Part 4 - Tenggelemin Kiran di Rawa-Rawa!

8.8K 768 5
                                        


Kiran menatap kagum ruangan di depannya. Matanya menjelajah objek yang tersaji di hadapannya. Ruangan bernuansa cokelat dengan sentuhan ornamen kayu itu terlihat begitu nyaman di mata Kiran.

Meski begitu, tubuhnya masih berdiri di ambang pintu masuk ruangan Dev. Ada rasa enggan untuk masuk ke dalamnya. Apalagi setelah pengakuan memalukan bahwa Dev telah membaca catatan buku hijau toscanya.
Catatan pribadinya tentang Dev Rajendra!

"Ehemm..."
Dehaman keras itu menyentak Kiran dari lamunan tentang kejadian tadi.

"Mau sampai kapan kamu berdiri di situ? Nggak mau masuk?" Ujar Dev menaikkan sebelah alisnya.

"Nggak mau! Gue maluu!!!" Teriak Kiran, lagi-lagi dalam hati.

Dihelanya napas dalam-dalam sebelum dirinya melangkah masuk ke ruang kerja Dev. Sebisa mungkin ia menghindari tatapan mata Dev. Dirinya malu bukan main akibat insiden buku hijau tosca tadi.

Baru kali ini Kiran sangat menyesali kecerobohannya. Kalau tahu akhirnya buku itu akan dibaca oleh Dev, Kiran pasti akan berpikir ulang untuk menuliskan nama Dev Rajendra dalam catatan pribadinya.

Ditambah lagi ada kata "senderable" yang mendeskripsikan punggung lebar milik Dev.
Huaaa.. tenggelemin aja gue ke rawa-rawa!!

"Silahkan duduk." Dev mempersilakan Kiran untuk duduk di mini sofa warna putih miliknya.

Diamatinya Kiran yang masih melangkah ke arah sofanya.
Masih kuat dalam ingatannya, Kiran Kalandra; adik kelasnya semasa SMA sekaligus adik sepupu Barra Adhyaksa - sahabatnya.
Dari dulu Kiran selalu bersama dengan dua sahabatnya yaitu Athena Syailendra dan Anggia Respati.

Kiran semasa SMA itu.... cantik. Siapapun yang mengenal Kiran tidak akan mungkin berkata tidak cantik ketika melihatnya. Rambut yang kerap diikat ponytail atau cepol satu tinggi menjadi gaya khas Kiran saat itu.

Tapi Kiran yang berdiri di hadapannya kini, tentu masih Kiran yang sama, hanya dalam versi lebih dewasa dan terlihat lebih anggun. Rambut hitam panjang bergelombangnya sekarang lebih kerap diurai. Dan kalau boleh jujur, Kiran terlihat sangat cantik dengan rambut yang ia urai.

"Jadi... kedatangan kamu ke Selasar hari ini karena mau ambil buku hijau tosca ini?"

Kiran mengangguk pelan kemudian mendongakkan kepalanya. Ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya untuk menatap Dev.

"Iya. Dan soal catatan tentang Kak Dev itu.... maaf kak, aku nggak maksud apa-apa. Itu cuma.. yaahhh, ide penulis yang tiba-tiba muncul pas Kak Dev lewat di depan aku kemarin."
Penjelasan Kiran yang semakin lama semakin lirih menyisakan hening cukup lama di antara keduanya.

Barulah kemudian Dev mengambil alih pembicaraan, berusaha mencairkan suasana canggung yang tercipta di antara keduanya.
Bagaimana tidak canggung, dia dan Kiran memang tidak begitu akrab. Hanya sekadar kenal, mengobrol seperlunya. Itu pun ketika Barra tengah bersama mereka.

"Haha.. okeoke. Saya nggak tega liat tampang kamu yang kayak habis ketemu setan gitu. Ini....." Dev mengulurkan buku hijau tosca milik Kiran yang disambut pekikan bahagia dari si empunya buku.

"Liat buku ini aja kamu bahagia.."

"Bahagia lah kak. Ini buku penting banget buat aku. Nyawa aku nih.." kata Kiran, tidak sadar memeluk erat buku itu.

"Jadi... bikin kamu bahagia tuh sesederhana itu ya?" Gumam Dev menerawang.

"Apa kak?" Kiran menoleh ke arah Dev, gumamannya tadi ternyata tak mampu terdengar jelas di telinga Kiran.

"Oh nggak apa-apa.."

Tepat setelahnya pintu ruang kerja Dev diketuk dari luar dan memunculkan Thomas - another barista from Selasar - di ambang pintunya.

"Sorry ganggu bos. Bisa ngomong sebentar nggak?"

