Yuvenile yang berarti remaja. Kehidupan remaja yang penuh kebebasan, ambisi, tantangan, emosi, konflik, energik, dan banyak cerita lainnya. Gadis bernama Alula yang identik dengan poni gemas miliknya dan ia selalu mencolok dalam hidupnya. Sehingga i...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Walaupun aku terlihat murni dan berharga, tetap saja sebagai sampel pendorong keberhasilannya. Layaknya butir presolar untuk sampel pembentukan Tata Surya."
.
.
.
Udara malam tidak begitu dingin, seprti biasanya. Riuhnya suasana malam di kota sepertinya memang tidak akan pernah sirna. Bahkan kini jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB jalanan masih ramai-ramai saja.
Tiga gadis nampak menenteng beberapa tas jinjing belanjaan mereka. Ada juga yang memakan jajanan yang ia beli. Ketiganya berjalan menuju basement mall menghampiri mobil putih untuk segera pulang.
"Ah, makasih guys kesenangannya buat hari ini. Gue masuk dulu ya!" salam Alula kepada kedua sahabatnya setibanya di depan gerbang rumah mewahnya.
"See you tomorrow, Alula!" salam Adel.
Bye! Bye! Alula!" salam Zalfa. Lalu bersiap melajukan kembali mobilnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alula mengangguk. Melambaikan tangan sebagai isyarat perpisahan dengan Adel dan Zalfa. Alula berjalan senang, ia segera membuka pintu rumah setelah membuka gerbang dengan menunjukkan sidik jarinya untuk bisa masuk ke dalam. Alula tertegun, kenapa di rumah lampunya dimatikan. Padahal tidak biasanya lampu sudah mati saat jam-jam segini.
Alula berjalan mendekati sakelar lampu. Ia nyalakan lampunya, "Eh, Ayah!" sapa Alula kaget. Siapa yang tidak terkejut jika ternyata ada seseorang berdiri di samping sakelar lampu sambil melipat kedua tangannya di depan, seolah ingin mengintimidasi.