Aruna menyandarkan kepalanya di bahu hadyan sembari menutup mata nya. Hadyan hanya terdiam dengan pandangan ke arah danau yang begitu tenang."Dyan.." panggil aruna membuat hadyan sedikit melirik ke arah aruna.
"Kenapa?."
"Emang gue gak se worth it itu ya buat di pacarin?."
"Iya lo gak worth it." Ucapan hadyan membuat Aruna mengangkat kepala nya dan menatap hadyan bingung.
"Maksud lo?."
"Ya lo gak worth it karena lo bukan barang." Pernyataan hadyan membuat aruna mendengus kesal.
"Bukan itu maksud gue dy—"
"Lo melebihi kata sempurna ar, lo baik, lo cantik, orang yang buang lo itu bakal nyesel di kemudian hari, percaya sama gue. Mereka rela buang berlian demi batu krikil."
"Dengerin gue ar.. jangan pernah mikir kalo lo itu gak pantes buat dapetin cowok yang baik. "
"Gue pantes gak dapetin Malvin?" Pertanyaan aruna seketika membuat dada hadyan begitu sesak, hadyan langsung mengalihkan pandangannya dari aruna.
"Udah mendung, mending gue anter lo pulang ke rumah ayo." Hadyan berdiri dan melepaskan jaket boomber yang dia gunakan lalu ia memberikan nya kepada aruna.
"Ayo biar gue anter pulang."
Aruna dan Bandung
"Jadi lo gak mau dateng ke nikahan kakak lo sama mantan lo?." Kini Raina dan juga Aruna sedang duduk di taman sekolahnya, karena sekarang adalah waktu istirahat.
"Enggak."
"Papa lo telfon lo?."
"Enggak, gue di kirimin pesan."
"Lo seriusan gak dateng ar?."
"Enggak.."
"Rain, tau gak sih.. dari sekian cowok yang nyakitin gue, jerry adalah orang yang paling brengsek. Gue gak nyangka aja sih, padahal awalnya gue kira dia sama Hana itu selingkuh ya kayak mantan mantan gue sebelum nya. Eh ternyata..."
"Udah lah Ar, gak usah lo sesali itu lagi. Nasi udah jadi bubur, jerry ya tetep brengsek dari awal, lo juga sih udah tau dia bad boy masih aja mau pas di tembak."
"Gue nyesel.. "
Aruna dan Raina tidak menyadari jika sedari tadi di balik pohon yang rindang itu ada seseorang yang tengah duduk dan mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Gak akan gue biarin lo rasain sakit lagi ar."
Teeeett...
Jam pelajaran terakhir hari ini sudah usai, dan sudah waktunya untuk pulang sekolah. Seperti biasanya semua orang begitu senang, mereka merencanakan untuk pergi ke mall bahkan pergi untuk mengerjakan tugas bersama. Namun berbeda dengan aruna yang masih duduk di bangku nya dengan tangan yang di silangkan ia jadikan bantal.
Jika ada Hadyan pasti hadyan yang akan menghibur aruna, namun sayangnya hadyan dan juga satria hari ini tidak mengikuti pelajaran terakhir di karenakan kesibukan ekstrakurikuler mereka. Sedangkan raina sudah pulang lebih awal dikarenakan kepala nya yang pusing.

KAMU SEDANG MEMBACA
Aruna dan Bandung✔️
Teen Fiction"Jomblo? Kalo iya, gue boleh daftar?." "Daftar?" "Iya daftar jadi ayah dari anak anak lo nanti."