Mendengar nada bicara Thomas dan gelagatnya yang gelisah membuat Kiran yakin bahwa ada hal urgent yang harus dibicarakan dengan Dev. Kiran pun memutuskan untuk pamit dari Selasar.

"Emmm.. saya permisi dulu kak kalau gitu. Lagian ini udah ketemu bukunya. Makasih ya kak Dev."

"Oh oke Kiran. Hati-hati.."

"Maaf ya mbak Kiran. Malah mbaknya jadi pergi.." ujar Thomas menyesal.

"Ah nggak apa-apa. Saya duluan ya Thom. Yuk kak.."

Pandangan Dev masih mengikuti Kiran sampai belokan menuju tangga penghubung ke lantai dasar Selasar.

"Ati-ati bos matanya copot tuh.. hahaha"

Dev melirik baristanya tajam, kemudian menanyakan maksud dan tujuan Thomas tadi.

"Jadi ada perlu apa? Atau ada masalah?"

"Maaf sebelumnya bos. Saya boleh nggak minta izin kerja hari ini? Saya dapet kabar adik saya masuk rumah sakit. Saya harus nemenin ibu saya bos.."

"Kalau masalah keluarga, saya angkat tangan. Itu urusan pribadi kamu. Saya izinin kamu libur hari ini. Semoga adik kamu cepet sembuh. Salam buat keluarga ya.."

"Amin bos. Nanti saya salamin. Makasih banyak ya bos. Permisi.."

Dev menghela napasnya. Mendengar kekhawatiran Thomas tentang keluarganya membuat Dev sedikit terenyuh. Tiba-tiba saja ia merindukan ayah, ibu, dan adik perempuannya. Tiba-tiba saja Dev merasa ingin pulang.

*

16.44 - Rumah Gia

"Tuh kan bener kata gue. Buku ijo elo ketinggalan di Selasar.." ucap Athena begitu mendengar cerita penemuan bukunya versi Kiran.

Sepulang dari Selasar tadi Kiran langsung menjalankan mobil Honda Jazz merahnya menuju rumah Gia. Baru kemudian sekitar pukul 15.00, Athena menyusul keduanya setelah jam mengajarnya selesai.

"Jadi, buku ijo elo ketinggalan di Selasar. Terus ditemuin sama Hangga. Terus sama Hangga dikasihin Bang Dev gitu?" Gia menimpali cerita Kiran.

Kiran mengangguk ragu, tangannya menggaruk tengkuk lehernya.
Tidak mungkin dia menceritakan versi lengkap bahwa di dalam bukunya tertulis nama Dev Rajendra dan punggungnya yang senderable, atau bahwa Dev membaca seluruh isi buku hijau toscanya yang penuh rahasia.
Demi Tuhan, bahkan Gia dan Athena saja tidak tahu apa isi buku itu. Hanya Kiran dan Tuhan, dan kini ditambah Dev yang tahu.

"Berarti elo tadi ketemu Bang Dev dong? Si babang ganteng? Penggoda iman wanita itu? Omaigat... menang banyak elo Ran. Curang!"

"Omongan elo ya. Penggoda iman segala. Tobat Gi. Cari cowok sana, biar kagak kebanyakan ngayal sama Bang Dev.." cetus Athena kesal.

"Udah deh. Yang penting buku gue ketemu. Pokoknya gue janji bakalan selalu jagain buku hijau tosca gue ini."

"Jangan kebanyakan janji. Butuhnya bukti.." sambar Gia yang diikuti tawa kemenangan darinya dan Athena.

"Jangan ngomongin bukti. Entar si Kalandra keinget sama mantan gebetannya. Eh salah mantan HTS-an nya.." si Athena minta diulek ya!! Geram Kiran dalam hati.

"Eh tapi kan bentar lagi mau ketemu. Kan mau ada reunian. CLBK lagi dong. Cieeee.." goda Gia makin menjadi.

"CLBK apaan, dikasih kepastian aja kagak. Mati aja tuh si Tantra! Hahaha.." sambar Athena telak.

Sedangkan Kiran berusaha meredam emosinya yang sedikit lagi seperti mau meledak.

"GIA, ATHENA! AWAS ELO BERDUA!!!"

Sial.. ujung-ujungnya gue lagi yang kena! Arrggghhhh!!!!
Tantra, ke laut aja sono lu!!

TBC....

Part 4 udah kupublish. Agak singkat sih kalau dibanding part-part sebelumnya. Nggak papa deh, nikmati saja.

Jangan lupa vote and comment ya.
Thanks for reading

REUNI(TE) - [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang