Part 28 - Masih Mencari

1.8K 220 15
                                        

"Kak Kiran.."

Suara itu membuat Kiran dan Hangga menoleh. Irene berdiri di samping meja mereka sembari menatap keduanya bingung.

"Hai Ren, tumben udah nongol di Selasar jam segini. Ada perlu apa nih?" Bukan, bukan Kiran yang bersuara. Hangga berinisiatif membuka suara, memberikan cukup waktu kepada Kiran untuk mengembalikan kesadarannya.

Irene mendengus kecil mendengar sahutan Hangga, namun tak urung tersenyum menatap salah satu pegawai kepercayaan kakaknya itu.

"Dih, padahal yang Irene panggil tuh Kak Kiran bukan kamu Ngga.."

Masih dengan senyum di wajahnya, Irene mengambil posisi di sebelah Kiran. Di peluknya calon kakak iparnya itu dari samping. Calon kakak ipar... bolehkan ia memanggil Kiran dengan sebutan itu?

"Kakaaakk.. Irene kangen tauk. Kakak udah berapa hari coba ngga muncul di Selasar. Tiap Irene ke Selasar adanya cuma wajah cemberutnya bang Dev doang.." Irene merajuk, tanpa sadar mengerucutkan bibirnya yang membuat Kiran dan Hangga tertawa gemas.

"Maaf ya, kakak akhir-akhir ini lagi banyak kerjaan. Makanya jadi jarang ke Selasar deh.." Kiran berusaha mencari alasan supaya Irene tidak curiga bahwa dirinya dan sang kakak tengah ada masalah.

"Bohong banget. Bilang aja kakak lagi berantem sama bang Dev. Iya kan?!" ucap Irene sekali lagi, dengan nada yang dibuat segalak mungkin.

"Ngga usah pake melotot segala elah Ren. Lagian ngapain sepagi ini ke Selasar? Si bos kaga ada di sini.." Hangga mengulang pertanyaannya yang belum dijawab oleh Irene. Irene kembali mendengus mendengar pertanyaan Hangga. Dibukanya tote bag warna putih miliknya, kemudian ia mengeluarkan map plastik berwarna biru muda yang berisi beberapa berkas.

"Justru gue ke sini karena bang Dev yang minta tolong buat anterin berkas ini ke Selasar. Katanya dia lagi ada urusan sebentar.. eumm nganterin temennya ke bandara gitu," ujar Irene sambil lalu. Diulurkannya map itu ke arah Hangga.

"Tolong taruh kantor abang ya kak Hangga yang baik hati hehe.."

Nganterin temennya ke bandara.. temen yang mana lagi. Apa wanita itu sekarang sudah jadi teman Dev?

Pikiran Kiran berkelana ke mana-mana. Salahkah kalau ia cemburu terhadap sesuatu yang bahkan belum jelas kebenarannya??

Hangga menatap Kiran lekat untuk beberapa saat, sebelum akhirnya berdiri tiba-tiba sambil memukul pelan meja di hadapannya.

"Mana kunci mobil lo?" Ia melepas appron hitam miliknya, kemudian mengulurkan tangan ke arah Kiran.

"Ngga.. lo mau ngapain?" Kiran membulatkan matanya, menatap laki-laki di depannya dengan raut terkejut.

"Kalau bukan sekarang kapan lagi Ran. Sekalian aja biar semuanya clear. Lo ngga bisa kucing-kucingan terus, apalagi sampe bikin asumsi yang aneh-aneh. Kita selesaiin sekarang. Lo dan lo juga Ran, kita ke bandara. Sekarang."

*

"Hah? Tunggu-tunggu, jadi abang sama kak Kiran berantem karena ni cewek yang namanya Audi gitu?"

"Ya kira-kira begitulah.." timpal Hangga sabar. Sudah 15 menit mereka berada di mobil menuju bandara, dengan Irene yang super kepo dan Hangga yang mendadak jadi juru bicara Kiran.

"Sebenernya.. kita ngga berantem Ran. Serius deh, kita cuma salah paham dikit. Biasalah" setelah kebungkamannya, Kiran akhirnya ikut nimbrung obrolan Hangga dan Irene.

"Terus soal Audi??" Irene masih kekeuh dengan rasa penasarannya.

