part.9

503 27 0
                                        

Setalah menggoda Vena dengan ucapan mereka pun kembali ke rutinitas awal untuk membuat sandwich simpel dengan bahan yang ada

"Minta tomat dong"ucao Asya melirik Vena dengan sandwich miliknya

"Nih Sya ambil sendiri gue sibuk"balasnya memberikan sekotak tomat segar pada Asya

Tak ingin mengganggu Asya pun mengambil sendiri tomat tersebut dari tempatnya

Para lelaki tampan sedang memperhatikan gadis cantik dengan sandwich pada tangan mereka

Sepertinya untuk mengganggu ataupun meminta sedikit tak masalah

"kok bisa ya ada orang suka sama cewek tapi ga di tembak? Bahkan posesif banget lagi"ucap Axel memperhatikan Chaca dari jarak jauh

Deon yang mendengarnya pun sontak menoleh menghadap Axel dengan sorot mata yabg tajam

"Bukannya itu lo?!"ucapnya sedikit menaik karna kesal atas ucapan yang di lontarkan Axel

"Ahh iya lupa gue"ucap Axel lalu menghampiri Chaca yang sedang bersama Asya, Renata, dan Vena

Ingin sekali deon membanting Axel sekarang juga anak itu selalu saja bisa menaikan emosi dalam sekejap

"Teman lo on kayak monyet nyebelin"ucap Deon memperhatikan Axel yang sedang menemplok pada Chaca serta tangannya memeluk pinggang Chaca dengan posesif

"Lo ngaca?"ucap Raka sewot menatap sahabatnya yang juga cukup menjengkelkan

"Kurang ajar lo! Gue tampan begini"

"Ngarep lo kayak cewek"ucap Raka sebelum dia menyusul Axel dan ke empat perempuan cantik di sana

"Gini amat punya teman ga ada yang serius emang"kesalnya mengikuti Raka dari arah belakang

Kesal mungkin sudah menjadi makanan sehari-hari tapi rasa itu juga yang mempererat hubungan mereka sampai sekarang

"Aaaa.."Axel membuka mulutnya memberi kode agar Chaca mau menyuapinya

Chaca menyuapi Axel dengan telaten sehingga membuat beberapa pasang mata melihatnya

"Duh panas ada AC ga?"sindir Rena mengibaskan tangannya pada wajahnya

Asya tau yang di maksud dengan ucapan Rena tapi dia hanya tersenyum dan menopang dagunya untuk melihat adegan selanjutnya

"Iri bilang bos!"ucap Axel menunjukan wajah menjengkelkan

"Ngapain gue iri hah?!"balas Rena tak kalah sengitnya kepada Axel

Ini sudah tertebak dari awal Rena memancing ketika mereka bertengkar Vena dan Asya malah asik menonton bahkan sampai memegang chiki pada tangan mereka

"Mau?"tanya Vena menyodorkan keripik kentang pada Asya

Asya tergiur dengan jajan itu pun langsung mengambilnya dan berterima kasih pada Vena

"Bilang aja iri"ucap Axel melepaskan pelukannya pada Chaca

"Ngapain gue iri?! Lo emang ngeselin ya!?"ucap Rena menggulung lengan hoodie yang ia gunakan

"Kalian ribut terus ga capek?"tanya Chaca melihat pertengkaran mereka dari tadi

"Dia yang mulai aku cuman diam aja tadi"ucap Axel merenggut seperti mengadu pada Chaca

"Lo yang mulai!"

"Iya, cewek selalu benar" balas Axel kembali memakan sandwich yang di berikan Chaca

"Heh! Lo tuh ngelunjak ya! Ayo duel sini!"sahut Rena berdiri dari duduknya

Melihat itu Asya pun berdiri lalu menenangkan Rena yang emosi tingkat tinggi

"Udah Ren diamin aja ga ada untungnya di ladenin"ucap Asya membawa Rena kembali pada tempat asalnya

Rena pun menuruti perkataan Asya, salahnya juga mengapa meladeni orang stress seperti Axel ga ada gunanya

Mereka kembali pada kegiatan awal yaitu menyantap makanan dengan nikmat tampa ada suara yang mengganggu

Raka mendongak menatap Asya dengan tatapan yang sulit di artikan banyak pertanyaan aneh di otaknya

Wajah,senyum serta caranya tertawa mengingatkan dirinya akan seseorang yang pernah ada dalam masa lalu

Cepat atau lambat Raka pasti akan mengetahui semuanya tapi bukan sekarang hanya perlu sabar untuk mendapatkan semuanya

Dilain tempat ada sekitar 16 orang yang sedang mendengarkan sang panutan atau mungkin salah satu dari pemimpin dari perkumpulan itu

Pasha menjelaskan dengan detail masalah yang sedang terjadi di luar sana dan mengimbau agar RAKS membalik jaket mereka agar tak di ketahui warga

Dia adalah Pasha salah satu pemimpin RAKS dan pendiri dari perkumpulan ini anggota RAKS bukan dari kalangan atas melainkan seseorang yang memiliki pendirian untuk isa membangun kesejahteraan dan ketentraman di manapun mereka berada

Jaket RAKS di rangkai menjadi dua bagian, bagian luar terdapat logo RAKS dengan barcode tersembunyi untuk identitas mereka

Serta bagian dalam di rangkai seperti jaket biasa pada umumnya tujuannya adalah jika masalah seperti datang mereka tak bingung untuk menyembunyikan identitas mereka

Barcode itu di rancang khusus untuk anggota RAKS agar bisa membedakan mana RAKS asli dan mana RAKS palsu

Pasha yakin mereka bukan RAKS asli terdapat pada logonya saja sudah berbeda jadi untuk bisa menangkap orang itu mereka harus menutupi identitas mereka agar bisa masuk kedalam masalah ini

"Jangan ada yang buka logo di depan warga maupun polisi setempat, RAKS semakin banyak di kenal jadi ga heran jika masalah seperti ini ada"ucap Pasha dengan santai tapi tegas kepada seluruh anggota RAKS

"Kak maaf menyela,tapi ini bukan cuman fitnah maupun kebencian tapi ada unsur tersendiri yang membuat mereka memiliki dendam pada RAKS"ucap salah satu dari mereka

"Dendam? Dan mereka? Maksudnya dia lebih dari satu orang?"tanya Pasha bertubi-tubi menatap ke arah pemuda tadi

"Iya kak,kemaren pas saya lagi jualan ada anak rame pake jaket RAKS yang di palsukan, mereka ngerusuh di jalan dan membuat beberapa warga resah" jelasnya pada Pasha

Pasha mengerutkan keningnya mendengar penuturan dari salah satu anggotanya jika dia lebih dari satu orang artinya ada dendam yang tersembunyi untuk di balas kali ini

"Kita ga tau siapa mereka intinya tetap main aman dan jaga diri kalian baik-baik"jelas Pasha mengakhiri semuanya

Para anggota mengangguk arti setuju dengan perkataan Pasha,RAKS bukan perkumpulan anak nakal yang tak tau peraturan

RAKS tak pernah memamerkan jati dirinya untuk seseorang tau apa yang telah mereka raih

Semboyan mereka hanya satu 'membantu siapapun tampa latar belakang walaupun nyawa adalah taruhannya' itu adalah harga mati bagi mereka

"Udah pada makan lo pada?"tanya Pasha duduk di lantai bersama 16 anggotanya

"Belum bang"jawab seseorang dari belakang dengan mengelus perutnya

Pasha tersenyum menanggapi ucapan itu mereka bukan budak tapi keluarga kedua untuk berkumpul dan mengeluarkan keluh kesah

"Beliin nasi kotak lebihin aja siapa tau ada yang nambah"ucap Pasha memberikan beberapa uang merah pada seseorang di sampingnya

Pria yang menerima pun tersenyum lalu mengajak beberapa orang untuk membantu membawa nasi kotak

Kebersamaan seperti ini yang di cari para anggota yang tak memiliki keluarga lengkap,di saat terjatuh RAKS membantu mereka untuk bisa berdiri dengan kedua kakinya Tampa mengharap balas budi
















sorry kalau part ini sedikit terlalu panjang.

WARNING!!!

TERDAPAT BANYAK TYPO DAN SALAH PENEMPATAN DALAM CERITA

SALAM MANIS BUAT KALIAN●♡

Rakasya {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang