part. 31

577 25 0
                                        

Asya berjalan menghampiri kelas Raka dengan kaki yang meloncat di setiap langkahnya

Plum..

Asya menimbulkan kepalanya di balik pintu dengan badan yang tak kelihatan

Raka melihat seseorang mengintip lun menoleh untuk melihat siapa orang itu

Dan ternyata ia adalah gadisnya dengan kain coklat yang ia pengang

Tampa berfikir panjang Raka pun berjalan keluar untuk menghampiri gadis itu yang terlihat seperti anak hilang

"Kenapa kesini?"tanya Raka mengelus rambut Asya secara perlahan

"Kangen, emang kanu tidak kangen sama saya?"tanya asya mendongak melihat Raka yang jauh lebih tinggi pada hadapannya

"Ga"jawab singkat dati lelaki itu

"Ouh oke"
Merasa tak di inginkan Asya pun berbalik melangkah menuju ruang kelasnya

Tapi belum dua langkah gadis itu pergi dari sana Raka sudah terlebih dahulu menarik tangan Asya dan memeluknya secara erat dan mencium puncak kepalanya

"Ga bisa bohong kalau ga kangen"ucap Raka melepaskan pelukannya itu

Raka menangkup wajah Asya untuk bisa ia lihat secara dekat,pipi yang bulat, alis tebal serta bibir yang menawan membuat lelaki itu sempat kehilangan kesadaran untuk sementara

"Wehh belum halal jangan nyelonong aja!" Ucap Axel melempar sampah minuman kaleng tepat di kepala Raka

Lelaki itu ingin marah tapi dia tak bisa karna ada Asya di sekitarnya andai saja Asya tak ada mungkin saja dia akan menghabisi Axel saat itu juga

"Kepalanya gapapa?"ucap Asya mengelus kepala Raka di mana kaleng itu menciumnya

"Gapapa"balas Raka dan beberapa menit kemudian bel berbunyi

Banyak dari murid berlarian kesana-kemari untuk segera capai ke kelas mereka

"Udah bel Asya pergi dulu, belajar yang rajin yaa. Biar jadi ayah yang baik untuk anak-anak kita" bisik Asya tepat pada telinga Raka

Gadis itu tak tau caranya bertanggung jawab dengan keadaan Raka yang kini di landa oleh perasaan yang sulit untuk di tebak

Dengan santainya dia pergi begitu saja dan melupakan bahwa Raka sedang panas dingin

Sesampainya Asya di kelas dia bisa melihat Rena, Chaca dan Vena sedang duduk diam pada tempatnya

Asya berjalan menghampiri mereka dengan pelan lalu berdiri tepat pada meja Chaca dan Rena

"Maaf ya? Maaf karna Asya berubah tapi itu semua ada alasannya Asya ga pengen kalian keikut dalam masalah yang ada jadi Asya menjauh dengan cara pergi dari kalian dan main sama alm.Michelle"

Deg...

Mereka semua kaget dengan pernyataan Asya saat kalimat terakhir itu terucap

"Sya? Lo gapapa?"tanya Vena berdiri dan mengelus punggung Asya secara perlahan

"Aku gapapa kok udah,cuman sedih aja kalo ingat"

"Dan lo tutupin masalah sebesar ini dari kita? Iya?"tanya Rena berdiri dari tempat duduknya berasal

"Ga gitu Asya cuman takut kalo..."

"Lo takut kalo kita bakal kenapa-napa? Terus gimana sama keadaan lo?!" Ucap Rena kesal

"Udah ihh Asya nya kan udah minta maaf jangan di terusin lagi"ucap Chaca menengahi

"Udah,Sya kalo lo punya masalah atau apapun cerita ya jangan kayak gini kita pasti bisa banyu lo walaupun bukan secara materi"ucap Vena

"Kita sahabat Sya masalah lo masalah kita juga kalo lo ga bisa cerita setidaknya bikin kita percaya kalo lo bisa lewati itu semua"ujar Rena menimpali dan menggenggam jemari Asya

"Kita sahabat"ucap Vena mengandeng lengan Asya yang satunya

Gadis itu merasakan air mata yang akan turun sebentar lagi dari pelupuk matanya karna sikap yang di berikan oleh Rena dan Vena

"Hiks... Makasih"lirih Asya menunduk tak kuat menahan air matanya untuk tidak keluar

"Aa jangan nangis sini peluk Chaca"

Chaca sedikit berlari untuk mencapai tubuh Asya dan memeluknya seketika saat sudah berada di hadapannya

"Aaa sedih kan gue"

Mereka berempat berpelukan layaknya Teletubbies

Asya tak bisa menahan ini semua,mungkin rasa bahagia saja tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya dia hari ini dan memiliki sahabat yang sangat baik seperti mereka

"Aaa jangan erat-erat Chaca mati ga nafas!"ucap Chaca sedikit berteriak karna tubuhnya yang terhimpit oleh ketiga sahabatnya ini

"Lo emang suka merusak suasana ya?"tanya Rena menghapus air matanya

"Gue udah nangis banget padahal"lanjut Vena ikut menghapus air matanya

Asya tersenyum lalu menghapus air mata dari ketiga sahabatnya ini

Mereka semua persis seperti seorang anak yang menangis karna di paksa pulang oleh ibu mereka saat sedang bermain

"Lebay gitu aja nangis"ucap seseorang dati arah belakang

"Ya lo kan ga punya sahabat mana bisa ngerasain"ucap Rena menatap tak suka terhadap gadis dengan mulut yang berkomentar itu

"Assalamualaikum anak-anak maaf ibu telat"ucap Bu Dinda masuk ke dalam kelas

Chaca tak ingin memperpanjang masalah pun menarik Rena unyuk duduk pada tempat awalnya

"Sini duduk Sya"ucap Vena menepuk bangku kosong di sebelahnya

Asya mengangguk lalu ikut duduk pada tempatnya sebelum ada pidato panjang yang keluar dari mulut cantik ibu Dinda tersayang















Sengaja double update haha,btw makasih yaa atas pujian kalian terhadap cerita ini, sayang banget sama kaliannnn

WARNING-!!!

TERDAPAT BANYAK TYPO DAN SALAH PENEMPATAN DALAM CERITA

SALAM MANIS BUAT KALIAN●♡

Rakasya {END}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang