"Kok gue jadi deg-degan gini ya." Gumam Nadira memegang dadanya dan melihat kearah tribun lapangan basket yang sudah diisi oleh Siswa/Siswi SMA Harapan Bangsa.
"Wajar sih kalau ramai." Ucap Amanda yang juga melihat kearah tribun lapangan.
"Wajar banget malah, soalnya Kak Azka kan captain di tim basket. Pertandingan apapun yang melibatkan Kak Azka pasti jadi ramai, ditambah para fans dia yang hebohnya udah kayak lagi nonton konser Shawn Mendes. Lihat aja tuh Kak Maudy sama teman-temannya." Tunjuk Farah kearah tribun, dimana bangku pertama berisi Maudy beserta teman-temannya.
"Tapi lo tenang aja, Nad. Kita bertiga support lo kok." Lanjutnya.
"Iya, lihat deh teman-teman sekelas kita juga support lo, Nad. Jadi lo nggak perlu deg-degan, okey. Kayak yang pernah lo bilang, dibawa santai aja." Tambah Vira.
"Bismillah deh ya, semoga aja gue nggak malu-maluin terutama buat diri gue sendiri." Jawab Nadira yang sudah meletakkan tasnya.
"Sadar diri juga lo kalau selama ini suka bikin malu diri sendiri." Canda Farah.
"Sialan lo!" Umpat Nadira tertawa kecil.
***
"Nadira, semangat! Go! Go! Go!" Teriak Vano keras yang menyebabkan beberapa Siswi melihat kearahnya, merasa heran.
"Gue nggak salah denger kan? Barusan lo semangatin siapa?" Tanya Maudy yang duduk tak jauh dari Vano.
"Nggak kok. Barusan aku semangatin Nadira, ada yang salah?" Jawab Vano dengan santai dan terus berteriak memberikan semangat kepada Nadira.
"Itu Azka loh yang lagi tanding, No." Ujar Faiz.
"Iya gue tau, tau banget malah, terus kenapa?" Jawab Vano.
"Lo nggak support sahabat lo sendiri?" Ketus Maudy.
"Bosen aku tuh beb harus support Azka terus. Kali ini aku mau jadi pendukung Nadira dulu, sehari." Jawab Vano dan terus berlanjut meneriakkan nama Nadira.
"Ada ya orang kayak lo, sahabat sendiri yang lagi tanding tapi bisa-bisanya yang lo support justru orang lain." Sinis Maudy.
"Ada, ini buktinya aku." Sahut Vano santai menunjuk dirinya sendiri.
"Nggak heran lagi sih gue sama dia, namanya juga Vano si playboy. Dimana ada wanita disana ada Vano." Ujar Danish.
"Astaghfirullah! Baru ingat gue kalau ternyata punya teman buaya banget." Ucap Faiz.
"Emang kita teman? Lagian gue nggak sebuaya itu ya. Aku memang pencinta wanita, namun ku bukan buaya, yang setia pada seribu gadis, ku hanya mencintai dia." Jawab Vano mendramatisir keadaan dengan menyanyikan sepenggal lirik yang bertema buaya dengan suara pas-pasan nya yang bisa dibilang jauh dari rata-rata.
"Iya, tapi dia yang lo maksud itu bukan cuma satu kan?" Ledek Danish.
"Berapa banyak? Ratusan." Sahut Faiz dengan meniru nada iklan.
"Astaghfirullah, Faiz. Nggak baik su'udzon sama teman sendiri, lo nggak ingat apa kata Pak Ahmad kemarin. Kita itu harus selalu Husnudzon jadi orang." Jawab Vano yang lagi-lagi mendramatisir keadaan.
"Emang kita teman ya, No?" Tanya Faiz membalikkan ucapan Vano tadi.
"Bisa diem nggak sih lo berdua?! Berisik tau nggak dari tadi!" Omel Maudy.
"Lah, kok ngamok?" Ujar Vano dengan nada yang dibuat-buat seperti video yang sempat viral beberapa waktu lalu.
"Santuy dong, beb. Jangan ngegas, kalau marah-marah begitu kan jadi tambah cantik, semakin gemes deh. Nanti kalau aku jadi tambah sayang sama kamu gimana?" Tambah Vano.
"For your information aja ya, Ody. Orang yang suka marah-marah itu cepat tua, jadi dibawa santuy aja udah." Sahut Faiz yang disetujui oleh Vano.
"Astaghfirullah, punya teman akhlaknya minus semua." Ujar Danish yang terus beristighfar melihat kelakuan sahabatnya.
"Kenapa sih sepupu gue betah banget punya teman yang modelnya kayak lo berdua gini!" Ucap Maudy kesal, menunjuk Vano juga Faiz lalu kemudian lebih memilih diam dan fokus melihat jalannya pertandingan yang akan segera dimulai.
***
"Gue kira lo bakal kabur." Ujar Azka.
"Kenapa gue harus kabur?" Tanya Nadira.
"Mungkin takut?" Tanya balik Azka.
"Gue nggak takut sama sekali buat tanding basket sama lo!" Tunjuk Nadira kearah Azka.
"Sure?" Tanya Azka meremehkan.
"Lo emang benaran ngeselin banget ya jadi manusia!" Kesal Nadira.
"Bisa langsung kita buktiin aja?" Ujar Nadira.
"Oke, kenapa nggak."
"Siapa pun yang kalah dia wajib ikutin 5 permintaan dari pemenang hari ini, gimana? Setuju?" Pinta Nadira dengan menunjukan kelima jarinya.
"Kenapa harus?" Tanya Azka.
"Ya karena memang harus!" Jawab Nadira kesal.
"Gue nggak mau. Lo terlalu banyak minta. Tiga permintaan atau nggak sama sekali." Ujar Azka.
"Gimana? Deal?" Tambahnya.
"Oke, no problem. Menurut gue itu masih menguntungkan."
"Apa lagi?" Tanya Azka kesal sekaligus heran melihat Nadira karena perempuan itu mengulurkan tangan.
"Sebagai tanda kalau lo sepakat sama semua peraturan yang tadi kita buat." Jawab Nadira tersenyum, lalu mengambil sebelah tangan Azka dan berjabat tangan dengannya.
Hallooo semuanyaaa🖐
Nggak bosen-bosen aku ingetin kalian untuk stay safe and healthy ya!💙
KAMU SEDANG MEMBACA
IMPOSSIBLE
JugendliteraturKetika 3 hati dipertemukan dalam 1 cinta. "Kamu tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi aku. Ah salah, bahkan untuk berbalik menatapku pun, rasanya kamu enggan bukan?" -Nadira Almira