Kiran mengedikkan bahunya, "Kalau itu kakak juga ngga tau. Audi itu aku cuma tau kalau dia salah satu kenalan Dev, yang kebetulan sapu tangannya ketinggalan di Selasar dan Dev yang nemuin. Itu juga kakak taunya dari Hangga.."

"Huhh! Tenang aja kak, walau gimanapun kondisinya aku tetep ada di pihak kakak.." Irene menolehkan kepalanya ke arah Kiran yang duduk di kursi belakang.

Hangga yang masih fokus menyetir sesekali mengamati Kiran dari kaca spion tengah. Gadis itu sudah ia anggap seperti saudarinya sendiri. Ia hanya berharap semua ini hanya kesalahpahaman kecil yang dapat segera terselesaikan. Hangga kemudian memacu mobil lebih cepat. Ia tidak sabar sampai ke bandara dan menemukan sang bos. Satu pukulan kecil untuk bos tercinta rasanya tidak akan menjadi masalah.

*

Setelah bergelut dengan kepadatan jalan raya, akhirnya mereka sampai di bandara.

"Gue parkirin mobil, kalian coba cari Dev duli ntr gue nyusul. Jangan takut Ran, coba jadi berani dan percaya sama diri lo sendiri.."

Kiran tersenyum kecil kemudian mengangguk yakin sebelum akhirnya bergegas masuk ke area bandara bersama Irene.

"Kita cari di area keberangkatan dalam negeri dulu aja ya kak.." usulan Irene itu langsung diangguki oleh Kiran.

Keduanya langsung berlari menuju area keberangkatan dalam negeri, mencari keberadaan Dev. Namun bagai mencari jarum di tumpukan jerami, hari itu Dev sama sekali tidak terlihat di sudut manapun. Hal itu membuat Kiran kesal tanpa sebab.

"Dia ke mana sih Ren. Kesel banget.." Kiran menghentakkan kaki kesal. Badan, pikiran dan perasaannya - semuanya tidak baik-baik saja.

Dan saat itulah di samping pilar ke-2 dari tempatnya berdiri, ia melihat sosok familiar yang sangat dikenalinya. Dev berdiri di sana, berhadapan dengan perempuan - yang dengan sekali lihat saja Kiran yakin berparas cantik. Perempuan itu masih muda, mungkin seumuran dengannya atau malah lebih muda lagi. Rambutnya tergerai, dengan jepit rambut kecil terpasang di sisi kiri rambutnya. Tangan perempuan itu memegang tangan Deb, kemudian naik dan mengelus pelan lengannya.

"D-Dev..." lirih Kiran, membuat Irene membalikkan badan dan mendapati sang kakak berpegangan tangan dengan seorang perempuan muda.

Irene melotot tidak percaya, sampai akhirnya perempuan itu maju perlahan dan mengecup pipi kakaknya.

"Sialan!" suara Hangga yang entah dari mana tiba-tiba sudah berada di sampingnya membuat Kiran tersentak.

Kekasihnya, berciuman dengan perempuan lain.. Tidak - kekasihnya dicium oleh perempuan lain, dan Dev terlihat tidak menolak atau menunjukkan ketidaksukannya sama sekali. Dengan langkah gontai ia mundur dan perlahan meninggalkan area bandara.

Kiran tidak memperdulikan pekikan geram Hangga yang meneriakkan nama kekasihnya. Ia hanya ingin pergi dari situ. Ia hanya ingin pergi dan menghilang.

Apakah setelah jatuh dan berhasil bangkit, ia harus kembali jatuh sekali lagi? Apa cinta mempermainkan kehidupannya sejahat itu? Apakah cinta memang tidak pernah berpihak pada dirinya? Haruskah ia menyerah - lagi?

****

Akhirnya update lagi, seneng banget! Karena ini menjelang part-part akhir dan ide-ide di kepalaku tiba-tiba muncul dengan lancar, maka aku putusin untuk sesegera mungkin menyelesaikan cerita aku ini.
Doain semoga dalam dua minggu ke depan ceritanya udah bisa tamat ya!

Sekali lagi nih, kalian tim Happy Ending atau Sad Ending??? Coba kasih komentar kalian di sini ya..

Salam hangat dari DevRan Couple yang sedang dilanda krisis kepercayaan (tapi tenang aja, di part berikutnya ntar kebongkar semuanya ahahahaha)

Jangan lupa buat kasih bintang dan tinggalin komen juga di part ini ya.

Sampai jumpa, secepatnya. Annyeong ...

REUNI(TE) - [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang