Sujud Syukur (23)

624 43 2
                                    

Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (Part 23)
#Seputih_Cinta_Amelia

Sujud Syukur (23)

Setelah bersalaman dan saling sebut nama, Dokter Dody mendudukkan Brian di sebelahku. Dadaku bergemuruh. Jadi apakah artinya ada kabar gembira untukku?

“Wah, suatu kehormatan nih, Dok, saya bisa diajak masuk.”

“Ya karena ini kabar gembira untuk kita semua,” ujar Dokter Dody, ia kemudian menatapku.

Uh, seandainya saja bukan karena teman lama, sungguh aku tak enak mengajak Brian masuk. Kekhawatiran itu tetap menghantui.

“Mel, ini sebenernya sebuah anomali kamu, ya. Tapi keajaiban akan selalu ada.”

Kali ini Dokter Dody berucap serius.

“Setelah pemeriksaan darah beberapa bulan lalu untuk mengukur tingkat hormon yang kamu miliki, kita terhenti di pertemuan berikut-berikutnya, karena Amel nih, Sob, belum berani datang lagi mengecek hasil,” ucapnya mengarah kepada Brian, memberi tahu.

“ Alhamdulillah akhirnya kemarin Amel mereply dan mau buat janji temu.”

“Ya, karena harus berani mengalahkan ketakutan kita sendiri, ‘kan, Dok.”

“Benar sekali. Jadi gini, pada umumnya masalah ketidaksuburan pada wanita disebabkan oleh terhambatnya ovulasi pada saluran indung telur juga pada saluran tuba falopi. Karakteristik reproduksi wanita yang sehat, ditandai dengan organ indung telur yang mampu melepas sel telur sehat bergerak menuju saluran tuba falopi. Nah dari tes hormon yang kami lakukan kemarin, terketahui bahwa organ reproduksi Amel dapat menghasilkan sel telur secara teratur dan sel telurnya juga sehat.”

Seketika napas yang sedari tadi kutahan terlepas begitu saja, seperti ada air es yang menyiram kepala. Nyeesss! Ya, Rabb.

“Ini artinya pada saat ini sebenarnya tidak ada masalah apa-apa dengan kondisi organ reproduksi Amel.”

Brian menatapku. Tangannya menepuk-nepuk punggung tanganku.

“Jika dulu-dulu Amel sudah pernah beberapa kali melakukan pemeriksaan dengan berbagai metode dan hasilnya tidak menggembirakan, inilah yang saya bilang, Allah bisa memberi keajaiban kapan saja kepada hambanya.”
“Ini beneran, Dok?”

Hanya itu yang bisa aku katakan dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Tahan, Mel. Jangan Menangis saat ini.

“Bisa dipastikan keakurasiannya, Mel.”

Aku menarik napas berkali-kali, mengucapkan Alhamdulillah tanpa henti.

Dokter dan Brian tersenyum bahagia melihatku.

“Bahkan dari hasil pemeriksaan hormon itu kelihatan Mel, berapa jumlah sel telur subur yang ada, sangat banyak, lo.”

Dokter Dody sudah tahu perihal rumah tanggaku, beberapa waktu lalu sempat ku informasikan padanya, dan itulah yang membuatku enggan untuk mengecek hasilnya. Karena kondisi rumah tangga saaj sedang carut marut. Tapi seandainya aku tahu hasilnya akan seperti ini tentu sudah sejak lama aku datang.

“Ya, yang lalu biarlah berlalu, Mel. Sekarang songsong masa depan dengan baik, bersama Brian. Saya doakan semuanya lancar, ya. Jangan ada sedih-sedih lagi. Kabar ini adalah hadiah untuk kalian berdua. Ditunggu kabar baik selanjutnya, ya. Iya, gak, Bro?”

Alis dokter Dody naik satu memberi isyarat kepada Brian. Lalu mereka berdua terkekeh, sembari saling menepukkan kedua tangan.

Wah, bisa aja, nich, nasehat Dokter SpOG satu ini. Walau sebenarnya tetap muncul perasaan sungkan pada Brian. Mungkin Brian menimpali Dokter Dody juga karena sungkan. Aku tak berani berasumsi banyak hal.

CINTA TERLARANG Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang