[8] No More!

510 216 149
                                        

Hai! Sebelum teman-teman mulai membaca, aku ingatkan kembali untuk klik vote dan selama membaca memberi komentar ya ~

Hal itu sangat membuatku semangat dan bahagia !

Selamat membaca!

____________________________________

____________________________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Sebuah reaksi dari pertemuan antara detergen dengan minyak akan menimbulkan tabrakan yang merangsang senyawa surfaktan pada detergen untuk segera mengelilingi kemudian mengangkat minyak atau kotoran itu hingga lepas dari sebuah kain."

.

.

.

Bergetar hebat kedua tangan mungil itu. Jantungnya yang berdebar-debar seolah menambah frustasi dan gugup. Papan putih dihadapannya masih menatap dirinya agar segera mencoret sesuatu di tubuhnya menggunakan spidol hitam myang di bawa gadis itu. Sebuah sorot mata dari arah belakangnya, menatap remeh dan merendahkan pada gadis yang masih terus berdiri menghadap papan tanpa berniatan mulai menulis.

Alula menatapnya sinis. "Gue yakin, tiga hingga lima detik berikutnya dia bakal mundur. Satu ... dua ... tiga ... empat ... li-ma! Done!" Alula menghitungnya lirih. Kemudian ia tatap kedua sahabat yang duduk di samping dan belakangnya.

"Good job Alula, prediksimu selalu sempurna!" Adel tersenyum girang sambil menggoyangkan lengan Alula

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Good job Alula, prediksimu selalu sempurna!" Adel tersenyum girang sambil menggoyangkan lengan Alula.

Gadis yang semula berdiri di depan papan tulis, kini benar-benar turun dari anak tangga lantai dan meletakkan spidolnya di meja guru. Wajahnya pasrah. Kepalanya menunduk malu sekaligus takut. Ia yakin, setelah ini akan diberi hukuman dari guru matematikanya.

"Maaf, Pak. Saya tidak bisa mengerjakannya," ucapnya lirih.

Alula, Adel, dan Zalfa tertawa meremehkan. Ibu jari Zalfa diturunkan ke bawah ditujukan pada siswi yang tidak bisa mengerjakan yang mengisyaratkan bahwa siswi itu cemen dan lemah. Adel lebih parah lagi, ia membuat tulisan 'LO PAYAH! BODOH!' cukup besar pada selembar kertas sehingga siswi itu bisa membacanya dan melihat ekspresi juga tingkah Adel yang menghinanya.

YUVENILE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang