Happy reading cinta-cinta ku♡
^^
Karina dan juga seorang laki-laki duduk bersama di bangku panjang taman dengan jarak yang cukup berjauhan. Belum ada satu kata patah pun dari keduanya. Suasana canggung dan tegang menjadi satu.
Karina melirik ke arah sebelah kanannya, menatap laki-laki itu yang kini tengah memperhatikannya entah sejak kapan. Dengan rasa terkejut, Karina memalingkan wajahnya asal tak menatap wajah laki-laki itu.
Tak lama ada sentuhan ditangannya, membuatnya reflek menoleh cepat pada tangan sang lawan jenisnya. Genggaman lembut yang laki-laki itu berikan padanya membuat ia seolah lupa akan semua kejadian sebelumnya.
"Maaf,aku terlalu kasar padamu", ucap laki-laki itu sambil menatap sendu Karina.
Satu tetes air mata jatuh, laki-laki itu mengusap lembut bekas jejak air mata itu. Mengecup singkat pipi Karina lalu kembali menatap Karina dengan sedikit tersenyum kecil.
Karina ingin sekali memeluk tubuh laki-laki didepannya ini. Tapi hatinya masih sakit jika mengingat perkataan waktu tempo hari lalu.
Segera ia tepis genggaman tangan laki-laki itu lalu membuang wajahnya dengan air mata yang terus menetes begitu saja. Laki-laki itu pun bingung, mengapa dan kenapa,apa ia masih marah pada ku? pikirnya.
"Rin", panggilnya mencoba memutuskan keheningan ini.
"Aku minta maaf,ga seharusnya aku bersikap kasar padamu waktu itu...aku ga papa kok kalo kamu ga mau maafin aku rin, aku memang pantas ga dapat maaf dari kamu,aku ga papa", ucapnya dengan menatap berharap pada Karina agar memaafkannya.
Karina tak berkata apa-apa lalu bangkit berdiri dengan diikuti oleh laki-laki itu yang ikut berdiri juga. Karina perlahan menatap sendu dengan mata sembabnya.
Laki-laki itu tanpa sadar pun ikut meneteskan air matanya. Tersenyum kecil pada Karina dengan tatapan harap pada Karina.
Namun, Karina malah pergi meninggalkannya tanpa mengatakan apapun. Membuat laki-laki yang berstatus kekasihnya itu kebingungan. Mematung tanpa berniat mengejar sang kekasih yang pergi meninggalkannya.
Langit yang tadinya cerah seketika berubah berwarna keabu-abuan menandakan akan turun hujan. Bahkan hujan tak berpihak padanya. Hujan menangis tanpa isyarat, tanpa diminta dan tanpa kepastian.
Di kediaman Karina
Karina menatapi jendela kamarnya yang sudah basah oleh hujan yang turun cukup deras. Petir kecil-kecil bergemuruh liar kesana-kemari.
Karina memeluk sebuah foto seseorang yang pernah datang kehidupannya namun sekarang sudah pergi untuk selamanya tanpa berpamitan dengannya. Mata beralih menatap foto itu lekat.
Dielusnya lembut dengan sedikit jemarinya bergetar kecil, mulutnya terisak bisik menangis kembali. Jemarinya berhenti pada bagian pipi dalam foto itu.
"Haikal,aku boleh nyerah ga?", monolog Karina sembari mengusap foto itu.
"Haikal kenapa pergi sih? Haikal ga sayang yah sama Karina? Katanya Haikal janji mau bawa Karina pergi ke Busan Korea Selatan terus kita jalan-jalan berdua disana....tapi kenapa kal,kenapa Haikal malah pergi jauh dari ku..."
"Hari itu hancur banget kal,melihat kamu terbujur kaku di tengah-tengah orang-orang yang kamu sayangi termasuk aku kal...kamu jahat tapi aku ga bisa salahin kamu maupun Tuhan kal....terlalu cepat bagi ku kal kamu pergi begini"
"Waktu demi waktu,aku berusaha melupakan mu namun sayang seribu sayang kal, mungkin Tuhan memang ingin membuat ku bahagia dengan hadirnya Haedar, orang yang mirip seperti mu bahkan bisa dikatakan duplikat dirimu kal.... namun,dia berbeda dengan mu kal-hiks...dia bukan kamu,dia bukan Haikal,dia bukan kekasih ku,apa aku terlalu egois kal?", tangis Karina semakin menjadi, bahkan Joshua yang berada di sebelah kamarnya pun bisa mendengar semua ucapan adiknya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Awal Dan Akhir || Lee Haechan
Teen Fiction"Pesan terakhir terindah bagiku" "Hidup itu sulit, ya kita mati saja, simpel kan!" setiap cerita memiliki awalnya dan pasti ada akhirnya bahagiakanlah orang yang kalian sayangi, sebelum orang itu benar-benar pergi meninggalkan kalian @gita_nurjanah
