~ Reo dan Brian Bertemu! (25)~
“Silahkan usir aku dengan kebahagiaan yang kamu miliki saat ini. Tapi tolong jangan lupakan senyum terakhir kepergianku, karena di sana telah kurangkum semua rasa tentangmu.” (Reo)
“Ya, kita berdoa saja, sisanya pasrahkan sama yang memberi takdir,” jawab Papa lugas. Lalu Setelah berbasa basi sebentar, keluarga tamu pergi meninggalkan tempat.
“Mel, kamu nggak balik kantor? Mama mau ke kantor sebentar, yuk!” Mama menggamit lenganku.
“Sebentar, Ma.” Aku kehilangan jejak Brian sejak beberapa menit lalu.
“Kamu ngapain, sich? Oh, cari temen kamu tadi, ya?”
“Iya, Ma. Tunggu sebentar.”
“Emang dia siapa kamu, sich, Mel ...? Jangan macem-macem, ah. Mama udah kenalin kamu sama orang yang tepat. Cakep wajahnya, cakep masa depannya, dan yang pasti dia masih bujang. Jadi kamu nggak akan terganggu oleh masa lalunya.”
“Ma, tapi jangan di kenal-kenalin kayak gini kenapa, Ma. Sebenernya Amel malu.”
“Mama khawatir sekali sama kamu, Mel. Sejak kamu pisah dengan Reo. Belum pernah Mama melihat kamu tertawa ceria lagi. Mama juga nggak mau kamu jatuh pada laki-laki yang salah. Khawatir ketemu laki-laki nggak jelas, ya seperti Reo lagi nanti jatuhnya. Fadil ini kan jelas bibit, bebet, bobotnya. Maafin Mama kalau kali ini Mama kolot.”
Mama memegang tanganku, aku tahu sebenarnya Mama juga merasa nggak enak. Hanya saja karena kekhawatirannya membuatnya memiliki ide seperti ini.
“Terima kasih, Ma. Mama nggak salah. Akan Amel pertimbangkan soal Fadil. Tapi ini sebenarnya terlalu dini, Ma. Perceraianku dengan Reo pun masih on going.”
“Iya, Mama tau. Cuma kebetulan saja ini, Om Ramlan lagi di Jakarta. Belum tentu dapet lagi momentnya, jadi sekalian Mama ajak makan, biar kalian kenalan dulu.”
“Oke, Ma.”
“Nah itu Brian. Bri, sini!”
Brian menghampiri kami yang sudah duduk di bawah payung-payungan cafe.
“Sorry, Mel. Tadi cari permen mint ke minimarket situ.”
Setelah duduk dan ngobrol sebentar. Brian ijin pamit. Mencium tangan Mama takzim, lalu pergi memasuki mobil yang sudah menjemputnya di pintu keluar parkiran.
Seandainya Mama tidak sedang memiliki kecondongan kepada Fadil. Harusnya sich, Mama terkesan dengan gaya santun Brian barusan. Semoga saja.
***
Kicau beberapa burung gereja yang hinggap pada pohon palem raja di samping rumah terdengar nyaring di telinga, entah karena rumah ini kini sepi atau karena fokusku yang tak terganggu. Tapi aku begitu menikmati suara itu. Hari ini kuputuskan hanya kerja setengah hari, agar bisa istirahat sejenak di rumah, sembari menyiapkan pakaian yang akan dibawa ke Bandung.
Usai shalat Dzuhur, aku turun untuk makan siang.
Ding Dong!
Bel tamu berbunyi tepat pada suapan ketiga.
Mbok Sum membuka pintu. Seseorang tampak masuk ke dalam.
Reo!
“Hallo, Mel.” Dia berjalan menghampiriku. Perasaanku tiba-tiba tak enak.
“Ada perlu apa? Kamu bisa duduk di ruang tamu. Aku sedang makan.”
Aku tak ingin dia menghampiri meja makanku saat ini. Sayang, dia sudah ada di hadapanku.

KAMU SEDANG MEMBACA
CINTA TERLARANG
RomancePernahkah kita mendengar kisah cinta luar biasa istri pada suaminya, kasih sayang ibu kepada anak angkatnya? Tapi bagaimana jika terjadi ada cinta terlarang di antaranya? Sanggupkah sang nyonya berjuang mengembalikan rumah tangganya kembali menjadi...