Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
###
SENJA.
Nggak bener banget.
Satu minggu setelah kepulangan gue dan Biru dari acara keliling kabupaten yang diakhiri dengan gue nolak dia, kita sama sekali belum ngehubungin satu sama lain.
Mau gue duluan, tapi nggak enak.
Rasanya gue nggak punya hati banget setelah nolak dia eh tiba-tiba ngehubungin lagi.
Takutnya Biru juga pengen ngejauh dari gue.
Tapi kan kalau Biru ngejauh, proyek foto gue dan dia gimana?
Apalagi kita belum diskusi sama sekali soal foto-foto mana yang mau disetor ke Mario.
Padahal, Mario ngumumin kapan dead-linenya dari lama.
"Tegang banget selir gue, deg-degan ya lo bentar lagi mau mulai pameran?" Ucap Calvin membuyarkan lamunan gue.
Gue menyeruput Caramel Macchiato buat sedikit menyegarkan pikiran sebelum akhirnya mendengus.
"Deg-degan dikit, sih."
"Terus kenapa dong jidat lo dari tadi tegang?" Tanya Clareen kali ini.
Gue menarik napas kemudian celingak-celinguk menatap sekeliling.
Maklum, Starbucks tempat gue sekarang jaraknya deket banget sama kampus. Jadi isinya pun ya mahasiswa dan mahasiswi kampus gue.