Clareen dan Calvin saling menatap satu sama lain sebelum mengangguk mengiyakan.
"Gue ikut bahagia kalau lo bahagia," lirih Clareen sambil menepuk pelan lengan Senja.
"Gue juga," celetuk Calvin pada akhirnya.
"Biru diundang juga gak?" Tanya Clareen penasaran. Sekaligus memancing.
Senja terdiam sebelum akhirnya menggeleng. "Hmm, Biru gak bisa dihubungi. Nanti gue pikirin lagi deh."
"Oh..." Gumam Clareen pelan.
"Tante Evelyn udah setuju sama hubungan lo dan Oriol?"
Senja mengangguk mantap. "Udah, kok."
"Gimanapun hubungan gue sama Mama, gue tetep minta restunya."
"Oke deh kalau gitu," balas Clareen dan Calvin bersamaan.
"Kalau gitu gue ke Baltos lagi ya? Kasian Damar sendirian."
Kedua sahabatnya itu mengangguk mengiyakan dan membiarkan Senja pergi. Kemudian keduanya saling bertatapan. Sama-sama khawatir pada sahabatnya yang barusan pergi.
"Gue harap Senja cepet sadar kalau dia gak akan sepenuhnya bahagia," gumam Calvin.
Clareen terdiam. Kaget karena laki-laki di sebelahnya mengutarakan isi pikirannya.
"Gue pengen banget ngomong agak kasar," lanjut Calvin mengeluh.
"Nampar dia sedikit dan nanya apa dia balikan sama Oriol seratus persen karena dia punya perasaan hebat sama cowok itu?"
"Atau ada bagian pelampiasaan supaya Tante Evelyn marah karena Senja balikan sama Oriol? Cowok yang dulu Tante marah-marahin."
Clareen menghela napas pelan. "Gue juga pengen Senja berdamai sama sakit hatinya sendiri sebelum bertindak gegabah begini."