Part 22 - Flashback

4.5K 353 17
                                        


Catatan Jakarta, tahun 2009 ..

Kiran Kalandra berdiri termangu menatap mading sekolahnya. Ini adalah tahun ketiganya bersekolah di SMA Cita Bangsa. Status menjadi siswa kelas tiga nyatanya tidak begitu mempengaruhi kehidupan sekolah Kiran. Ia tetap menjadi Kiran yang biasanya.

Rambut panjangnya yang berwarna hitam hanya di kuncir kuda, menyisakan poni di bagian depan, dan beberapa helai rambut yang keluar dari ikatan rambutnya. Nyatanya, model rambut Kiran itu terlihat begitu pas baginya. Wajahnya hanya dipoles bedak bayi. Bahkan parfum yang ia gunakan juga parfum dengan aroma lelaki - hampir sama dengan aroma parfum milik kakak sepupunya, Barra Adhyaksa.
Ah mengingat kakak sepupunya itu, Barra kini bahkan sudah melanjutkan kuliahnya ke luar negeri, membuat Kiran serasa benar-benar kehilangan salah seorang kakak laki-lakinya.

Kembali ke mading. Kiran masih diam di tempatnya, keningnya sesekali berkerut. Ia tentu sudah selesai membaca pengumuman yang tertempel di mading sekolahnya itu. Namun anehnya, dia seolah masih betah membaca deretan kata yang tertulis di sana.

Pekikan heboh di sampingnya membuat kesadaran Kiran kembali. Ia menoleh ke samping kirinya dan menemukan beberapa adik kelas yang memekik heboh setelah membaca mading.

Pasti baca pengumuman ini juga.. batin Kiran.

"Wah, ada lagi turnamen basket. Gue seneng deh.." ucap salah satu perempuan yang mengenakan jepit rambut berwarna merah muda.

"Iya. Duh lumayan kan cuci mata. Pemain-pemainnya pasti cakep-cakep. Anak basket kan terkenal cakep.." timpal perempuan satunya yang rambutnya terurai tanpa menggunakan hiasan rambut apapun.
Kiran yang mendengar komentar ini hanya mendengus geli.

"Eh tapi gue pengen deh ngelihat tim sekolah kita!" Ujar perempuan yang satunya - rambutnya dipotong pendek model bob.

"Ah sama! Gue juga! Apalagi kan ada..."

"Kak Tantra!!" Pekik mereka bersamaan.

Kiran tidak dapat menahan dengusannya. Bocah-bocah ini benar-benar...

"Eheemmm.." Kiran berdeham cukup keras, membuat perhatian adik kelasnya itu teralih padanya.

Kiran dapat melihat mata mereka membola, serta raut terkejut begitu mereka menatap Kiran.

"Kak Ki-ran.." lirih salah satu adik kelas yang menggunakan jepit rambut berwarna merah muda.

"Hai adik kelasku yang budiman.. caaahh, jadi tadi siapa aja yang ngomongin kak Tantra? Mau titip salam buat dia nggak??"

"Huuuaaaaa kak... jangan diaduin dong. Kan kita maluu.."

"Iya nih kak.."

"Jangan ya kak..."

"Pleaseee..."

Kiran menatap satu persatu wajah adik kelasnya yang memasang tampang melas itu. Barulah kemudian tawanya pecah begitu saja, membuat perempuan-perempuan di depannya itu memasang wajah cengonya.

"Hahahahaha... kalian ini kenapa sih? Tenang aja, gue nggak bakal ngomong apa-apa ke Tantra. Hahaha.. lagian nih ya kakak kasih tau. Kalian masih kelas sepuluh kan? Kalau kalian mau bisa deket sama kak Tantra, kalian harus rajin-rajin belajar, jangan kelayapan mulu, yang rajin ke sekolahnya, soalnya kak Tantra itu sukanya sama cewek yang pinter dan baik hati. Paham semu...."

"Eheeemmm.." kali ini dehaman keras itu bukan berasal dari Kiran. Dehaman itu berasal dari sosok laki-laki di belakang Kiran yang sedari tadi sudah mendengarkan ceramahan panjang dari gadis itu.

REUNI(TE) - [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang