Affair Reo Lainnya Terungkap

2.7K 87 3
                                    

Pergilah Raya. Bersama kenangan pahit yang ada dalam jiwaku. Dengan janin dalam kandunganmu. Aku hanya ingin kamu tahu, bahwa terkadang ada kesalahan-kesalahan yang tak bisa termaafkan yang membuat seseorang bisa menjadi jahat, menjadi dingin, beku seperti batu.

Kulirik handphone di tangan yang berbunyi.

[Bu, Pak Reo sudah sadar.]

Rany mengabariku.

Reo sudah sadar. Apakah aku akan menjenguknya lagi? Tapi apakah ini nggak akan meyakitiku dan semakin membuatku sulit melepasnya? Jujur memang sulit, bagaimana tidak, bersamanya selama delapan belas tahun dan tak pernah merasakan kekecewaan yang dalam kepadanya, saat ia sakit, tergeletak, selama ini aku yang mengurus.

Tapi, ah, sudahlah. Sudah keputusanku untuk pergi dari hidupnya.

Sebaiknya aku memilih menyiapkan diri lebih matang lagi saja untuk umroh. Menghapal bacaan talbiyah dan doa-doa saat Thawaf agar semua rangkaian ibadah menjadi mabrur.

[Tolong urus semuanya, Ran. Aku mau fokus menenangkan diri saat ini. Pastikan ada keluarga Reo yang mengurusnya. Adiknya kan banyak. Semua biaya tolong dibereskan.] balasku.

[Baik, Bu.]

Esoknya aku pergi ke kantor. Memastikan semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku sudah terhandel dengan baik. Terlebih setelah Reo diberhentikan, banyak jobdesknya yang juga harus aku bereskan. Semoga Pak Ikhsan bisa menggantikan posisi Reo dengan baik.

Aku merebahkan diri sesaat setelah sampai di ruang kerja. Di sini sekarang terasa sepi, terasa hampa. Tak berwarna. Seperti ada sesuatu yang hilang.

Dari ruangan ini, kupandangi pintu ruang kerja itu. Ruang kerja yang dulu sering kudatangi. Mengajarinya banyak hal sampai ia bisa dan berhasil menjadi seseorang yang dibanggakan oleh Papa.

"Bagus, Reo. Hasil kerja yang cemerlang," ucap Papa suatu hari kepadanya.

"Terima kasih, Pa."

"Oke, selamat menyelesaikan proyek selanjutnya." Papa meninggalkannya.

Dari kursi kerjanya, Reo mengedipkan mata kanannya kepadaku yang berada di ruangan ini. Semacam bilang terima kasih. Aku menarik napas lega, akhirnya Reo mendapat kepercayaan Papa.

Teringat perjuangan bagaimana dulu menaklukan hati Papa dan Mama, ketika Reo memintaku menjadi istrinya.

Kulirik ruangan meeting sebelah kanan. Teringat dua bulan lalu. Aku duduk di salah satu bangkunya. Menyaksikan Reo yang dengan gagah dan berwibawa mempresentasikan programnya di hadapan kami. Menggunakan NEC Proyektor ia tampilkan slide demi slide materi yang telah ia susun semalaman. Gambar juga video yang ia buat khusus, demi kepuasan para pemegang saham dan jajaran direksi yang hadir.

Aku pribadi puas dan presentasi itu juga mendapat pujian dari seluruh peserta. Tinggal direalisasikan bersama team yang sudah ia bentuk. Sayangnya belum sampai terealisasi, Reo sudah harus segera menandatangani surat pemecatan yang kuajukan.

"Padahal ... sedikit lagi, karir kamu mencapai puncak, Reo ..." bisikku.

Tiba-tiba pintu diketuk. Mengembalikan kesadaranku dari lamunan.

"Masuk."

"Permisi, Bu, boleh saya masuk?"

"Silakan, Pak."

Pak Radi, salah satu staff dan orang kepercayaan Reo.

"Maaf, Bu. Boleh saya minta waktu."

"Ya, silakan, Pak. Apa kabar, Pak Radi?"

CINTA TERLARANG Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang