Part 29 - Serius

2.1K 240 14
                                        


Kiran sangat menyesali kebodohannya. Bukannya bergegas keluar menuju parkiran dan masuk ke mobilnya, ia malah berdiri di balik tembok dekat area cafetaria bandara.

Kan mau menenangkan diri dulu.. batinnya melakukan pembelaan diri.

Pikirannya kembali pada kejadian yang barusan ia lihat. Apa wajar jika seorang laki-laki dan perempuan saling tatap, berpegangan tangan, bahkan sampai berciuman? Apalagi laki-laki itu sudah memiliki kekasih. Kiran belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Marah, kesal, sakit hati, kecewa, namun sebagian dari dirinya bersikeras bahwa Dev tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk padanya

Hei, tapi Dev tetap laki-laki bukan??

Kiran menggelengkan kepalanya pelan, ia baru akan berjalan ke arah pintu keluar ketika ia sadar bahwa kunci mobilnya masih dibawa oleh Hangga.

"Ya elah ada aja sih nih hari.." Kiran menggerutu kesal, di cengkeramnya kuat  tali tasnya - berusaha menyalurkan kekesalannya.

"Permisi.. Kiran kan??" Mendengar suara itu Kiran refleks membalikkan badannya, dan menemukan sosok familier berdiri di hadapannya.

"Kamu..."

"Saya rasa ada sedikit kesalahpahaman. Boleh kita bicara sebentar?"

*

Kiran menunduk diam sambil mengamati cangkir kopi miliknya. Di depannya ada perempuan yang beberapa saat lalu menjadi sumber kemarahan dan kekecewaannya. Ya, perempuan yang bersama Dev itu kini ada di hadapannya, duduk dengan anggun dan entah kenapa terasa begitu mengintimidasi keberadaan Kiran.

Tapi, di sini ia tidak bersalah. Bukankah kekasih Dev itu dirinya? Kenapa justru ia yang merasa kecil hati saat berhadapan dengan perempuan di depannya ini?

Dengan yakin Kiran mengangkat dagunya, meyakinkan diri untuk tidak terintimidasi dengan perempuan yang ia ketahui bernama Audi. Kiran mengernyitkan kening bingung sekaligus tidak suka mendapati Audi terkekeh ketika tatapan mereka saling bertemu.

"Kenapa? Kenapa ketawa? Ada yang lucu?" Kiran langsung menghujani Audi dengan serentet pertanyaan.

"Nggak, nggak ada yang lucu. Ternyata bener kata Dev, pacarnya cantik dan menggemaskan hahaha.." Audi tertawa pelan, kemudian menyesap kopi yang ia pesan dari kafe tempat mereka berada kini.

"Kamu.. sebenernya apa hubungan kamu sama Dev?" Kiran memberanikan diri untuk menyuarakan pertanyaan yang bergelayut di benaknya. Kalau nggak sekarang kapan lagi..

Audi tersenyum kecil mendengar pertanyaan Kiran. Ia menarik nafas panjang sebelum mulai bercerita.

"Aku Audi. Ibu Dev dan ibuku adalah teman lama. Kami kenal secara tidak sengaja, dikenalkan oleh orangtua kami. Dia laki-laki pertama yang mengacuhkanku, sejujurnya itu bikin aku penasaran sama dia. Dan ya, aku menyukainya. Dia tipe yang mudah untuk disukai kan?" Kiran mencelos mendengar penjelasan Audi. Perempuan ini bisa dengan mudah mengatakan suka kepada kekasihnya.

"Dia menarik, keren, ganteng, mapan, sukses, apalagi yang bisa diharapkan oleh wanita dari seorang pria selain poin-poin di atas? Kemudian aku mencari tau segala hal tentang dia, sampai akhirnya aku tau kalau Dev sudah taken. Tentu aja aku kecewa dan beranggapan bahwa setidaknya aku masih punya kesempatan untuk ngedapetin dia. Tapi nggak bisa.." Audi menatap Kiran. Senyum kecil tersungging di sudut bibirnya.

Flashback...

"Kamu laki-laki yang sudah matang secara pemikiran. Aku rasa kamu pasti tau maksud keberadaanku selama ini kan Dev?"

Dev dan Audi tengah berada di kantor Selasar. Saat Dev berpikir keras mencari cara supaya hubungannya dan Kiran membaik, tanpa angin tanpa hujan perempuan itu tiba-tiba datang ke Selasar dan bersikeras untuk bertemu dengannya.

REUNI(TE) - [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang