"Hallo?"
Rubi menerima teleponnya. Renzo menaruh mangkuknya dan pergi keluar kamar Rubi karena tidak ingin mengganggu. Namun tangan Rubi tiba-tiba menahan Renzo untuk pergi, dia meminta Renzo untuk tidak meninggalkannya.
Renzo kembali duduk menunggu Rubi menyelesaikan teleponnya.
"Iya, makasih, Kak. Dahhh," ucap Rubi di akhir sambungannya.
"Mau ke mana? Kan belum selesai ceritanya."
"Gue lupa, nanti lagi aja. Abisin dulu tuh buburnya," suruh Renzo.
Renzo jadi badmood, dia tidak lagi berselera untuk menceritakan kisah masa kecilnya itu. Rubi menyendok buburnya sendiri, Renzo hanya diam memperhatikan.
"Uhukkk ... uhukkk." Rubi tersedak karena makan terlalu cepat. Dengan cepat Renzo mengambil minum yang di bawa bi Siti tadi.
"Pelan pelan dong, lo kalo makan," ujar Renzo khawatir, tapi nada suaranya sedikit tinggi seperti sedang kesal.
Rubi tidak membalas ucapan renzo barusan, dia hanya menatap sayu mata Renzo.
"Makanya suapin lagi," ujar Rubi memelas. Renzo tidak bisa menahannya, hatinya tiba-tiba berdebar melihat wajah Rubi yang memelas dengan wajah manisnya.
Kesal Renzo hilang begitu saja, dia tidak bisa kesal apalagi marah dengan orang yang disayanginya ini.
Renzo mengambil alih mangkuk buburnya, dan menyuapi Rubi kembali. Hening tidak bersuara, suasana tiba-tiba menjadi canggung, sampai akhirnya Rubi menghambiskan satu mangkuk bubur.
Renzo melirik jam yang melingkar di tangan kirinya. Pukul lima petang. "Lo udah selesai kan makannya, gue mau pulang udah sore."
Rubi mengangguk mengerti, Rubi mengantar Renzo menuju ruang tamu.
"Ayah ... Kak Renzo mau pulang," teriak Rubi memanggil ayahnya.
Adam keluar dari ruang kerjanya mengahampiri kami. "Terima kasih ya, Nak Renzo, besok-besok main lagi ke sini temani Rubi."
Rubi membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ucapkan ayahnya barusan.
Ayah nyuruh Renzo main lagi ke sini?
"Baik, Om, nanti Renzo ke sini lagi," jawab Renzo.
"Yah ... Rubi mau ikut Kak Renzo, ya."
Renzo dan Adam mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Ikut ke mana?" tanya Adam.
"Rubi mau ke starlight market, mau beli sesuatu, sekalian perginya."
"Boleh kan, Kak?" tanya Rubi pada Renzo meminta persetujuan.
"Kan kamu masih sakit," ujar Adam menolak halus permintaan anaknya ini.
"Biar gue aja yang ke sana, lo tunggu di rumah," ujar Renzo juga seperti tidak setuju dengan keinginan Rubi.
"Sebentar doang ko, Yah," ucap Rubi memohon.
"Yaudah boleh, tapi sebentar, nanti langsung pulang lagi, oke?"
"Oke, Yah."
"Kak, tunggu sebentar ya, Rubi ambil sweater dulu."
Renzo menunggu Rubi di ruang tamu, dan Adam kembali masuk ke ruang kerjanya.
"Titip Rubi ya, Nak Renzo," ujar Adam sambil menepuk bahu Renzo tegas, dan membalikan badannya berjalan ke ruang kerjanya.
Rubi datang dengan memakai sweater putih kesukaannya, dan celana leging hitam panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
EDELWEIS [END]
Teen FictionKau tahu sulitnya proses mencapai edelweis? Jika itu sulit, lantas mengapa mawar merah di dekatmu tak kau petik? Sama indahnya, bukan? ~~~~ Rubi Jesi Mendeleev, gadis cantik dengan garis takdir yang tak semolek fisiknya merasa kehidupannya terasa t...
![EDELWEIS [END]](https://img.wattpad.com/cover/262074495-64-k616067.jpg)