Sudah hampir seminggu semenjak sidang dadakan yang dilakukan Barra dan Dewa kepada Kiran, dan selama seminggu itu pula Barra terus menginap di rumah Kiran. Sebelumnya Barra memang telah meminta izin pada orang tua Kiran bahwa dirinya akan menginap di rumah Kiran, yang tentu saja disambut antusias oleh ayah dan ibu Kiran.
"Walah kamu ini lho Bar pakai acara minta izin segala. Kaya sama siapa aja.." Ibu Kiran yang tengah mencuci piring menoleh sekilas pada Barra yang berdiri di samping pintu kulkas. Sedetik kemudian ayah Kiran menimpali perkataan istrinya.
"Nginep tinggal nginep Bar. Kamar kamu masih terawat sampai sekarang kok.."
Sebuah senyum lantas tersungging di bibir Barra. Dirinya kemudian melirik Kiran yang tengah duduk di salah satu kursi di ruang makan. Kiran dapat menangkap kilatan jahil di mata kakak sepupunya itu - membuat dirinya tak mampu menahan dengusan sebal.
"Tumben amat sih mas Barra nginep di rumah?" Tanya Kiran masih menahan kesal.
Pasti ini akal-akalannya mas Barra biar bisa dapet informasi soal kak Dev. Dasar cowok!
"Yee.. dasar kamu dek. Bagus dong kalau Barra nginep sini. Mas jadi ada temennya.." timpal Dewa antusias.
"Yayaya.. terserah deh. Kiran ke kamar dulu ya.."
Setelah itu Kiran langsung menuju kamarnya, berusaha melupakan kekesalannya pada kakak-kakak tercintanya.
*
From : Dev Rajendra (14.21)
Saya hari ini cuma setengah hari di Selasar lho..
Kiran mengerutkan keningnya samar seolah tengah berpikir setelah membaca chat yang dikirim Dev padanya. Meski begitu senyum manis masih terpampang di bibirnya. Akhir-akhir ini mereka memang lebih intens berkomunikasi. Meski, yaa.... hanya sebatas chat atau telepon sesekali. Apalagi seminggu ini Kiran tidak berminat pergi ke Selasar. Selain karena ingin lebih fokus menulis cerita barunya, Kiran juga menggunakan waktunya untuk menghindari Barra dan pertanyaan-pertanyaan yang kadang masih menerornya. Cara paling ampuh ya mengunci diri di dalam kamar, pergi mengunjungi Athena atau melarikan diri ke tempat Gia. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, mau Kiran pergi ke Selasar atau ke tempat lainnya, pastinya Barra juga nggak akan tahu.
Kiran bahkan masih mengingat perkataan Dev di sambungan telepon tempo hari, ketika dirinya tak kunjung menampakkan diri di Selasar seperti biasanya.
"Jadi kamu nggak dateng ke Selasar gara-gara Barra nginep di rumah?"
Kiran menghela napasnya pelan,
"Ya begitulah kira-kira.."
"And then? Memangnya Barra stay 24 jam di dalem rumah? Dia masih punya tanggung jawab di restaurant kalau saya nggak salah ingat. Saya juga yakin kalau saat ini dia nggak ada di rumah.."
"Eh.. iya ya. Kok nggak kepikiran ya? Hmmm.." ucap Kiran jujur. Tangannya mengetuk-ngetuk kepalanya pelan seolah menyesali kebodohannya.
Kiran menggelengkan kepalanya pelan, mengusir ingatan mengenai percakapannya dengan Dev. Ia lantas mengetikkan balasan untuk Dev.
To : Dev Rajendra (14.25)
Kok cuma setengah hari?
1 menit kemudian...
From : Dev Rajendra (14.26)
Ada urusan sm ibu saya. Beliau minta ditemenin ke tempat temennya..
To : Dev Rajendra (14.27)
Lah nggak sama Irene?
From : Dev Rajendra (14.27)
Irene ada kelas sore. Makanya nggak bisa nemenin..
To : Dev Rajendra (14.28)
Oh gitu.. okeokee
KAMU SEDANG MEMBACA
REUNI(TE) - [Completed]
Chick-LitBagi Kiran Kalandra, seorang Tantra Airlangga hanya masa lalu yang tidak boleh mengusik perasaan yang sudah mati-matian ia tata. Namun semua berubah saat undangan reuni SMA warna merah marun sampai di tangannya - membuat Kiran sekali lagi harus ber...
![REUNI(TE) - [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/136048247-64-k619189.jpg)