8. Kata Papa, Kata Dia.

1.9K 389 131
                                        

###

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

###

"Suka ya kamu sama masakan Sunda." Ujar Papa Biru sambil terkekeh.

Biru yang duduk di balik kemudi cuma mendengus, "iyalah, Biru kan tinggal di Bandung, Pa. Masa nggak suka."

Papanya lagi-lagi cuma terkekeh. "You always have a small apetite, Son. Papa baru lihat kamu makan sebanyak dan selama itu."

Biru pun lagi-lagi menjawab dengan dengusan. "Ya emang laper."

"Makanya nambah?"

Biru mengangguk kecil sambil tetap fokus menyetir.

"Papa pikir karena kamu udah lama nggak makan ditemenin."

"Makan sendirian atau makan bareng-bareng sama aja kali, Pa. I'm just hungry."

Papanya cuma mengangguk-angguk seolah setuju.

Dan dalam kedipan mata topik obrolan keduanya dengan mudah berubah.

Mengobrolkan soal sang ibu dan kakak perempuan yang berada jauh di Slovenia.

"Kapan mau pulang? Nggak kangen Milly?"

Biru menggeleng, "kangen gimana coba? Milly nggak ada kerjaan banget! Tiap hari nelepon Biru cuma buat nyeritain gebetannya itu."

"Oh? Iya, iya. Tapi Papa kurang sreg sih Milly sama dia."

"Sama si Senna itu?" Tanya Biru memastikan.

Papanya kembali mengangguk.

"Emang kenapa?"

"I don't know. Ini insting orangtua mungkin? But I don't think Senna has the same feeling for our Milly."

"Oh iya? Kata Milly si Senna itu open aja tuh sama dia?"

Papa langsung tertawa keras. "Kamu ngaca dong."

Biru langsung cemberut dan mengerutkan kening. "Apaan deh, Pa."

"I'm asking you this."

"Emang kamu suka sama semua perempuan yang kamu perlakukan baik?" Lanjut Papa sambil sedikit menatap Biru.

Biru menggeleng keras. "Nggak lah!"

"Being good is just a human nature. Gak mungkin lah Biru suka sama semua perempuan yang Biru baikin."

"That's exactly how Senna to Milly."

"Masa, sih? Tapi mereka jalan bareng dan lainnya?"

Papa akhirnya mengangkan bahu. "Ya nggak tahu."

"I still think it won't lead them to any serious relationship." Lanjut Papanya.

Biru mengangguk kecil. "Dasar dukun!"

Papa langsung tertawa terbahak. Kemudian menyadari mobil sudah berhenti di sebuah basement.

PhotographTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang