"Jef! Balikin kaos kaki gua!", teriak rizal sambil mengejar jefran.
"Kejar dulu baru gua kasih!", kata jefran sambil berlari.
"Jef gua bilangin bang jefri nih!", tegasnya rizal.
"Huuu tukang ngadu! Bilang aja gua kaga takut wle", tantangnya jefran.
Awal, chiko,dan andray hanya menggelengkan kepala sedangkan haikal hanya diam menatap tingkah laku rizal dan jefran.
"Ekhem", dehem seseorang yang berdiri di ambang pintu ruang aula menatap rizal dan jefran.
Jefran yang sedang berlari pun berhenti mendadak dan rizal yang tengah mengejarnya pun tak tahu kalo jefran berhenti mendadak alhasil ia menabrak punggung jefran dan berakhir mereka berdua jatuh ke lantai.
"Kalian ini,kalian berdua lagi ngapain sih? Kok kejar-kejaran gitu", herannya orang itu.
"Aduh sakit! ini nih pak si jefran ngambil kaos kaki saya", tegasnya rizal sambil menunjuk ke arah jefran.
"Ih kok gue sih!", tak terima jefran
"Emang lu! Noh buktinya kaos kaki gua ada di lu", tegasnya rizal.
"Sudah-sudah ga usah pada ribut bentar lagi kalian mau latihan, mending siap-siap sana", ucap orang itu.
"Pak agus", panggil haikal.
"Iya kal, ada apa?", tanya pak agus sambil menoleh ke arah haikal.
"Itu pak, kak ilhamnya belum dateng pak?"
"Oh itu, dia sedang di jalan menuju ke sini jadi kalian bersiaplah untuk latihan hari ini", jelasnya pak agus.
"Siap pak!", jawab mereka bersamaan.
Tak kerasa sudah dua jam berlalu setelah latihan haikal kini sudah berada didalam mobil bersama kak hito menuju tempat yang sangat haikal inginkan. Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Tak lupa membawa bunga mawar dan air.
"Bunda...", ucap haikal sambil memegang batu nisan yang bertuliskan Fitriani Zahra, nama sang ibunda.
Sedangkan kak hito memegang batu nisan yang bertuliskan Suhardiman, nama sang ayah.
Mereka berdua dimakamkan bersebelahan karna mereka meninggal di hari yang sama. Meninggalkan kedua anaknya laki-laki nya, yaitu kak hito saat berusia enam tahun sedangkan haikal berusia tiga tahun. Sejak ditinggal oleh kedua orang tua nya, mereka dirawat oleh om dan tantenya yaitu adik dari ibunda nya. Tapi saat kak hito berusia empat belas tahun, ia ingin tinggal berdua bersama dengan haikal hingga saat ini, walau om dan tantenya melarangnya tapi apa boleh buat. Mereka tak ingin kedua keponakannya itu merasa tertekan. Akhirnya mereka memperbolehkan keinginan kak hito itu.
"Kak, kita berdoa dulu yuk", ucap haikal sambil menatap kak hito yang memegang sebuku yasin.
"Baiklah, kakak yang pimpin yah", ucap kak hito.
"Iya kak", ucap haikal kemudian menunduk bersiap untuk berdoa.
Setelah mendoakan kedua orang tuanya, mereka berdua menaburi bunga mawar dan air ke makam keduanya.
"Bunda...Ayah...", ucap haikal yang sedikit terisak.
"Bunda sama ayah yang tenang disana yah, jangan khawatirin haikal disini. Kan ada kak hito yang jagain haikal. Iya kan?", ucap haikal dengan air matanya yang sudah mengalir ke kedua pipinya sambil menatap kak hito.
"Iyah kal", ucap kak hito sambil mengelus suraian sang adik.
"Bunda, ayah, hito sama haikal pamit dulu yah. Nanti kita ke sini lagi kok. Hito sayang sama bunda dan ayah", ucap kak hito sambil memegang batu nisan ayahnya lalu mencium kedua batu nisan tersebut. Haikal pun juga melakukan hal yang sama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Awal Dan Akhir || Lee Haechan
Teen Fiction"Pesan terakhir terindah bagiku" "Hidup itu sulit, ya kita mati saja, simpel kan!" setiap cerita memiliki awalnya dan pasti ada akhirnya bahagiakanlah orang yang kalian sayangi, sebelum orang itu benar-benar pergi meninggalkan kalian @gita_nurjanah
