Bagas mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lingkungan dari lantai dua balkon kamar kost Cindy.
Semuanya terpantau aman dan tenang seperti perumahan pada umumnya. Tapi nampak dari kejauhan dua orang yang berboncengan sepeda motor berhenti memarkirkan motor disana. Si pengemudi terlihat sedang memantau situasi, sedangkan yang memboncengnnya seperti sedang menelpon seseorang. Orang manapun tidak akan merasa curiga, karena pakaian yang mereka kenakan tidak menarik perhatian banyak orang.
Bagas tersentak seketika saat Cindy memanggil namanya.“Bagas! Help me! Pasangin gordennya! Ini ketinggian, aku nggak sampai!”
***
“Hari ini kamu ada rencana keluar? Sama Frisca mungkin?”
“Entahlah, kayaknya cuma mau diem disini aja sekalian mau revisi proposal sebelum diserahin hasilnya besok ke penguji,”
Bagas menarik nafas laga, setidaknya kemana perginya Cindy hari ini atau esok harus Bagas awasi. Minimal sampai si penguntit itu bisa Bagas ketahui identitasnya, atau lebih baik lagi jika bisa Bagas tangkap dengan tangannya sendiri
“Oke, bagus, kalau makan mending kamu delivery order aja atau chat saya, saya siap beliin makanan,”
Cindy gemas dengan kebawelan Bagas hari ini, “Siap, kapten!” , ucap Cindy seraya mencubit pipi Bagas.
“By the way Cin, barang-barang kamu di rumah udah siap dipindahin kesini?”
“Kemarin udah di kardusin semua kata Aira, tapi belum pasti mau dipindahin kapan soalnya belum dapat rental pick up-nya,” terang Cindy.
“Oke kalau gitu, biar saya aja yang cariin rental pick up-nya, nanti kamu tinggal pilih harinya mau hari apa, biar kita angkut sama-sama.”
***
Setelah memastikan Cindy nyaman di kamar barunya, Bagas berniat pamit. Namun sebelum itu, Bagas meminta tolong Seno untuk memastikan GPSnya kembali apakah dua orang tadi tetap setia menguntit Bagas atau malah stay berada di lingkungan kost Cindy.
“Mereka stay, Suh,” ucap Seno disambungan telepon.
“Berarti mereka ngincer Cindy, bukan gue,”
“Its mean, Cindy dalam keadaan nggak baik-baik aja,”
Bagas mengiyakan ucapan Seno, bersamaan dengan itu panggilan mereka berakhir. Bagas kemudian mengalihkan panggilan lainnya ke Cindy, kebetulan sekali di dering pertama langsung Cindy angkat.
“Belum juga 5 menit ditinggal, udah nelpon lagi aja? Kangen ya?”
“Bukan gitu, saya lupa nanya tadi, dikost kamu ada barang berharga apa aja?”
“Kok nanya gitu?”
“Jangan negative thinking, nggak akan saya apa-apain barangnya, Cin,”
“Hm, ada ijazah dari SD sampai SMA, berkas asuransi pendidikan sama kesehatan dari ayah atas nama aku, surat tanah atas nama aku, sama buku tabungan yang saldonya kurang dari 2 jeti,” terang Cindy.
Asuransi dan surat tanah adalah harga yang mahal, batin Bagas. Jika dilihat dari motif si penguntit, sepertinya bukan penganiayaan atau pembunuhan karena sepenangkap Bagas tidak nampak adanya senjata tajam yang mereka bawa, belum lagi ini adalah kawasan yang sangat ketat keamanannya dimana pos satpam selalu ada di berbagai titik. Pasti ada motif lain yang akan mereka lakukan diluar keberadaan Cindy saat di kost. Cindy aman di kost, tapi tidak di luar sana.
“Oke, besok mau nemenin saya nggak, Cin?”
“Boleh, tapi diatas jam 01.00, soalnya pagi-pagi aku mau nyerahin revisi ke kampus,”

KAMU SEDANG MEMBACA
Semicolon
General Fiction./hope that the story isn't over yet, -shubhangi./ Yacindy Pramidhita tidak pernah berharap untuk menjalin hubungan lagi dengan lelaki manapun selepas putus dari Fathan. Hari-hari sebagai seorang mahasiswi kedokteran sudah cukup membuatnya menggila...