanpa perlu susah untuk membayarnya. Tipe bocah yang seharusnya bisa menjadi ladang uang baginya.
Tapi sayangnya, ternyata Hayom agak berbeda dari yang lain. Fang awalnya tak percaya kalau Hayom menolak mentah-mentah pada narkoba yang ditawarkan gratis oleh anak buahnya. Tapi setelah melihatnya sendiri apalagi Hayom langsung memutuskan untuk keluar dan melangkah di jalan yang benar, katanya, maka Fang baru percaya. Dan ternyata, hal itu menyakiti hatinya.
Ada hal kenapa banyak penjual lain segan dengannya dalam bisnis ini. Salah satu alasannya adalah Fang bisa menggaet konsumen dengan cara licik dan tidak pernah ditolak. Tidak pernah dalam sejarahnya Fang mengalami penolakan saat memberi barang itu. Mulai dari anggota DPR, anak CEO, artis, turis asing, guru, bahkan selevel tukang bangunan pun. Hanya satu orang yang pernah menolaknya dengan tegas yaitu Hayom. And it's too bad, cause he hurt his pride. Hayom telah merusak kebanggaannya dan anak itu harus merasakan akibatnya.
Kalau memang anak itu tidak mau memakai narkoba maka biarkan orang terdekatnya yang harus mengalaminya.
Fang melirik pada cincin milik Kina dan mengambilnya. Dia tersenyum miring mendapati dugaannya tidak meleset. Tidak salah dirinya memilih Kina untuk dieksekusi karena dari foto yang ia dapatkan, dia bisa melihat dengan jelas tatapan cinta di mata Hayom. Sangat berbeda dengan tatapannya pada cewek yang satunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
MARRIAGE WITH BENEFIT
RomanceFollow dulu ya... Jangan lupa comment dan vote-nya... Setting anak SMA tapi kayanya kurang cocok dibaca anak seumuran anak SMA ke bawah. Akibat main kebut-kebutan di jalan raya, Hayom menabrak seseorang hingga nyawa orang itu tak terselamatkan. Kar...
