22. Satu Hari Bersama.

1.7K 380 53
                                        

###

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

###

SENJA.

Nggak bener banget.

Satu minggu setelah kepulangan gue dan Biru dari acara keliling kabupaten yang diakhiri dengan gue nolak dia, kita sama sekali belum ngehubungin satu sama lain.

Mau gue duluan, tapi nggak enak.

Rasanya gue nggak punya hati banget setelah nolak dia eh tiba-tiba ngehubungin lagi.

Takutnya Biru juga pengen ngejauh dari gue.

Tapi kan kalau Biru ngejauh, proyek foto gue dan dia gimana?

Apalagi kita belum diskusi sama sekali soal foto-foto mana yang mau disetor ke Mario.

Padahal, Mario ngumumin kapan dead-linenya dari lama.

"Tegang banget selir gue, deg-degan ya lo bentar lagi mau mulai pameran?" Ucap Calvin membuyarkan lamunan gue.

Gue menyeruput Caramel Macchiato buat sedikit menyegarkan pikiran sebelum akhirnya mendengus.

"Deg-degan dikit, sih."

"Terus kenapa dong jidat lo dari tadi tegang?" Tanya Clareen kali ini.

Gue menarik napas kemudian celingak-celinguk menatap sekeliling.

Maklum, Starbucks tempat gue sekarang jaraknya deket banget sama kampus. Jadi isinya pun ya mahasiswa dan mahasiswi kampus gue.

"Lagi bingung nih gue."

"Bingung kenapa? Sini gue bantuin!" Ucap Calvin lantang.

"Tapi gue masih ragu mau cerita sama lo berdua atau nggak." Cicit gue pelan sebelum menjulurkan lidah buat meledek.

Clareen dan Calvin langsung mendengus sebelum keduanya mencubit pipi gue. "Kesenjangan sosial!"

"Buruan cerita kenapa!"

Gue mengelus lembut pipi gue yang tadi dicubit sebelum memantapkan hati.

"Jadi dead-line ngumpulin foto buat pameran itu akhir minggu ini."

"Tapi udah seminggu lebih gue sama Biru belum ngontak satu sama lain."

"Lah? Kenapa? Padahal Jumat kemarin si Biru nanyain lo pas futsal," celetuk Calvin memotong.

"Hah? Biru nanyain gue apaan?" Tanya gue salah fokus.

"Ih, lanjutin dulu cerita lo. Calvin! Jangan motong!" Protes Clareen sebal.

"Nah, iya. Terus gimana?"

"Lo berdua tahu kan ya gue sama Biru waktu itu pergi?"

Clareen dan Calvin dengan singkron mengangguk.

PhotographTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang